
"Gimana Jia, boleh yah, dah lama loh kita gak ngobrol bareng, aku juga lagi nyari designer buat bantu design proyek terbaruku, barangkali kamu cocok," ujar Han.
Jia kembali menimbang-nimbang penawaran Gao untuk dirinya, Jia berpikir sejenak untuk meminta izin kepada Gao terlebih dahulu, apalagi dia akan bersama pria lain walaupun di tempat umum.
"Aku telepon suami aku dulu yah," jawab Jia meraih ponsel dari dalam tasnya kemudian menghubungi Gao.
Semandiri apapun seorang istri, sekuat apapun dia bisa berdiri sendiri, ketika statusnya masih istri, restu seorang suami masih dia perlukan dalam hal sekecil apapun, karena hal sepele saja ada hukum agama dan pertanggungjawabannya.
[Assalamualaikum, Mas, kamu dimana?]
[Lagi di Cafe ini, sarapan, kamu ngapain sih nelpon?]
Jia menghela napas panjang, jika dulu Gao akan semangat ketika dia menelepon, kini Gao merasa acuh dan tidak suka, untungnya Jia sudah punya cara untuk melewati sisa empat belas harinya.
[Oh okey, aku cuma mau izin, aku ada urusan kerja sama temen aku, cowok, gapapa, kan?]
[Itu urusan kamu, bukan urusanku!]
TIK!
__ADS_1
Sambungan telepon mati yang membuat Jia hanya bisa menghela napas panjang sekali lagi atas perilaku suaminya itu kepadanya.
Dia tampaknya sudah membiasakan diri atas perubahan sikap suaminya, jika di dalam novel biasanya benci jadi cinta, tapi Jia rasa ceritanya malah seperti cinta jadi benci.
"Han, suamiku udah ngizinin, yaudah ayok mau ngobrol dimana?" tanya Jia berjalan ke arah Han.
Han tampak semangat sekali yang membuat Jia hanya tersenyum. "Ayok, naik mobil aku aja yah, soalnya macet, kita ngobrol di cafe simpang sana aja."
Jia mengangguk, ia kemudian berjalan bersama Han, masuk ke mobil Han yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berbicara, jalanan kota di pagi hari memang agak macet dan tapi tidak sesibuk siang dan sore saat jam pulang dan makan siang.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di cafe itu, sesampainya disana, Jia dan Han keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam cafe.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Han pada Jia saat mereka duduk di kursi mereka. "Saya mau dessert aja Mbak, buat sarapan, Minumannya Lemon Tea kalau bisa gak usah pakai Gula."
"Saya Minuman aja Mbak, Lemon Tea juga samain aja," jawab Jia memberikan pesanannya.
"Kamu gak pesen yang lain, biar aku yang bayar," ujar Han yang membuat Jia menggeleng.
"Aku habis masak di rumah," jawab Jia yang membuat Han mengangguk.
__ADS_1
"Kapan-kapan boleh yah aku mampir ke rumah kamu," Han tersenyum lebar yang membuat Gao di sudut sana memutar bola matanya.
"Dasar buaya darat!" ujar Gao yang membuat Aaron di depannya tersenyum geli karena dia tahu kalau Gao sedang cemburu.
"Setelah menikah aura kamu makin keren deh Jia, jadi ingat pas kuliah dulu pernah ikut Miss Beauty dan Mr Handsome ngewakilin universitas, eh kita menang sampai di pajang di Mading sebulan sebagai Couple abad ini," Han tampak mengenang masa lalunya yang membuat Jia tertawa. "Sumpah seru banget, yah, kalau lewat berdua suka di cie-ciein."
Gao yang mendengar itu, telinganya memerah menahan kesal, seharusnya dia biasa aja tapi hatinya tampak kesal sekarang.
"Tahan aku, Ron, tahan aku!" bisik Gao yang membuat Aaron menyuapi Gao dengan dessert miliknya.
"Sabar, sabar, katanya udah bosan," jawab Aaron yang membuat Gao menghela napas panjang.
•
•
•
TBC
__ADS_1