Noktah Merah Buku Nikah

Noktah Merah Buku Nikah
BAB 24. Berikan Aku Alasan Tuk Percaya


__ADS_3

Jia terbangun dari tidurnya, dia melirik jam, jam sudah menunjukkan pukul 02.00 malam yang berarti sudah sangat larut malam, dia meraba sekitarnya tidak ada sosok Gao, karena seharusnya Gao, sudah tidur kecuali Gao masih ada di luar.


Jia bangkit dari tidurnya untuk mengecek Gao, dia takut kalau Gao nekat untuk pulang malam itu juga karena kondisi Gao memang belum baik.


"Kak Gao kemana yah?" batin Jia berdiri dari duduknya dan turun dari ranjang.


Ia hendak berjalan keluar dari kamar, tapi saat dia hendak berjalan keluar, kakinya tersandung sesuatu dan dia ternyata tersandung oleh kaki Gao yang tertidur di karpet, akibat tersandung tersebut membuat dia terjatuh tepat di samping Gao dan membuat Gao terbangun dari tidurnya.


Di dalam remang-remang sunyi malam kamar tersebut, kini mata Gao dan Jia saling bertatapan, kedua mata tersebut saling membiasakan diri dalam kondisi gelap dan benar saja mereka sekarang dalam kondisi bertatapan karena sudah beradaptasi dengan gelapnya kamar.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Gao kepada Jia yang membuat dia langsung bangkit dan duduk.

__ADS_1


"Nggak papa Kak, Kakak ngapain tidur di sini, kan aku juga bilang, kakak nggak apa-apa biar di ranjang, toh Kita juga masih suami istri Kak." ujar Jia yang membuat Gao memalingkan wajah.


"Gapapa, Kakak tidur di sini aja kamu ngapain bangun kamu keganggu ya sama kakak?"


Jia menggelengkan kepalanya, dia menghela napas sejenak kemudian menatap Gao. "Enggak kak, aku tuh nyariin Kakak, aku takut kakak pulang, kondisi Kakak belum baik, Kakak tidur di ranjang aja Kakak lagi sakit loh kalau Kakak tidur di karpet yang ada nanti Kakak tambah sakit di bawah tuh dingin."


Gao menggelengkan kepalanya, dia merasa tidak enak saja, jika dia harus tidur seranjang dengan Jia, bukan hanya merasa tidak enak dia takut kembali nyaman di saat dia sudah berusaha untuk melupakan Jia dan untuk bercerai dengannya.


"Kakak tidur di sini aja ya, Kamu lanjut tidur kakak nggak pulang kok ini udah jam berapa ya ini," Gao melirik jam. "Oh, ini udah jam dua malam."


"Aku nggak bisa tidur Kak, aku mau salat tahajud aja Kakak mau ikut?"

__ADS_1


Gao terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa, tapi entah kenapa dia malah menganggukkan kepalanya yang membuat Jia tersenyum, Jia bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu disusul juga oleh Gao.


Setelah mengambil air wudhu mereka kemudian melaksanakan salat tahajud secara bersamaan, alias berjamaah, dengan Gao sebagai imannya, Gao sendiri tidak mengganti pakaiannya, karena memang dia tidak membawa pakaian ganti, dia hanya memakai sarung untuk sebagai pengganti celana yang diberikan oleh Jia.


Setelah mereka salat, mereka saling memanjatkan doa, entah apa isi hati mereka di saat mereka ingin sama-sama berpisah tapi ada sebuah kekuatan yang membuat mereka berdoa untuk saling menguatkan.


"Ya Allah, berikanlah hamba petunjukmu, hamba tidak tahu harus berbuat apa kedepannya hamba juga tidak tahu harus bagaimana kedepannya jika memang suami hamba masih menjadi jodoh hamba, tunjukkanlah jalanMu untuk menunjukkan bahwa dia jodoh hamba, dan sebenar-benarnya jodoh hamba." batin Jia.


Setelah mengucapkannya dalam hati, dia hanya bisa menghilangkan napas kembali Dia tidak tahu, kenapa dia bisa mengucapkan itu padahal dia sendiri sudah mantap untuk berpisah, akibat foto Gao bersama wanita lain.


Jujur dalam hatinya dia belum bisa mempercayai ucapan Gao tentang pembelaan dirinya, terhadap foto tersebut, tapi entah kenapa, di dalam hatinya selalu terbersik bahwa sebenarnya pernikahannya tidak harus hancur karena sebuah keretakan.

__ADS_1


__ADS_2