Noktah Merah Buku Nikah

Noktah Merah Buku Nikah
BAB 15. Kamu Harus Bisa


__ADS_3

Jia yang ada di belakang Gao, langsung meraih foto yang tertempel, foto memperlihatkan Gao seperti memeluk seorang wanita.


Gao kenal, itu adalah wanita malam semalam, dan Gao posisinya tidak memeluknya tapi permainan kamera membuat posisinya seolah memeluk wanita.


"Jia, ini gak seperti yang kamu pikirin," Gao berusaha memberikan klarifikasi yang membuat Jia tidak mau mendengarkan.


Jia berjalan masuk ke dalam kamar, ia mengunci pintu kamar dari dalam yang membuat Gao tidak bisa mengikutinya.


Didalam terdengar suara benda pecah yang membuat Gao merasa khawatir, di dalam kamar Jia sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Aku benci sama kamu, Kak!"


"Jia! Dengerin dulu! Ini gak seperti yang kamu pikirin, Kakak gak ngelakuin itu, walaupun kita akan cerai, tapi kakak gak selingkuh, kakak ga bohong!"


Jia terdiam, tak lama kemudian pintu terbuka memperlihatkan tubuh Jia yang sudah berantakan, Jia.membawa dua buku nikah.


"Kakak, ingat gak buku ini, sepuluh tahun lalu kita berjuang bersama, memperbaiki ekonomi dari kita susah sampai sekarang, dan dua hari yang lalu, Kakak mengajukan permintaan perceraian setelah semuanya, aku gak perlu jawaban dari pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya." Jia mendorong buku nikah mereka ke dada Gao. "Aku sadar yah, sebaik apapun aku, kalau bukan aku yang kak Gao, mau, aku bisa apa."


"Jia, kakak gak selingkuh, foto yang kamu lihat itu hanya permainan kamera, mikir dong pakai logika kamu," Gao berusaha kembali memberikan klarifikasi.


Jia tidak mendengarkan, ia kemudian mengambil kalender kecil yang tiap malam mereka tandai. "Kalender ini, sisa tiga belas hari sebelum Talak itu keluar kan? BULLSHIT SAMA INI SEMUA, I'm tired of the ****! And my mental health is more important!" Jia merobek kalender itu dan melemparnya sembarang.

__ADS_1


Gao terdiam, dia tidak pernah melihat Jia se-emosional ini sebelumnya, Jia sendiri berusaha menenangkan diri. "Gini deh kak, Kakak mau cerai kan? Talak aku sekarang!"


"Gak! Kondisinya udah berubah, jika kamu gak hamil mungkin kakak akan melakukan itu, tapi kamu lagi hamil!"


"Halah! Kalau kakak gak mau nalak yaudah aku bisa kok, ngegugat kakak!" Jia berusaha keluar dari dalam kamar tapi Gao segera menahannya. "Lepasin kak!"


"Jia denger dulu! JIA DENGER!" Gao membentak Jia dengan nada tinggi dan langsung memeluk Jia. "Tenang okey, kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin."


"Lepas!"


"Jia tenang! Oke Kakak bakal Talak kamu, tapi gak sekarang, kita tunggu sampai anak itu lahir!"


Jia tidak menjawab, dia mendorong keluar Gao yang membuat Gao terdiam. "Aku benci, sama kakak!"


Gao hanya diam sejenak, dia melangkahkan kakinya gontai menuju ruang tamu, sesampainya disana dia hanya duduk mengusap wajahnya sendiri, terlalu banyak hal yang meresahkan sekarang.


Disaat Gao diam sendiri, suara salam membawa Gao beranjak melihat siapa itu.


"Assalamualaikum."


Gao beranjak berdiri. "Waalakumsalam, Mama?"

__ADS_1


Itu adalah Gilsha, Mertuanya dia datang bersama Alea yang ternyata sudah pulang dari sekolah, kejadian ini membuat mereka melupakan Alea.


"Papa! Papa kenapa?" Alea langsung berlari kecil ke arah Gao yang membuat Gao memeluknya dalam.


"Gao, ada apa ini?" tanya Gilsha pada menantunya itu karena dia sudah melihat foto yang tertempel diluar.


"Jia, salah paham Mam, dia ada didalam kamar, Gao bisa jelasin kok."


Gilsha mengangguk, Gilsha selalu percaya kepada menantunya itu, karena jauh sebelum dia menyerahkan Jia kepada Gao, Gilsha sudah mengetesnya.


"Mama tadi lewat sekolah Alea, mau kesini kata Tante Sela, Jia hamil, kamu urusin Alea dulu, dan foto didepan dilepas, Papa kamu Reza, mau kesini, Mama gatau kalai Papa kamu ngeliat foto itu, dia bisa marah apalagi liat anak perempuannya gini, nanti Mama yang bicara sama Jia."


Gao mengangguk, dia bersyukur memiliki mertua yang sangat paham situasinya.





TBC

__ADS_1


Assalamualaikum.


__ADS_2