
Assalamualaikum, Apa kabar pembaca ambo, sehat kan, maaf yah, baru update jadi bagini Uda/uni, ambo tuh sibuk sikit do, ada karajo lain jadi barulah bisa buat bab baru nih.
Hari tuh sempat sakit juga, jadi sekarang sudah sehat, untuk sekarang salamek mambaco.
•
•
•
"Jia, Mama sudah tahu apa yang terjadi diantara kalian, mengenai perceraian itu, Mama hanya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin bisa kamu pertimbangkan kedepannya."
Gilsha kini duduk disamping Jia anaknya yang membuat Jia menatap dalam Mamanya itu.
"Tapi Kak Gao sudah selingkuh Mam! Mama liat kan foto itu?" tanya Jia yang membuat Gilsha mengulas senyum.
"Mama tahu sayang, tapi kamu harus bisa juga percaya, walaupun nanti kalian akan bercerai, Mama tidak akan memaksa, tapi Mama cuma pengen kamu mempertimbangkan lagi sayang, kamu lagi hamil, kasian anak dalam kandungan kamu, kasian Alea."
Jia terdiam, Gilsha tahu apa isi hati Gilsha sekarang, dia paham betul dengan rasa yang masih ada didalam hatinya, karena Gilsha sendiri pernah ada di posisi yang sama.
Posisi dimana ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan yang membuat beberapa titik dalam hidup kita harus jatuh sejauh-jauhnya.
Gilsha berdiri kemudian meraih tasnya. "Mama pulang yah, yang retak akan tetap retak tapi bisa kita pertahankan beda dengan yang hancur, jadi kamu harus mengerti ini Retak atau sudah Hancur."
__ADS_1
Gilsha berjalan keluar dari kamar Jia, di ruang tamu dia masih mendapati Gao dan Alea disana yang sedang duduk di sofa.
"Gao, Mama pulang yah, kalau ada masalah keluarga harus kamu selesaikan yah Nak, carilah jalan keluar yang paling baik diantara yang benar-benar baik."
Gao terdiam, ini seperti tamparan bagi Gao yang membuat Gao menunduk, Gilsha mencium Alea kemudian berjalan keluar.
"Assalamualaikum."
"Waalakumsalam."
Kini didalam rumah itu tersisa Gao, Alea dan Jia, suasana hening dan tegang membuat Alea menatap dalam ayahnya.
"Papa, Papa lagi berantem yah sama Mama?" tanya Alea dengan polosnya.
"Papa bohong kan?"
Gao terdiam, Alea meraih tasnya kemudian mengeluarkan sebuah buku gambar dan memperlihatkannya ke sekolah.
"Tadi di sekolah ada Tugas Sekolah tentang keluarga, Alea gambar ini, bagus gak, Pa?" tanya Alea duduk di pangkuan Gao.
Gao menatap gambar itu dan tersentuh. "Bagus, terus kamu ceritanya gimana?"
"Tadi Alea cerita kalau Alea bersyukur punya Mama dan Papa, punya orang tua yang selalu baik sama Alea, yang selalu rukun, tapi-"
__ADS_1
"Kenapa, sayang?"
"Alea juga cerita, kalau akhir-akhir ini Mama sama Papa gak kayak dulu lagi, makanya Alea bilang Mama sama Papa berantem, Mama dan Papa jangan berantem lagi yah, Alea janji gak nakal kok."
"Gak, bukan gitu sayang," ujar Gao tapi Alea malah menangis di pangkuannya.
"Alea gamau Mama sama Papa berantem, kalau Alea nakal hukum aja Alea, Alea janji gak bakal minta mainan lagi, tapi Papa dan Mama jangan berantem, Alea gamau kalau Mama dan Papa berantem terus."
"Maaf sayang, tapi Papa pengen nanya sesuatu, boleh?" Gao mengusap air mata Alea kemudian menatap dalam anaknya itu. "Kalau suatu saat Mama dan Papa pisah, Alea pengen ikut siapa?"
Alea terdiam, memang pertanyaan yang sangat berat untuk anak seusia Alea, tapi Alea malah tersenyum kemudian mantap menjawab. "Mama, Pa!"
"Kenapa?"
"Karena apa yang akan menjadi milik Mama akan tetap milik Mama, termasuk aku dan Papa," ujar Alea dengan polosnya yang membuat Gao kembali tertampar keadaan.
•
•
•
Assalamualaikum
__ADS_1