
Malam ini di kediaman Pak Ahmad sangat ramai. banyak yang datang di acara tujuh bulanan Nisa. termasuk beberapa santri di pesantren milik Pak Ahmad, jama'ah pengajian Bu Siti, dan santri dari pesantren Pak Alex, beserta teman-teman Nisa. mereka semua datang untuk memenuhi undangan dari Bu Siti. Nisa merasa senang karena banyak yang datang.
Satu persatu rangkaian acara telah di mulai. acara yang paling khusus itu doa bersama untuk mendoakan Nisa dan kandungannya. tak hanya doa bersama, namun ada juga pengisi acara yang merupakan seorang ustad kenalan Pak Ahmad. tamu yang datang bisa mulai menikmati hidangan mereka saat mereka menyimak pembicaraan dari ustad itu.
Hanya tiga jam saja acara itu selesai. tepat pukul sepuluh malam acara telah selesai. semua tamu undangan bersiap untuk pulang. tak lupa Nisa dan Bu Siti membagikan amplop dan makanan yang sudah di siapkan untuk mereka. keduanya membagikan itu ke satu persatu tamu saat mereka melangkah meninggalkan rumah itu.
Akhirnya semua tamu sudah benar-benar pergi dari sana. kediaman Pak Ahmad sekarang sepi. hanya ada Pak Alex dan Bu Hilya saja yang belum pulang. karena niatnya mereka akan menginap.
"Nis, kamu tidak usah ikut beres-beres Nak, kamu tidur saja sama suamimu," kata Bu Hilya saat melihat Nisa ikut membereskan piring kotor bekas tamu yang datang.
"Benar Nak, lebih baik kamu tidur saja. nanti malah kecapean loh." sahut Bu siti ikut bicara.
"Baiklah, kalau gitu Nisa ke kamar dulu yah," Nisa pergi dari hadapan mereka. dia pergi ke kamar karena kebetulan dia sedikit cape dan nyeri di kaki akibat duduk terus dari tadi.
Tak lama, Alvin juga baru masuk kamar.
karena tadi dia habis bantu beres-beres. Alvin menatap Istrinya yang sedang memijat-mijat kakinya sendiri. namun terlihat kesusahan karena perutnya yang membuncit.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Alvin lalu mendudukan dirinya di pinggir ranjang.
"Pegal-pegal nih," jawab Nisa
"Mau Mas pijitin," tawar Alvin
"Boleh Mas," jawab Nisa
__ADS_1
Nisa mulai membaringkan tubuhnya. lalu Alvin mulai memijat kakinya. lama kelamaan Nisa tertidur karena merasa enak dengan pijatan suaminya. Alvin langsung menyelimuti badan Nisa. dia menyudahi memijatnya. Alvin beranjak dari duduk, lalu segera mengambil wudhu. karena kebetulan dia belum sholat Isya.
Setelah sholat Isya, Alvin naik ke atas ranjang. dia menutupi dirinya dengan selimut yang sama dengan Nisa. lalu dia mulai memejamkan kedua matanya.
Tengah malam Nisa terbangun karena merasa lapar. dia membangunkan suaminya namun Alvin tak mau bangun juga.
"Isshh Mas Alvin kayak kebo kalau tidur," kata Nisa lalu dia turun dari atas ranjang.
Nisa keluar kamar untuk mencari makanan yang bisa dia makan.
Nisa pergi ke dapur dan membuka isi kulkas. untung saja di dalam kulkas ada kue bolu sisa semalam. Nisa mengambil semua lalu dia duduk di kursi yang ada di ruang makan. Nisa menikmati kue itu dengan lahap. bahkan sampai tak tersisa sedikitpun.
"Ah kenyangnya," gumam Nisa setelah dia meneguk air putih.
Alvin meraba sebelahnya. namun dia tidak merasakan keberadaan Nisa. Alvin membuka kedua matanya dan tak melihat keberadaan Nisa disana. Alvin beranjak dari tempat tidur dan melihat jam di dinding. ternyata masih pukul satu malam. Alvin mencari Nisa ke kamar mandi. namun Nisa tidak berada disana. lalu dia keluar kamar untuk mencarinya.
"Sayang, kamu lagi ngapain?"tanya Alvin yang kini menghampiri Istrinya.
Nisa diam tak menjawab perkataan Alvin.
"Kok diam saja sih? kamu kenapa sayang?" Alvin mendudukan dirinya di sebelah Istrinya.
Nisa masih diam tak menjawab perkataan Alvin.
"Sayang," Alvin menepuk bahu Istrinya.
__ADS_1
Nisa menoleh dan menatap Alvin.
"Nisa sebal sama Mas Alvin," ucap Nisa
"Sebal kenapa sayang?"
"Mas Alvin di bangunin tidak bangun juga," ucap Nisa
"Kapan kamu membangunkan Mas?"
"Tadi, Nisa minta di antar ambil makan. tapi Mas tidak bangun-bangun juga."
"Maaf sayang, Mas terlalu pulas tadi," ucap Alvin
Nisa beranjak dari duduknya dan akan kembali ke kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya Alvin
"Lanjut tidur," jawab Nisa lalu melanjutkan langkahnya.
Alvin mengikuti Istrinya yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Nisa sudah sampai di kamar. dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Alvin ikut merebahkan diri di samping Istrinya. Alvin menghadap ke samping lalu memeluk perut buncit Istrinya.
Nisa tersenyum saat melihat Alvin memeluknya. lalu dia mulai memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
°°°°