Noktah Merah Buku Nikah

Noktah Merah Buku Nikah
BAB 21. Ini Bukan Tentang Perasaan


__ADS_3

Jia masih terduduk di tempat duduknya yaitu di koridor rumah sakit, mendengar penjelasan dari dokter tadi membuat hatinya bimbang, dua belas hari lagi adalah hari perceraiannya dengan Gao.


Tapi tampaknya semua itu semakin berubah terlepas dari kejadian malam ini selain memikirkan kondisi Alea kedepannya, ketika dia dan Gao akan berpisah, dia juga memikirkan bagaimana nasib Gao berdiri sendiri nantinya.


Jua berdiri dari duduknya, dia melangkahkan kakinya pelan menuju ruangan rawat Gao, kata dokter Gao sudah bisa pulang, apalagi kondisi Gao hanya melakukan pemeriksaan saja, ketika dia masuk di ruangan Gao, Gao sudah sadar dan duduk di ranjang Rumah Sakit tersebut.


"Jia, kamu yang mengantar kakak ke sini?" ujar Gao menunduk saat melihat Jia berjalan ke arahnya, dia merasa malu karena seharusnya dia tidak merepotkan dia setelah kejadian mereka pisah ranjang.


Jia bingung harus mengatakan apa kepada Gao, dia tidak mau kalau Gao malah kepikiran dengan penyakitnya sendiri karena penyakit jenis ini memang sangat berbahaya karena menyerang saraf, dan bisa membuat penderitanya down seketika ketika mengetahuinya, untuk menjaga perasaan gaul dia memilih diam dia tidak ingin membahas ini kepada Gao dan lebih memilih untuk membahasnya nanti saja.


"Iya kak, aku yang bawa kamu ke sini, Kata dokter kamu udah bisa pulang," jawab Jia yang membuat Gao mengangguk.


Jia membantu Gao untuk berdiri mereka berdua kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut, setelah Jia melunasi segala pembayaran untuk pemeriksaan kali ini, mereka melewati koridor rumah sakit sampai akhirnya mereka tiba di halaman rumah sakit, Jia membantu Gao masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Mobil yang dipakai dia sendiri adalah mobil miliknya karena mobil Gao tertinggal di apartemennya.


Sesampainya di dalam mobil, Jia yang menyetir kemudian menjalankan mobilnya menuju apartemen meninggalkan area Rumah Sakit.


"Maaf yah, Kakak sudah ngerepotin kamu.'


"Nggak usah dipikirin Kak, aku juga nggak apa-apa aku bantuin kakak kakak kan masih suami aku."


"Kamu masih anggap kakak suami kamu?" tanya Gao yang membuat Jia terdiam seketika.


"Mau bagaimanapun, Kakak masih suami aku kita belum resmi berpisah dan aku nggak mungkin biarin Kakak gini aja dalam kondisi sakit."


Gao tertunduk mendengar kalimat Jia, kalimat itu membuat dirinya malu seketika, bagaimana dia ingin berpisah kepada dia dan bagaimana dia menghancurkan perasaan Jia beberapa hari ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Jia. Akhirnya sampai di apartemennya, Gao yang melihat bahwa mereka sekarang ada di apartemen Jia merasa bingung kenapa dia membawanya ke sini.


"Oh iya, mobil Kakak ketinggalan di sini ya, Makasih ya sudah antar kakak ke sini, Kakak mau pulang dulu."


Gao hendak keluar dari dalam mobil, setelah sampai di apartemen tersebut karena memang mobilnya masih ada di apartemen milik Jia sewaktu dia menunggu dia tadi, tapi sebelum Gao keluar, Jia menahan tangan gaul yang membuat Gao menatap Jia sejenak.


"Ada apa?"


"Kondisi Kakak lagi sakit, kakak nggak mungkin nyetir malam-malam begini, apalagi Udah larut malam aku khawatir kalau kakak kenapa-napa di jalan, kakak nginep aja di sini nggak apa-apa kok."


"Tapi kamu beneran nggak apa-apa Kalau kakak nginep di sini?" Gao agak ragu atas jawaban Jia padanya.


"Udah aku bilang kak, kakak itu masih suami aku, aku nggak mungkin biarin kakak gitu aja, aku khawatir Kakak kenapa-kenapa di jalan, kalau kakak kenapa-napa di jalan siapa yang susah siapa yang mikirin Kakak siapa yang nanti repot siapa nanti yang ribet?"

__ADS_1


Gao menunduk, dia kembali menatap Jia sehingga kedua manik mata mereka saling bersentuhan dan berseberangan oleh dua kepala.


"Kakak tahu kamu yang selalu mikirin Kakak," batin Gao.


__ADS_2