
Akhirnya pengajuan resign yang Nisa ajukan sudah di acc oleh atasannya. pagi ini dia yang baru berangkat langsung di panggil oleh atasannya. Nisa senang dan sedih juga. dia senang karena ada waktu istirahat lebih banyak sehingga dia tidak akan kelelahan. mungkin dia juga akan mengikuti program hamil. namun sedihnya karena dia sudah tidak bekerja lagi karena jujur saja bekerja di perusahaan adalah salah satu keinginannya sejak dulu. apalagi jika rekan kerjanya itu Melda yang merupakan sahabatnya sendiri.
Setelah keluar dari ruangan atasannya, Nisa langsung berpamitan dengan teman kerjanya.
"Nis, aku pasti akan rindu sekali sama kamu," ucap Melda yang kini sedang memeluk Nisa.
"Kamu bisa main ke rumah mertuaku kalau kamu rindu," kata Nisa kepada sahabatnya.
"Jangan lupa kita tetap kontekan yah Nis, kamu harus ngabarin aku setiap hari," ucap Melda
"Astaga Melda, kamu kok kayak ngomong ke suami saja," ucap Nisa sambil melepas pelukan mereka.
"Nyindir ih, aku belum nikah loh. lagi nungguin Kak Iqbal nih, siapa tahu dia mau sama aku." ucap Melda
"Kamu masih mengagumi Kak Iqbal?"
"Ya begitulah," jawab Melda
"Nanti deh aku coba bicara sama Papah, siapa tahu Papahku bisa bantuin kamu biar dekat dengan Kak Iqbal," ucap Nisa
"Wah makasih Nis, makin cinta deh," Melda mencium kedua pipi Nisa.
"Astaga Mel, aku masih waras tahu," Nisa menjauhkan wajahnya dari Melda.
"Hehe maaf," Melda hanya tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Setelah berpamitan dengan Melda dan teman kerja lainnya, Nisa segera pulang. karena kebetulan Bosnya tidak memberikan dia kerjaan di hari terakhirnya.
Kebetulan Nisa menaiki taxi untuk pulang ke rumahnya. saat ini taxi yang dia naiki sudah sampai di depan rumah. Nisa segera keluar dari dalam taxi setelah dia membayarnya. Nisa berjalan menuju pintu masuk. saat ini dia sudah berada disana dan segera mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok tok
Nisa mengetuk pintu itu namun tidak ada sahutan dari dalam.
Tumben rumah sepi, padahal sekarang masih pagi." batin Nisa
Tring
Nisa mendengar ponsel miliknya berbunyi. dia segera mengambil ponsel miliknya yang dia taruh di dalam tas. ternyata itu panggilan masuk dari suaminya. Nisa segera mengangkat panggilan telfon itu.
📞"Hallo, Assalamu'alaikum," ucap Nisa
📞"Waalaikum'salam, sayang ini Mas lagi di rumah sakit," kata Alvin dari balik telfon.
📞"Kamu kenapa Mas? terus di rumah sakit mana?" tanya Nisa yang merasa khawatir.
📞"Bukan Mas yang sakit tapi Papah," ucap Alvin
ke sana yah Mas, tapi di rumah sakit mana yah?"
📞"Rumah sakit harapan Mulia," jawab Alvin
Saat ini Nisa dan Alvin sudah selesai bertelfonan. Nisa segera memesan taxi online. karena taxi yang tadi mengantarnya sudah pergi. setelah taxi yang dia pesan datang, Nisa segera masuk ke dalam taxi.
Nisa sudah sampai di rumah sakit. dia menelfon suaminya dan bertanya ruangan ayah mertuanya. namun Alvin tidak mengatakannya. dia sendiri yang akan menemui Nisa dan mengajaknya masuk.
Nisa melihat suaminya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Mas, bagaimana keadaan Papah?" tanya Nisa
__ADS_1
"Kamu bisa lihat sendiri sayang,ayo kita masuk!" Alvin menggandeng tangan Istrinya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di depan ruang inap yang di tempati oleh Pak Alex.
Cklek
Alvin membuka pintu ruangan itu. dia mengajak Nisa masuk ke dalam. Nisa mengikuti suaminya masuk ke dalam dan langsung mendekati ranjang tempat Pak Akex berbaring.
"Pah, bagaimana keadaan Papah?" tanya Nisa yang kini berdiri di samping ranjang Pak Alex.
"Papah tidak apa-apa kok Nak," jawab Pak Alex yang memang tidak mau jika menantunya itu banyak fikiran.
"Al, kasihan tuh lihat Papah kamu, harusnya kamu sudah kasih cucu biar ada yang menghiburnya di saat sakit seperti ini," ucap Bu Hilya yang sedang duduk di sofa.
Nisa sudah menundukan pandangannya. dia merasa terpojok jika sudah membahas masalah cucu.
"Nisa usahakan yah Pah, secepatnya pasti akan kasih cucu kok," kata Nisa sambil tersenyum menatap mertuanya.
"Mamah kasih waktu satu bulan, jika dalam waktu satu bulan ini kamu tidak hamil juga maka Mamah akan meminta Alvin menikahi Anita." ucap Bu Hilya memberikan syarat kepada Nisa.
"Mah, tapi Alvin tidak mau menikah lagi!" ucap Alvin yang kini sudah menatap Ibunya yang sedang duduk.
"Mah, jangan bicara yang aneh-aneh, kasihan Nisa." ucap Pak Alex kepada Istrinya.
"Sudahlah, Papah fikirkan saja ke sembuhan Papah, jangan fikirkan yang lain!" ucap Bu Hilya
Sedangkan Alvin dan Nisa diam sambil bergelut dengan fikirannya masing-masing.
kali ini masalah serius jadi mereka harus memikirkan solusinya agar Bu Hilya tidak menyuruh Alvin menikahi wanita lain.
__ADS_1
°°°