
Acara keluarga itu berlangsung hingga larut malam, para keluarga dari orang Tua Jia yang berdatangan membuat Jia dan Gao melupakan sejenak masalah internal mereka.
Tepat pada pukul satu malam, acara tersebut selesai, Gao memilih pulang ke rumah sementara Jia menginap disana, sebenarnya timbul pertanyaan kenapa Gao tidak menginap juga, tapi Gao beralasan bahwa besok dia harus bekerja, tidak mungkin dia membeberkan alasan sebenarnya pada keluarga mereka.
Gao berjalan keluar dari kediaman mertuanya itu, dan masuk ke dalam mobil miliknya yang ada di parkiran, Gao yang hendak menjalankan mobilnya tapi terdengar suara ketukan dari jendela mobilnya yang membuat Gao mengurungkan niatnya.
"Kak?"
Itu adalah Jia, Gao membuka jendela mobil dan menatap Jia sejenak. "Ada apa?"
"Kak, ini sudah hari ke-lima, sisa sembilan hari lagi, aku boleh minta satu permintaan gak, mungkin aku udah ngelakuin ini kemarin, tapi aku minta satu kesempatan."
"Kesempatan?"
"Aku ingin menikmati sisa terakhirku sebagai istri Kak Gao, mulai hari ini sampai hari ke empat belas, aku gak meminta kakak untuk kayak dulu lagi sama aku, tapi seenggaknya aku pengen ngelakuin ini sebelum aku dan Alea benar-benar pergi dari hidup kakak," jawab Jia yang membuat Gao menaikkan alisnya.
"Pergi?"
"Setelah perceraian kita nanti, aku akan pergi ke Melbourne bersama Alea, aku sadar kak Gao akan menjadi masa lalu kami, dan bagaimana kami bisa melupakan masa lalu itu jika kami tidak bisa meninggalkannya," jelas Jia. "Jaga kesehatan kak."
Jia berjalan pergi meninggalkan Gao yang masih ada di dalam mobil, Gao tidak bergerak sedikitpun dia masih menatap Jia yang melangkahkan kakinya menjauh meskipun Jia berhenti dan menatap Gao sekilas, Gao sama sekali tidak berkutip.
Sampai akhirnya Gao tersadar dari lamunannya dan memilih menjalankan mobilnya meninggalkan area itu, Jia memilih tetap berada di posisinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih mau melakukan itu?" tanya Andro berjalan ke arah Jia.
Jia mengangkat kepalanya. "Kamu kan tahu, Kak Gao menderita Multipleks Klorosis, aku gak mungkin ninggalin dia gitu aja kan, seenggaknya aku bisa rawat dia sampai kami cerai."
"Kamu kasian dong sama dia."
"Maksudnya?"
"Ralat, lebih tepatnya cinta kan, mengenai foto Gao dengan wanita yang di depan rumah kalian itu, kamu yakin Gao berselingkuh?"
"Aku rasa, aku udah gaada kekuatan lagi buat mikirin itu, biarlah kalau ada wanita idaman lain yang di miliki Kak Gao," jawab Jia berjalan pergi meninggalkan Andro.
"Kenapa tidak beritahu saja dia bahwa kamu mengetahuinya bahwa dia menderita penyakit itu, mungkin saja itu menjadi alasan kedua yang bisa membuat kalian baik-baik saja," Andro berujar yang membuat Jia berhenti.
"Biarlah kak Gao tidak tahu, aku juga tidak mau dia kepikiran soal penyakitnya, semoga saja dia tidak tahu."
"Bukan kami, aku saja yang egois ingin menahan beban sepihak," jawab Jia yang kali ini benar-benar pergi dari sana.
Andro menghela napas panjang, dia menatap punggung Jia yang menjauh kemudian bergumam. "Tidak Jia, kalian berdua egois, Gao dengan ego tidak ingin merepotkanmu, dan kau dengan ego agar Gao bisa bahagia, sebenarnya kalian hanya salah paham dan saling tidak terbuka dan ini dimanfaatkan oleh masa lalu kalian, kalian sama-sama menerima beban secara sepihak."
Andro berjalan pergi dari sana, sebelum akhirnya teleponnya berdering yang membuat Andro mengangkatnya.
[Halo Syifa, ada apa?]
__ADS_1
[Aku udah sampai di Bandara, Jemput aku dong!]
[Ngerepotin]
[Sama, Adik sendiri Padahal]
[Oke, Kakak Jemput]
•
•
•
TBC
Syifa? Pemeran baru?
Apakah Syifa memiliki hubungan dengan Gao dan Jia?
Jika suatu saat Jia menyerah, akankah ada Bidadari lain yang bisa menggantikan Jia? Atau Jia akan menjadi satu-satunya? Ataukah Nasya akan membantu Andro menyatukan dua hati yang terbelah?
CERITA BARU! LEBIH SERU!
__ADS_1
Tetap baca terus Noktah Merah Buku Nikah yah!
Assalamualaikum.