Noktah Merah Buku Nikah

Noktah Merah Buku Nikah
BAB 11. Mengakses Isi Hati


__ADS_3

"Kamu gapapa kan, lain kali kalau nyebrang tuh hati, aku khawatir tahu!" ujar Gao yang membuat Jia menatapnya sejenak.


"Khawatir?"


"Maksudku nanti Alea kasian, dia khawatir sama kamu, yaudah, aku antar kamu pulang dulu," jawab Gao yang membuat Jia kembali menatap lurus ke depan.


"Ke sekolahnya Alea aja, mobil aku ketinggalan disana, aku mau ke butik buat ngecek," ujar Jia yang membuat Gao mengangguk.


Gao menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tadi, walaupun dia sudah pergi, entah kenapa kepala Gao masih terus kepikiran dengan pria yang tadi, di seolah-oleh menjadi ancaman tersendiri bagi Gao.


Gao melirik sekilas Jia, Jia cantik memang tali kenapa Gao bisa bosan, dengan Jia, hari ini sudah dua pria yang terpana dengan Jia, tidak mungkinkan Gao harus posesif setelah dia mengatakan dia sudah tak cinta lagi.


Perasaan itu memang aneh, tapi Gao sendiri belum bisa menyiapkan naluri yang benar untuk mengakses isi hatinya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang di kendarai Gao sudah sampai di depan sekolah Alea, Gao menghentikan mobilnya disana.


"Kamu yakin, gak mau langsung di antar pulang?" tanya Gao menatap kedepan tidak menatap Jia.


Jia tidak menjawab, ia hendak turun namun Gao meraih tangannya. "Tunggu, kamu hati-hati bawa mobilnya."


Jia mengangguk, tanpa sepatah katapun, dia turun dari mobil dan menuju halaman sekolah Alea, ia merogoh tas dan mengambil kunci mobilnya, dia menekan tombol otomatis itu dan masuk ke dalam mobil, dia tidak mengucapkan kalimat apapun.

__ADS_1


Sebelum berangkat, Jia meraih ponselnya, untuk menelepon Vina, Asistennya bahwa dia akan ke butik sekarang.


[Vina, saya akan ke butik sekarang, tolong berkas untuk pasokan design baju baru kamu siapkan, biar nanti saya langsung tanda tangan]


[Baik, Bu]


[Makasih, yah]


Jia mematikan sambungan telepon itu kemudian mulai menjalankan mobilnya menuju butik yang lokasinya tidak jauh dari sekolah.


Disaat Jia menyetir, matanya menangkap seorang pemotor yang mengikutinya dari kaca spion, Jia tampaknya mengenali orang tersebut.


"Maaf, Mas, kok ngikutin saya yah, ada apa?" tanya Jia menyingkap rambutnya yang sedikit menutup wajahnya karena tersibak angin, rambut yang terurai itu makin membuat Jia nampak menarik. "Halo, Mas? Kok diem?"


Pemotor itu terdiam, dia masih terkesima, orang yang sama yang hampir menabrak Jia tadi, sampai akhirnya Jia mejentikkan jarinya yang membuat pemotor itu tersadar dari lamunannya.


"Ah, Maaf Mbak, s-saya orang yang tadi hampir nabrak Mbak," ujar pemotor itu.


"Terus?"


"Cantik."

__ADS_1


"Mas!?"


"Eh iya sayang, eh maksud saya, iya Mbak, saya ehm anu," Pria itu menggaruk tengkuknya sendiri yang membuat Jia menatapnya heran.


"Anu, kenapa Mas? Ada yang aneh yah dari muka saya?" tanya Jia pada Pria itu.


"Gak ada, Mbak cantik kok, itu anu, saya mau minta maaf, tadi saya tidak sempat minta maaf sama Mbak-nya, sebenernya saya gak enak, oh iya kenalin, nama saya, Andro, saya baru datang di Indonesia soalnya," ujar Pria bernama Andro itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Jia terdiam sesaat sebelum mengulas senyum di wajahnya, dia mengangkat tangan dengan posisi menangkup tidak menjabat tangan Andro. "Saya Jia, saya sudah maafin kok, lain kali hati-hati aja Mas, lagipula juga saya yang jalan gak liat-liat."


"Ehm iya Mbak, kalau boleh saya mau ngajak makan sebagai ucapan maaf," ujar Andro penuh harap.


"Maaf yah Mas, saya lagi ada urusan lagi, kalau ada waktu dan bakal ketemu lagi, nanti saya mau makan siang, sama Mas," jawab Jia tersenyum kemudian berjalan meninggalkan Andro masuk ke dalam mobilnya.





Ga asing sama yang namanya Andro

__ADS_1


__ADS_2