
Sebenarnya ya Novel ini tuh Season 2nya masih lama banget tapi karena liat para pembaca antusias banget jadi terharu.
Season 2 lanjut yah! Jangan lupa like dan Subscribe sebelum membaca biar gak ketinggalan.
•
•
•
"Kak Gao?"
Jia yang melihat sosok Pria Tujuh Tahun lalu yang dia rindukan itu langsung memeluk sosok itu yang membuat Pria itu langsung terkejut.
"Kak Gao masih hidup, aku percaya kalau Kak Gao masih hidup," bisik Jia kali ini yang membuat Pria itu merasakan sebuah sesuatu di kepalanya yang membuat dirinya langsung lemas.
"Kak? Kak Gao!" Pria yang Jia sebut dengan nama Gao itu langsung terduduk di lantai yang membuat beberapa karyawan restoran itu langsung mendatangi mereka berdua.
"Loh, Pak Galih-nya kenapa, Mbak?" tanya salah satu Karyawan yang membuat Jia mendelik sedikit.
"Galih?"
"Iya Mbak, ini namanya Pak Galih, dia pemilik restoran ini," jawab Karyawan itu yang membuat Jia terdiam. "Mbak kenal?"
"Sa-Saya."
Belum sempat Jia menjawab, seorang pria seusia Gao langsung datang kesana lalu menghampiri Jia dan Galih disana.
"Loh, Abang saya kenapa ini?"
"S-Saya, Gatau Mas, tadi tiba-tiba jatuh," jawab Jia yang membuat Pria itu langsung membopong Galih meninggalkan Jia menuju ruangan khusus dimana Galih biasa bekerja.
Jia terdiam, dia menatap sosok Galih yang dia anggap sebagai Gao menjauh pergi darinya, Jia berdiri dia berjalan lemas menuju tempat duduknya bersama Syifa dan Andro.
Air matanya jatuh disana, Andro dan Syifa langsung menatap Jia heran dan langsung bertanya.
__ADS_1
"Loh, Jia kamu kenapa?" tanya Andro yang membuat Jia langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Syifa yang ada di sampingnya.
"Syifa, Andro, tadi aku ketemu Kak Gao."
"HAH?"
"Iya, Tapi ternyata dia adalah Galih, pemilik Restoran ini, tapi aku yakin banget kalau itu adalah suami aku, getaran itu masih ada," jawab Jia yang membuat Syifa menatap Jia.
"Kamu yakin, Kak?"
"Yakin banget, Naluri istri gak pernah salah," jawab Jia yang membuat mereka semua terdiam, sebenarnya Andro dan Syifa sulit percaya karena kemungkinan Gao masih hidup saat ini adalah satu persen.
•
Dua Hari Kemudian.
"Dek, Kamu mau beli apa?" tanya Alea yang kini sedang bersama adiknya berada di sebuah Minimarket.
"Mau beli Es Krim," jawab Aston saat adik yang membuat Alea mengangguk.
Aston kini sedang di pegang oleh Alea menuju freezer Es Krim yang ada di minimarket itu sebelum mata Aston menatap sebuah pemandangan dimana ada seorang anak dan ayah yang sedang belanja bersama.
"Ton, kamu mau rasa apa, Dek?" tanya Alea tapi tidak ada jawaban. "Ton?"
Alea menatap adiknya itu dan mencoba menatap lurus ke arah pandangan adiknya sehingga dia menatap pemandangan yang sama.
"Aston, sini dengerin kakak, kamu gausah mikirin yang gituan, kan sudah ada Kakak dan Mama," ujar Alea mengalihkan pandangan Aston ke arahnya.
"Tapi Kak, kok Papa kita gak pernah datang yah?"
"Kalau dia masih ingat sama kita, Papa pasti datang, kamu tunggu aja," jawab Alea berbohong karena kemungkinan besar hal itu terjadi adalah nol persen.
Setelah memilih Es Krim, Alea membawa Aston serta beberapa belanjaan miliknya yang lain ke kasir sebelumnya mata Alea kembali menatap sebuah pemandangan yang mengungkit masa lalunya..
"Papa?"
__ADS_1
"Papa? Papa dimana kak," tanya Aston yang mendengar ucapan Alea.
Di hadapan mereka ada seorang Pria Dewasa yang sedang berbelanja yang membuat Aston langsung melepaskan genggaman tangan Alea dan berlari ke arah Pria itu.
"Papa!" ujar Aston saat dia memeluk Pria itu, Pria itu langsung menurunkan pandangan menatap anak usia Tujuh Tahun itu memeluknya. "Bener Papa!"
Aston sudah tahu wajah Gao karena Jia selalu memperlihatkan wajah Gao kepada Aston agar Aston bisa mengenal sosok Ayahnya.
"Dek, saya bukan Ayah kamu," jawab Pria itu. "Nama saya Galih, kamu siapa kenapa disini?"
DEG! Alea terdiam.
"Bohong, Papa itu Papa aku dan Kak Alea!" ujar Aston menunjuk Alea yang membuat Galih juga menatap Alea.
"Kamu salah orang sayang, Om ini bukan Ayah kamu, Om gak kenal sama Alea juga mungkin kalian salah orang."
DEG! Hati Alea hancur seketika, jika benar yang mengucapkan itu Gao, Alea akan benar-benar terluka.
"Tapikan, Om Papanya Aston," jawab Aston kembali.
Galih tidak menanggapi hal itu, ia memegang tangan Aston dan membawanya ke arah Alea. "Nama kamu siapa tadi, Alea yah? Ini adik kamu yah, mungkin kalian salah orang."
"Kak, Alea! Dia Papa kita kan?"
Alea terdiam, ia menatap wajah Pria di hadapannya itu kemudian berucap berat. "Dia bukan Papa kita, Papa kita udah meninggal."
Alea menggandeng tangan Aston menuju kasir meninggalkan Galih, entah kenapa walaupun Galih tahu ucapan itu tidak ditujukan untuknya tapi hatinya sakit saat mendengar Alea mengucapkan bahwa Ayah mereka sudah meninggal.
"Sepertinya saya pernah bertemu anak Gadis itu," batin Gao menatap Alea dan Aston.
•
•
•
__ADS_1
TBC