
"Mama, kita mau kemana, kok Papa gak ikut, nanti Papa sama siapa?" tanya Alea saat Jia fokus mengendarai mobilnya.
Jujur dalam hati Terdalam Jia, dia tidak sanggup meninggalkan Gao, tapi ini harus dilakukan, biarlah semua berjalan dan nanti Jia tahu akhirnya akan bagaimana, rasanya mentalnya sudah tidak siap untuk selalu berlarut dalam hal yang sama berkali-kali.
"Kamu tidur aja yah, untuk sementara Papa kamu bisa kok jaga diri," ujar Jia yang membuat Alea menatap Mamanya itu.
"Kenapa Papa dan Mama berubah?" tanya Alea yang membuat Jia melirik Alea sejenak. "Mama pasti mau bilang gaada yang berubah, tapi banyak, disaat orang tua berubah, anak bisa tahu hal apa yang terjadi, dan Mama harusnya tahu, kalau anak yang jadi korban."
Seketika Jia mengerem mendadak karena ucapan Alea, dia memprospek isi hatinya sendiri, apakah ini ucapan dari anak yang duduk di bangku PAUD.
Kenapa sedewasa itu, Jia sadar bahwa beberapa anak didewasakan bukan dari angka tapi dari keadaan.
Tak lama kemudian, Alea tampak tertidur di kursi mobil sedangkan Jia melanjutkan mengendarai mobil, Jia memiliki sebuah apartemen yang tidak jauh dari butik, dia akan kesana selama beberapa hari ini seenggaknya jaga jarak dari Gao.
Sesampainya disana, Jia langsung memarkirkan mobilnya dan menggendong Alea masuk ke dalam apartemen, Jia harus tidur sekarang, meratapi nasib yang sudah tidak baik-baik saja ini, entah sampai kapan semuanya akan bertahan dengan begitu panjangnya.
__ADS_1
Hari Kedua dari Empat Belas, rasanya sudah sangat hancur, bagaimana dengan dua belas hari lagi, Jia harus menepati janjinya dan mereka akan benar-benar berpisah untuk selamanya.
Dan Jia sadar betul siapa yang akan menjadi korban, ini sudah tidak bicara tentang cinta tapi bicara tentang Alea tapi ini bukan tentang perasaan tapi keinginan.
"Mama harus gimana sayang, gak cuma Alea tapi bagaimana dengan kamu nanti?" ujar Jia mengelus perutnya yang mengandung janin benih dari Gao.
•
•
•
"Kayaknya bakalan demam ini," ujar Gao dalam hatinya sendiri berjalan ke arah dapur untuk membuat kopi, dia akan bekerja hari ini tapi dia harus menyiapkannya sendiri.
Ini ibarat simulasi selepas perceraian bagi Gao, betapa sulit dan beratnya tanpa seorang istri.
__ADS_1
Gao duduk di meja makan meminum kopinya dan membuka ponselnya, wallpaper ponselnya masih fotonya, Jia dan Alea, tanpa sadar air mata jatuh dari balik kacamata Gao, tampak sebuah penyesalan dari dalam sana tapi malu untuk diungkapkan.
Rasanya Ego sudah memiliki kadar ketinggian yang melebihi keinginan untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan dan Ego ini sama-sama dimiliki oleh Jia dan Gao sekaligus, tidak ada yang bertahan walaupun hati mereka jelas ingin bertahan lebih lama lagi.
"Aku bodoh! Aku bodoh! Seharusnya ketika aku bosan aku introspeksi diriku sendiri, bukan menghancurkan rumah tanggaku, aku malu untuk meminta maaf, lantas aku harus gimana? Maafin Papa Alea," ujar Gao mengusap air matanya, badannya semakin tidak kondusif tapi Gao harus tetap bangkit sekarang.
Gao memilih kembali ke kamar dan bersiap untuk berangkat kerja, walaupun Gao sendiri tahu sebentar lagi dia akan benar-benar drop secara fisik dan batin.
•
•
•
TBC
__ADS_1