
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Jia tengah berada di kamar tampak memasukkan beberapa pakaiannya didalam koper yang membuat Alea yang ada disamping ibunya bertanya.
"Mama, kita mau kemana?" tanya Alea yang membuat Jia menatap dalam Alea.
Jia mengusap kepala Alea kemudian melanjutkan memasukkan baju ke dalam Tas. "Kita bakal pergi untuk sementara sayang, maaf Mama belum bisa jelasin sekarang."
"Karena Papa yah?"
Jia terdiam, dia menghela napas panjang. "Kamu terlalu kecil untuk mengerti ini." Jia menarik resleting koper kemudian menarik kopernya keluar dari kamar bersama Alea.
Gao yang ada di ruang tamu sontak berdiri yang membuat Jia membuang wajah malas, Gao menatap Jia dan Alea dengan wajah datar.
"Mau kemana kamu?" tanya Gao yang membuat Jia menghela napas panjang kembali.
"Bukan urusan kamu Kak!" Jia melangkahkan kakinya namun langsung ditahan oleh Gao yang membuat Jia terhenti. "Lepasin kak!"
"Gak! Kamu masuk! Ini sudah malam kamu hamil, kamu mau kemana!" Gao mengambil koper Jia dan hendak membawanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Jia merebut kembali kopernya yang membuat Gao menatapnya tajam. "Kamu bisa nurut gak sih, sama suami!"
"Suami!? Kamu gak pantes disebut suami, Kak!" Jia bahkan sudah muak dengan wajah pria yang ada dihadapannya itu.
"Kamu kenapa sih? Kamu masih marah soal tadi, Kakak kan sudah bilang ini salah paham, Jia, dengerin kakak dong," Gao sudah sangat tidak memiliki tenaga untuk perdebatan ini.
Jia menggendong Alea kemudian menatap dalam Gao. "Tau! Aku tau itu Kak! Tapi aku pengen pergi, oh iya aku sudah mikirin ini semua, aku bakal ngirim surat gugatan perceraian kalau Kak Gao gamau nalak, aku."
"Kamu kenapa sih, kamu pengen banget kita cerai, mikirin Alea dong!" Gao sudah benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Kemarin kemana? Pas aku minta kakak mikirin lagi tentang perceraian ini, apa Kakak peduli tentang nasib Alea, tentang masa depan dia dan tentang aku? Gak! Kakak hanya mentingin Ego kakak sendiri, apa kakak bilang? Kakak bilang hari itu kakak bosan dan ingin bercerai, mungkin aku salah yah waktu itu meminta untuk bertahan sebentar saja, dan sekarang rasanya aku sudah berpikir lebih jernih lagi, jika perceraian yang kakak mau yasudah, persetan dengan semua ini," lanjut Jia.
"Kondisinya beda, Jia! Kamu lagi hamil! Kenapa kamu ga paham ini sih?"
"Beda? Gaada yang beda kak, Kakak pengen cerai dan yang beda sekarang akupun ingin cerai, jika dulu aku yang kekeuh bertahan sekarang aku kekeuh melepas, karena apa? Aku pikir mentalku kuat ternyata gak, aku tuh gabisa memprospek diriku sendiri untuk memahami suamiku sendiri, bahkan setelah sepuluh tahun menikah," ujar Jia.
Gao terdiam, dia seolah tertampar dengan semua kalimat Jia yang membuat harus menempatkan diri.
__ADS_1
"Mama, jangan pergi, kasian Papa sendirian, Alea gamau pisah sama Papa," Alea menangis di gendongan Jia yang membuat Gao ikut menangis.
Jia tidak bisa berujar lagi, Gao mengusap rambut Alea dan menciumnya. "Maafin Papa yah, sekarang kamu harus ikut Mama dulu, Papa janji semuanya akan baik-baik aja."
"Gamau! Papa harus ikut! Aku gamau Papa pergi!" Alea memeluk Gao yang membuat Gao tidak bisa membendung air matanya.
Ayah adalah cinta pertama putrinya dan bagaimanapun mereka tidak akan bisa dipisahkan, ayah adalah sosok yang paling berharga dalam hidup putrinya.
Makanya ketika ada perpisahan orang tua, seorang putri akan kesulitan memilih untuk ikut ke siapa.
•
•
•
Nangis
__ADS_1