
Hanya sebentar Bu Hilya bertamu. karena sejak tadi Alvin memintanya untuk pulang.
Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Vin, kamu apa-apaan sih minta pulang? lagi enak-enak ngobrol juga loh sama Jeng Lela," ucap Bu Hilya
"Alvin risih sama anaknya Bu Lela, lihatin Alvin terus kayaknya," jawab Alvin
"Ya bagus dong, itu berarti anak Mamah ini tampan jadi di lihatin terus," ucap Bu Lela
"Mamah apa-apaan sih," Alvin sedikit tak suka dengan perkataan Ibunya.
"Sudahlah tidak penting," ucap Bu Hilya
Sebaiknya jangan terlalu terburu-buru aku mengatakan ini. mungkin lain waktu bisa lebih mendekatkan mereka." batin Bu Hilya
Cukup lama mengemudi, kini Alvin dan Ibunya sudah sampai di rumah. Bu Hilya masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. sedangkan Alvin memilih untuk memarkirkan mobilnya.
Bu Hilya melihat Nisa yang sedang duduk sendirian.
"Mamah sudah pulang?" Nisa bertanya kepada Bu Hilya.
"Hm" jawab Bu Hilya tanpa menengok ke arah Nisa. Bu Hilya kembali melanjutkan langkahnya.
Sabar Nis, kamu harus bertahan demi rumah tangga kamu. sekarang fokus saja biar cepat hamil dan Mamah baik lagi sama kamu." batin Nisa sambil menatap kepergian Bu Hilya.
Alvin melihat Istrinya sedang berdiri.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" Alvin bertanya kepada Istrinya.
"Tidak kok Mas, tadi habis duduk di situ," jawab Nisa sambil menunjuk sofa yang tadi dia duduki.
"Oh, ya sudah ayo ke kamar saja," ajak Alvin
"Iya Mas," ucap Nisa lalu dia menggandeng tangan suaminya.
Mereka berdua melangkah berdampingan menuju ke kamar.
Nisa menatap suaminya yang sedang berganti pakaian. hingga Alvin selesai berganti pakaian juga Nisa masih menatapnya.
"Sayang, kamu kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Alvin sambil melangkah mendekati Istrinya.
"Tidak kok Mas, hanya sedang menatap suamiku," ucap Nisa
"Terima kasih yah sayang," ucap Alvin yang kini sudah memegang kedua tangan Istrinya.
__ADS_1
"Untuk?" tanya Nisa
"Kesabaran kamu selama ini, walaupun akhir-akhir ini Mamah terlihat cuek dan acuh terhadapmu," Alvin menatap Nisa penuh cinta.
"Iya Mas, tapi aku mau bicara sesuatu," kata Nisa
"Apa itu?" Alvin menunggu Istrinya mengatakan perkataannya.
"Apa sebaiknya aku resign kerja saja yah, biar di rumah saja istirahat. dan siapa tahu jika aku punya waktu istirahat cukup, aku akan cepat hamil." ujar Nisa
"Sayang, kamu tidak perlu mengorbankan pekerjaanmu. bukankah kamu sendiri yang sejak lama ingin bekerja."
"Iya sih, tapi aku--" Nisa tak bisa berkata-kata lagi. yang dia fikirkan saat ini hanya anak. dengan adanya anak di antara mereka pasti Bu Hilya akan bersikap baik lagi kepadanya.
Alvin merengkuh Nisa ke dalam pelukannya.
"Sudah sayang, kamu jangan memikirkan yang tidak-tidak. tapi jika memang kamu ingin resign, Mas nurut saja apa baiknya. yang penting kamu happy." kata Alvin yang masih memeluk Istrinya.
"Iya Mas," jawab Nisa
"Sekarang jangan sedih yah, Mas lihat kamu kok sedih terus," ucap Alvin sambil menatap raut wajah Istrinya.
"Tidak kok Mas, Nisa tidak apa-apa," Nisa mencoba tersenyum walaupun dia memang bersedih.
"Tidak Mas, aku mau di rumah saja sama kamu," jawab Nisa
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita istirahat saja di sini," Alvin menggandeng tangan Istrinya. yang tadinya Nisa duduk di sofa, saat ini dia akan ke atas kasur bersama suaminya.
Nisa dan Alvin merebahkan diri di atas kasur. mereka mulai memejamkan kedua matanya. namun ternyata Nisa tidak bisa tidur. Alvin melihat Istrinya yang sejak tadi tidak memejamkan matanya.
"Sayang, kamu tidak tidur?" tanya Alvin
"Aku tidak bisa tidur Mas," jawab Nisa
"Ya sudah kalau seperti itu kita main saja," ucap Alvin lalu mendekatkan diri dengan Istrinya.
Mereka melakukan itu hingga keduanya kelelahan.
°°°
Bu Hilya sejak tadi hanya di kamar saja. tepat pukul lima sore dia keluar dari kamar. Bu Hilya melihat ke dapur. ternyata Nisa tidak ada di sana. biasanya jam segitu Nisa sedang masak untuk makan malam. Bu Hilya pergi dari sana. dia akan bersantai saja di kamar sambil chattingan bersama Anita. Bu Hilya bermain ponsel hingga dia mendengar adzan maghrib.
Bu Hilya melihat suaminya baru masuk kamar.
"Pah, kok baru pulang?"
__ADS_1
"Iya Mah uhuk..uhuk..." jawab Pak Alex
"Jangan terlalu cape Pah, biar Alvin saja yang ke pesantren untuk mengeceknya. dia pasti bisa kok." ucap Bu Hilya
"Papah bosan di rumah, jadi Papah yang pergi," kata Pak Alex
"Iya Pah, tapi besok-besok biar Alvin saja," ujar Bu Hilya
"Iya Mah," jawab Pak Alex
Keduanya memilih untuk sholat maghrib bersama-sama. setelah selesai, mereka keluar kamar untuk makan malam.
Kini mereka sudah ada di ruang makan. namun masih kosong tidak ada apapun di atas meja.
"Yang benar saja ini tidak ada makanan sama sekali," gumam Bu Hilya
"Mungkin Nisa lupa masak," ucap Pak Alex
"Masa masak saja lupa sih, Istri macam apa dia?"
"Sudahlah Mah, kita kan bisa Go food," kata Pak Alex
"Iya Mamah tahu, tapi ini soal tanggung jawab loh, masa masak saja lupa sih."
Terlihat Nisa berjalan menuruni tangga bersama suaminya. mereka berjalan menuju ke ruang makan.
"Mah, maaf yah tadi Nisa ketiduran," ucap Nisa merasa tak enak hati.
"Istri macam apa kamu? untuk melakukan kewajiba saja lalai, jangan salahkan jika suatu saat Alvin akan berpaling," ucap Bu Hilya kepada menantunya.
"Mah, jangan asal bicara! biar Alvin pesan Go food," ucap Alvin sambil memegang erat lengan Istrinya.
"Mas maafin Nisa yah," ucap Nisa
"Ini bukan salah kamu sayang, andai saja tadi Mas tidak minta hak Mas, mungkin kamu tidak akan ketiduran karena kelelahan," ucap Alvin
"Oh jadi kalian habis melakukan itu, ngapain sih pakai melakukan segala, lagian tidak hamil juga sampai sekarang," ucap Bu Hilya dan itu sangat menyakiti perasaan Nisa.
Nisa segera pergi dari sana. dia merasa sudah tidak berarti lagi di hadapan mertuanya.
"Mah, jaga bicara Mamah!" Alvin pergi menyusul Istrinya.
Dia akan mencoba menenangkan Istrinya dan memberikannya pengertian.
°°°
__ADS_1