
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Gao masih mengendarai mobilnya melewati jalanan kota yang sedang sepi, kerja lembur membuatnya benar-benar harus tertekan.
"Udah jam berapa sih, ini?" Gao melirik jam tangannya, ia menghela napas panjang sebelum akhirnya mobilnya mogok.
"Astaga!" Gao keluar dari mobil, dia berjalan ke depan bumper mobilnya dan membuka penutupnya untuk memeriksa kondisi mobilnya yang tiba-tiba mati. "Ini kenapa lagi sih, perasaan baru kemarin di Service masa rusak lagi."
Disaat Gao memperbaiki mobilnya, tiba-tiba datang seorang wanita dengan pakaian seksi dan terbuka, tampaknya dia adalah seorang wanita malam.
"Hai Mas, Mau main gak? Kalau orangnya seganteng Mas, aku kasih gratis deh," ujar wanita itu menjilat lidahnya membuat kesan sensual.
Gao menatap wanita itu kemudian menbuang muka. "Maaf, saya sudah punya istri, cari yang lain saja Mbak."
"Yakin Mas?" Wanita itu membuka bagian atasnya sedikit yang membuat dua buah dada besar itu sedikit menyembul dan reflek membuat Gao mengucap istighfar. "Gratis deh."
Dia hendak menyentuh bagian sensitif Gao, namun Gao menolak yang membuat wanita itu terjatuh tempat hampir dekat dengan Gao yang membuat terjadinya sentuhan intens.
"Astagfirullah! Maaf yah Mbak, saya sudah punya istri!" Gao mendorong wanita itu yang membuat wanita akan mundur ke belakang.
Rasa-rasanya Gao akan tertarik jika dia tidak mempunyai seorang istri. "Yakin? Istri kamu gatau loh."
__ADS_1
"Mbak pasangan itu gak di nilai dari kesetiannya tapi dari ketika sang pria tertarik dengan wanita lain tapi dia selalu ingat kalau dia punya istri, mending Mbak pergi dari sini!"
"Munafik kamu!" Wanita itu berjalan pergi meninggalkan Gao yang membuat Gao menghela napas lega.
Setelah memperbaiki mobilnya, Gao berjalan masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan area itu, jarak rumahnya sudah tidak jauh lagi.
Tak lama kemudian, Gao sudah tiba dirumahnya, rumah sudah sepi karena memang sudah larut malam, Gao keluar dari mobil dan membuka pintu rumah dengan duplikat kunci yang dia bawa.
Sesampainya di dalam dia mendapati Jia sedang tertidur di sofa dengan mendekap bantal sofa, Gao berpikir dia mungkin menunggunya.
Entah kenapa sifat Jia yang berubah membuat isi hati Gao jadi ketar ketir, mungkinkah ini taktik Jia untuk meyakinkan Gao bahwa pernikahan mereka tidak harus kandas.
Gao menaruh tasnya di sofa dan mengangkat Jia, masuk ke dalam kamar, dia kira Jia tidak akan menunggunya berbekal sifatnya yang sudah berubah.
Gao menidurkan Jia di kamar dan menyelimutinya, saat Gao akan pergi, ia melihat kalender kecil di atas nakas.
Dia mengambilnya dan ternyata kalender itu sudah ditandai satu hari, Gao melirik jam tangannya sudah jam dua belas malam, satu hari sudah terlewatkan, sisa tiga belas hari.
Gao melepas kemejanya kemudian mengambil kaos-nya yang berwarna putih, setelah mendapatkannya dia berjalan menuju dapur, niatnya mencari makan malah tidak ada makanan apapun di dapur.
__ADS_1
"Apakah, Jia sudah benar-benar tidak peduli?" batin Gao. "Bagus dong, artinya dua juga udah gak cinta lagi."
Gao berjalan ke counter dapur dan mengambil kopi, dia membuat kopi untuk dirinya sendiri, entah kenapa dia rindu kopi buatan Jia yang selalu di lewatkan dan juga masakan Jia.
"Tapi kenapa hatiku jadi, kacau sendiri?" Gao terdiam sesaat sebelum dia gelisah kacau dan tak tau arah.
•
•
•
TBC
Gao tuh gak aneh tapi gimana yah
Dia bosannya gini loh, dulu kan pas waktu menikah dengan Jia dia dan Jia mati-matian pertahankan pernikahan dan punya target untuk membuktikan bahwa nikah muda ga selamanya buruk, kan nikahnya pas mereka masih kuliah.
Nah setelah masing-masing sukses, perspektif Gao tidak sedalam dulu, maksudnya tidak target jadi dia mempertanyakan kembali cintanya apakah dia beneran cinta atau sekedar pembuktian.
__ADS_1
Nikmati ajalah yah.