
Tujuh hari kemudian
Hari ini di rumah orang tua Nisa akan mengadakan aqiqah sekaligus syukuran pemberian nama untuk anak dari pasangan Nisa dan Alvin yang baru lahir beberapa hari yang lalu.
Bu Siti dan Bu Hilya di bantu oleh pihak catering menyiapkan makanan untuk di bagikan ke tetangga, saudara, dan tamu yang nanti akan datang. ada lebih dari 200 bungkus makanan yang sudah di siapkan. tinggal dibagi-bagi ke tetangga dan anak jalanan. sedangkan untuk tamu undangan dan saudara, ada bungkusan beda lagi yang sudah mereka siapkan.
"Mah, sudah siap semua?" tanya Pak Ahmad yang kini menghampiri Istrinya yang sedang menghitung bungkusan makanan yang sudah di siapkan.
"Sudah Pah, ini tinggal di bagikan saja," jawab Bu Siti
"Biar Papah saja sama Alvin yang membagikannya Ma," ucap Pak Ahmad
"Baik Pah," jawab Bu Siti
Alvin juga sudah bersiap untuk pergi. dia membantu Pak Ahmad untuk membawa bungkusan makanan dan menaruhnya di bagasi mobil. keduanya langsung pergi untuk membagikan bungkusan makanan itu.
Setelah cukup lama mengemudikan mobilnya di keramaian, akhirnya Alvin dan Pak Ahmad sudah selesai membagikan makanan itu. mereka langsung pulang karena sudah cukup lelah dan butuh istirahat.
Alvin menghampiri Nisa yang ada di kamar. dia merebahkan diri di sebelah anaknya.
"Mas capek yah?"
"Iya sayang," jawab Alvin yang kini sedang memeluk anaknya.
"Mas mau kasih nama siapa untuk debay?"
"Oh iya, Mas lupa memberitahu kamu. nanti Mas kasih nama Fahril Hamzah Firdaus. itu juga kalau kamu setuju. tadinya Mas mau kasih nama yang kerenan dikit kayak nama artis, tapi pasti orang tua kamu tidak setuju."
"Iya Mas, Fahril saja sudah bagus kok, apalagi ada kata Firdaus yang berarti nama surga."
"Iya sayang, syukurlah kalau kamu suka.
oh iya, Mas mau tidur dulu yah," Alvin langsung memejamkan matanya.
Nisa tersenyum melihat suaminya yang sedang memeluk anaknya. terlihat sekali jika Alvin begitu menyayangi anaknya.
°°°
Malam harinya di kediaman Pak Ahmad sudah ramai dengan tamu undangan yang datang. tepatnya pukul 19.30 WIB acara doa bersama baru di mulai. Nisa dan Alvin merasa senang karena banyak yang hadir. bahkan masih banyak beberapa orang yang tidak undang namun turut hadir juga.
Alvin mendorong kursi roda yang di duduki oleh Istrinya menuju ke kamar. karena terdengar tangisan anak mereka. setelah mengantarkan Istrinya, Alvin kembali melanjutkan doa bersama. setelah doa bersama di lanjutkan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Melda dan Iqbal memilih pergi ke kamar Nisa untuk melihat Baby Fahril.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Melda dari balik pintu.
Bu Hilya membukakan pintu kamar itu.
"Eh ada Nak Melda, silahkan masuk!" ucap Bu Hilya
"Terima kasih Tan," kata Melda
"Sama-sama," jawab Bu Hilya
Melda dan Iqbal langsung masuk ke dalam kamar. Melda duduk di pinggir ranjang. tepatnya di sebelah Baby Fahril. sedangkan Iqbal berdiri di samping Istrinya. untung saja Nisa menutupi dadanya karena saat ini Fahril sedang menyusu. jadi Iqbal tidak melihatnya.
