
Gao tengah menjalankan mobilnya menuju sekolah dari Alea, dia sepertinya sudah telat karena sebelum benar-benar berangkat dia harus mengobrolkan sesuatu dulu dengan klien yang tidak sengaja dia temui saat akan berangkat.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh sementara Pentas Seni itu berjalan jam sembilan dimana sudah dipastikan Gao sudah telat setengah jam lamanya.
"Loh kak jalanan berhenti gini?" Gao mendelik kemudian membuka kaca jendela mobilnya dan menengok keluar dan bertanya pada petugas lalu lintas yang berdiri tak jauh darinya. "Pak ada apa yah ini?"
"Macet Pak, ada tabrakan didepan, tunggu dulu sedang dievakuasi," jawab petugas tersebut yang membuat Gao semakin khawatir akan melewatkan pentas seni anaknya.
Gao mengusap keningnya sendiri, cukup lama dia menunggu sampai akses jalanan bisa di pakai kembali, Gao segera melakukan kendaraannya menuju sekolah dari Alea, setelah memarkirkan mobilnya Gao langsung berlari masuk ke sana.
Terdengar suara langkah kakinya sepanjang koridor menuju ruang pentas seni, tapi langkahnya saat dia melihat banyak orang keluar termasuk pasangan ayah dan anak, Gao semakin yakin kalau dia melewatkan pentas ini.
Gao menilik mencari keberadaan istri dan anaknya sampai ruangan pentas seni itu kosong, dia melihat Alea tengah duduk murung di bangku penonton bersama Jia.
"Jia, Alea," ujar Gao berlari ke arah Alea. "Maafin Papa yah sayang, Papa telat."
Gao hendak memeluk Alea tapi Alea menolak, Gadis kecil itu langsung menatap wajah Sang Ayah dengan wajah berkaca-kaca.
"Ayah jahat, Alea benci sama Ayah!" Alea berlari keluar dari sana.
__ADS_1
Jia tidak mengucapkan apapun, Gao sendiri merasa sangat bersalah akan hal ini sehingga dia memilih untuk menyusul Alea tapi Jia menahannya.
"Dia kau ke Mobil Kak, biarin dia tenang dulu," ujar Jia yang membuat langkah Gao terhenti.
Jia mengeluarkan sesuatu dari dalam Tasnya sebuah kertas berisi gambar dari Alea. "Saat akhir closing tadi, anak-anak memberikan kertas ini kepada Ayah mereka, hanya Alea yang tidak memberikannya, Kakak pasti tahu kan perasaan dari Alea?"
"Maafin, Saya."
"Minta Maafnya ke Alea aja kak, aku tahu kakak punya wanita lain yang harus kakak temani, Tapi kakak juga harus mikirin perasaan Alea."
"Wanita lain?" Gao mendelik. "Maksud kamu Syifa?"
Jia masuk ke dalam mobilnya dimana disana sudah ada Alea yang menunggunya.
"Lea, Alea gak boleh marah yah sama Papa," ujar Jia pada anaknya itu.
"Gabisa Ma, Papa jahat sama Alea, di Hari Ayah aja Papa gak mau datang, apa benar Papa udah ninggalin kita?"
"Gak sayang, Papa gak ninggalin kita, sampai suatu saat nanti kamu bakal tahu," ujar Jia mengusap kepala Alea.
__ADS_1
Alea menatap Jia kemudian menangis pelan, air mata yang dia pendam akhirnya tumpah. "Kita gak butuh Papa, Ma, kita bisa hidup tanpa Papa, Mama gaboleh nangis, kita pasti bisa hidup tanpa Papa."
"Maksud kamu?"
"Alea tadi lihat kok Papa sama Tante itu, itu Istri baru Papa yah? Mama jangan sedih, aku bakal sama Mama terus, Papa jahat, dia bukan Papa aku."
"Alea, jangan gitu, mau gimanapun, Papa Gao itu Papa kamu."
Alea tidak menjawab, dia mengusap air matanya sendiri kemudian hening diantara mereka, Jika memilih melajukan kendaraannya meninggalkan area sekolah itu dimana Gao masih disana.
•
•
•
TBC
Hiks ;(
__ADS_1
Assalamualaikum