
"Kamu apa-apaansih, ngobrol sama temen kamu itu, kamu mau selingkuh?" ujar Gao saat dia dan Jia sudah berada di dalam mobil.
Gao menyalakan mesin mobilnya kemudian menjalankan mobil itu meninggalkan restoran, Jia hanya menghela napas panjang yang membuat Gao merasa kesal.
"Kamu kalau ditanya suami tuh, jawab dong," ujar Gao yang membuat Jia kembali menghela napas panjang. "Ditanya malah diam."
"Kan aku tadi udah telpon kak Gao, kalau aku mau pergi sama temenku, Kak Gao lupa?" jawab Jia yang membuat Gao meliriknya sejenak.
"Halah, kamu gak bilang kalau temen kamu cowok, kamu memang sengaja mau manas-manasin aku, kan?" Gao mendelik sembari terus fokus menyetir.
"Turunin aku sekarang!" ujar Jia dengan nada dingin yang membuat Gao tidak menggubris. "Kak Gao, Turunin aku sekarang!"
"Kamu mau kemana?"
"Urusan akulah, ini bukan urusan kak Gao, lagian kenapa juga kak Gao peduli, kak Gao bilang itu tadi kan," jawab Jia yang membuat Gao menghentikan mobilnya. "Turunin disini aja!"
"Kamu tuh batu yah! Mau kemana, mau nemuin cowok lain lagi, hah! Eh denger yah kalau aku mau selingkuh dari kamu udah aku lakuin tanpa nunggu empat belas hari lagi!" Gao berkata tanpa sadar yang jelas melukai hati Jia.
__ADS_1
Gao tidak pernah mengatakan hal semacam ini kepada Jia, dia selalu menjaga kata-kata dan ucapannya, jelas Jia sakit hati mendengarkan ini, seolah-olah kehadirannya sudah tidak di hargai lagi.
"Denger yah kak! Aku cuma minta empat belas hari, dan aku harap kakak gak bakal nyesel!" Jia meraih tasnya kemudian turun dari mobil.
Gao belum beranjak dari sana, Jia berjalan di pinggir jalan, dia hendak menyebrang dan menyetop taksi untuk kembali ke sekolah mengambil mobil.
Jia yang sudah sakit hati dengan Gao, tidak memperhatikan jalan yang dimana sebuah motor melaju dengan sangat kencang, Gao yang menyadari hal itu langsung keluar dari mobil dan menarik Jia.
PIT!
Suara klakson panjang terdengar seiring Gao yang sudah mendekap Gilsha dan membawanya ke pinggir.
Pengendara motor itu turun dari motornya dan berjalan ke arah Gao dan Jia, wajahnya masih belum keliatan karena dia memakai helm, dan saat dia membuka helmnya rupanya itu adalah seorang pria.
"Saya minta maaf, saya sedang buru-buru," ujar pria itu yang membuat Gao mendelik tajam.
"Buru-buru sih buru-buru yah, tapi harus merhatiin jalan juga, kalau istri saya sampai kenapa-napa, gimana?" ujar Gao yang membuat pria itu kembali meminta maaf.
__ADS_1
"Sekali lagi saya minta-" Kalimat pria itu berhenti saat dia melihat wajah Gilsha, wajah cantik yang putih bersih itu berhasil membuatnya yang membuat dia termenung sejenak. "Cantik."
"Maksudnya!?" Gao yang mendengar itu seketika mendelik yang membuat Pria itu tersadar dari lamunannya.
"Ah Sorry, saya minta maaf," Gao tidak menggubris dia membawa Jia masuk ke dalam mobil setelahnya dia berjalan menemui pria itu.
"Mas, saya denger yah apa tadi anda bilang, saya ingin menegaskan kalau saya suaminya, jangan mencoba-coba melakukan hal yang akan mas sesali!" Gao berjalan meninggalkan pria itu dan masuk ke dalam mobil.
Pria itu tersenyum, sangat lebar dan tampaknya dia memikirkan sesuatu. "Larangan adalah Perintah."
•
•
•
Pebinorkah?
__ADS_1
Heran sama Gao katanya dah mau cerai tapi istrinya di deketin cowok lain malah panik sendiri.