"Tampan sekali Nis anaknya, aku jadi ingin cepat-cepat hamil nih," ucap Melda
"Nanti juga hamil kok Mel, teruslah berdoa dan berusaha," ucap Nisa
"Aku berusaha kok tiap hari," ucap Melda yang memang suka ceplas-ceplos.
Iqbal menepuk-nepuk bahu Istrinya.
"Ada apa sih Mas?" tanya Melda yang kini sudah menatap suaminya.
"Kalau bicara itu di rem," ucap Iqbal
"Tidak apa-apa Kak, Melda memang seperti itu orangnya. justru karena sifatnya yang seperti itu membuatnya tidak bisa berbohong." ucap Nisa
"Maaf Mas," ucap Melda
"Mas maafin kok, lain kali hati-hati yah sayang kalau bicara," pinta Iqbal
Hanya sebentar Melda dan Iqbal berada disana. karena kebetulan Baby Fahril sudah tidur dan takutnya mereka mengganggu ketenangannya. Bu Hilya juga ikut mereka keluar kamar karena tidak enak sama tamu jika dia di kamar terus. ya, walaupun itu untuk menjaga cucunya.
°°°
Dua bulan kemudian, Nisa dan Alvin pindahan ke rumah orang tua Alvin. mereka akan menetap disana untuk selamanya. karena memang Pak Alex ingin jika anak dan cucunya kembali tinggal disana.
Bu Hilya sangat menyayangi Nisa dan cucunya. sekarang Bu Hilya tidak memperbolehkan Nisa menginjakan kakinya ke dapur sedetikpun. karena Bu Hilya tidak mau Nisa sibuk memasak untuk mereka. cukup menjaga Fahril dengan baik.
Bu Hilya juga sudah mencari pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Nisa keluar dari kamarnya karena merasa bosan. kebetulan Fahril sudah tertidur. Nisa menghampiri Bi Marni yang merupakan Asisten rumah tangganya.
"Bi, Nisa bantuin yah," ucap Nisa menawarkan diri.
__ADS_1
"Tidak usah Non, biar bibi saja. lagian Nyonya juga melarangnya."
"Tapi Bi--" ucapan Nisa terhenti saat dia mendengar suara suaminya.
"Ada apa ini?" tanya Alvin sambil melangkah menghampiri Istrinya.
"Ini Mas, Nisa bosan kalau tidak ngapa-ngapain. jadi Nisa mau membantu Bibi masak tapi tidak di bolehkan."
"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan perintah Nyonya," jawab Bi Marni
"Nanti Mas bantu bicara deh sama Mamah. tapi sekarang kamu bantuin Mas saja jangan bantuin Bibi."
"Bantuin apa?"
"Ikut saja!" Alvin menggandeng tangan Istrinya menuju ke kamar.
Alvin menaruh tas kerjanya di atas sofa. lalu dia mulai melepas jas yang dia pakai.
"Biar Nisa bantuin," Nisa mendekatkan diri kepada suaminya lalu membantunya untuk melepas kemeja yang di pakai oleh suaminya.
Alvin mencari kesempatan dengan mencium singkat bibir Istrinya.
"Mas Alvin apaan sih?"
"Mas mau itu sayang," ucap Alvin
"Nanti malam Mas," ucap Nisa
"Nanti kalau Fahril rewel dan mengganggu kita bagaimana? seperti malam-malam sebelumnya loh," ucap Alvin
"Mas Alvin tenang saja, nanti Nisa menyuruh Mamah untuk menemani Fahril tidur.
"Makasih sayang," Alvin memeluk Istrinya.
"Sama-sama Mas," jawab Nisa
Kini Alvin sudah melepaskan pelukannya. dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. sedangkan Nisa menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh suaminya.
Tamat
Mohon maaf novel ini di tamatkan sampai disini. mohon jangan kecewa. yuk lanjut baca novel saya yang lain.
Ini judulnya\=\=>>>>>
__ADS_1
Playboy tampan idaman
Hanya Istri siri