
"Waduh, cara makannya ini gimana, kegedean," ujar Han menatap kue yang lumayan besar, jelas kue ini akan membuat Jia dan Han pusing.
Jia meminum lemon tea-nya, dia tidak akan expect akan mendapatkan kue sebesar ini, bersama pria lain bukan suaminya.
"Coba aja kita bawa anak aku dan anak kamu, mungkin mereka suka," Han mengambil sendok, kemudian mulai menyendok kue itu. "Nih kamu coba duluan deh."
Jia menatap Han sejenak kemudian menolak. "Eh gak usah, Han."
"Gapapa, cobain aja, kalau kamu gamau makan, aku juga gamau, lagipula ini kue untuk kita berdua," Han hendak menyuapi Jia, Jia terdiam sejenak, dia sadar kalau suaminya Gao ada di seberang sana. "Ayoklah."
Jia terdiam, dia bingung harus apa, dan akhirnya Jia membuka mulutnya sedikit, yang membuat Han menggerakkan sendok itu ke mulut Jia.
"Yang bener aja, dapat hadiah Valentine sama istri orang, wah udah gak bener ini!" Gao menaruh sendok dan menghela napas panjang saat melihat Han memaksa menyuapi dessert miliknya untuk Jia.
Gao berdiri dan berjalan ke arah mereka berdua, ia meraih sendok yang di pegang Han kemudian memakannya sendiri, sontak Han dan Jia menatapnya.
"Kak Gao?" ujar Jia menatap suaminya.
"Sayang, kamu ngapain disini?" jawab Gao duduk di kursi yang ada di samping Jia, belum sempat Jia menjawab, Gao sudah menatap tajam Han. "Eh Uda, Baa kaba?"
__ADS_1
Han terdiam, dia belum sadar kalau Gao itu adalah suami Jia. "B-Baik, Mas."
"Oh maaf yah, lupa awak memperkenalkan diri, salam kenal, Namo awak iko, Gao," Gao menjulurkan tangannya sementara Jia bingung, sejak kapan suaminya bisa berbahasa Minang.
"Nama saya Han, Mas," jawab Han yang membalas uluran tangan Gao, tapi saat mereka saling menggenggam tangan Gao dengan sengaja mencengkram keras tangan Han. "Argh!"
"Eh, manga, Uda?" tanya Gao yang membuat Han menggelengkan kepalanya. "Uda, suko main badminton ndak?"
Han kembali menggeleng firasatnya sudah tidak enak, Gao tersenyum psikopat. "Kalau awak, suka main badminton Uda, biasonyo pulang karajo, kok Ndak ada karajo, awak main, kok Uda suka, bisa juo tuh datang ka tampek awak untuak bamain basamo."
Kali ini Han sudah tidak mengerti lagi. "Oh, Uda gak paham, siko, Uda!" Gao mendekati Han kemudian membisikkan sesuatu kepada Han. "Eh Buaya darat, kalau kau masih deketin istri orang, kepalamu yang aku jadikan pengganti shuttlecock."
"Kini ko, uda masih bujang atau alah bakeluarga?" tanya Gao mengambil sendok kemudian memakan dessert yang ada di meja.
"S-saya, Duda, Mas."
TUK! Gao menghentakkan sendok ke piring yang membuat Han tersentak. "Oh, Duda, kalau awak, Uda dah tahu yah, awak alah bakeluarga, alah urang lo anak." Gao merangkul Jia dan mencium pipinya. "Jadi Uda, Uda ada karajo salain makan Basamo istri urang?"
Han berdiri, suasana sudah tidak kondusif sekarang, Han kemudian berjalan ke arah kasir dan membayar semua pesanan.
__ADS_1
"Jia, aku pamit dulu yah, Mari Mas," Han berjalan keluar dari cafe, namun Gao menghalanginya dengan memanggil namanya.
"Eh Uda! Mau kama? Siko lah dulu!" Gao mengatakan ini dengan melotot yang jelas membuat Han takut.
"Mau pulang, Mas, mari." Han sedikit berlari kecil dari sana sedangkan Gao hanya tersenyum puas dan sinis.
"Yuk, Kita pulang!"
Gao menarik tangan Jia berdiri kemudian mengajaknya keluar menuju mobilnya sedangkan Aaron masih tertawa puas melihat ini.
•
•
•
TBC
Ini bahasa Minang yah, maaf kalau salah, aku asli Sulawesi Selatan soalnya cuma bisalah Dikit-dikit.
__ADS_1
Jadi ceritanya Gao ngancem Han pake bahasa Minang supaya Jia gak tahu kalau Gao tuh cemburu.