Noktah Merah Buku Nikah

Noktah Merah Buku Nikah
BAB 22. Kita Gak Saling Percaya, Kan?


__ADS_3

"Beneran gak apa-apa, Kalau Kakak masuk ke apartemen kamu, kalau kamu nggak enak Kakak bisa pergi Kok, Kakak nggak enak juga kalau kamu kesannya terpaksa." ujar Gao saat dirinya berada di depan ambang pintu apartemen dari Jia.


Jia mengambil kunci apartemen kemudian memasukkannya kelubang pintu untuk membuka pintu apartemen.


"Aku udah bilang Kak, Kakak itu suami aku, aku malah khawatir Kalau kakak pulang sendiri, Kakak nginep dulu malam ini besok aku bakalan anterin Kakak pulang, nanti mau mobilnya, bisa kakak suruh orang buat jemput, Kakak besok nggak usah kerja dulu Aku khawatir sama kondisi kakak."


Setelah mengucapkan itu, Jia langsung membuka pintu apartemennya, Gao menyusul di belakangnya dia sebenarnya khawatir dengan Alea, karena Alea dia tinggal sendiri sewaktu tertidur tadi untung saja saat dia kembali Alea masih tertidur di kamar yang membuat Jia menghilang nafas panjang.


"Kakak kalau mau tidur, bisa di dalam kamar di dalam kamar ada kasur tambahan Kak, atau Kakak mau tidur di ranjang samping Alia juga nggak apa-apa."

__ADS_1


"Makasih ya Dek, Kakak nggak tahu bakal gimana andaikan kamu nggak ada mungkin kondisi Kakak udah buruk banget."


"Aku udah bilang kan Kak, Kakak nggak usah mikirin hal ini lagi selagi aku bisa aku bakal bantuin kakak."


Gao menundukkan kepalanya, rasanya seperti malu, karena apa, dia dibantu oleh istrinya sendiri yang secara tidak langsung dua belas hari lagi mereka akan bercerai, sesuai perjanjian mereka, Jia sendiri tulus membantu Gao, ia khawatir dengan Gao walaupun isi hatinya sendiri masih sakit ketika melihat foto Gao bersama wanita lain waktu di rumah mereka.


"Ini Kak kopinya." Jia meletakkan gelas kopi di meja yang ada di hadapan kau yang membuat Gao menggangguk. "Kalau gitu aku tidur duluan ya Kak, kalau Kakak mau tidur kakak bisa nyusul ke kamar."


Gao sekali lagi menganggukkan kepalanya, tapi sebelum Jia pergi kau menahan tangan dia yang membuat Jia tidak jadi pergi.

__ADS_1


"Kakak pengen bicara soal foto waktu itu, kakak nggak tahu kamu bakal percaya sama Kakak atau enggak, Yang penting Kakak nggak ngelakuin apa-apa sama perempuan itu, dan kakak juga nggak tahu bagaimana bisa ada foto itu." Gao memberi jeda. "Sumpah kalau soal ketemu dengan perempuan itu iya Kakak ketemu dengan perempuan itu, malam itu, Tapi Kakak nggak ngelakuin apa-apa dia mau jatuh terus kakak nolongin dia, yang akhirnya adegannya kayak kita pelukan padahal itu nggak sama sekali, itu hanya permainan kamera, kakak juga nggak tahu siapa yang ngirim foto itu kakak mohon kamu percaya sama kakak."


Jia menatap Gao, dia tidak bisa lagi memprospek perasaannya bagaimana dia bisa percaya dengan Gao atau tidak, bagaimana dia bisa mempertahankan pernikahannya atau tidak, karena menurutnya pernikahannya benar-benar sudah ada di batas kehancuran, walaupun dalam hatinya sendiri dia hanya merasakan bahwa pernikahannya hanya retak bukan hancur.


"Aku lagi nggak mau bahas itu Kak, soal percaya atau nggak percaya aku nggak tahu aku harus percaya sama siapa, toh dua belas hari lagi kita akan berpisah kan jadi buat apa untuk penjelasan ini semua."


'Tapi Jia-"


"Kita bahas ini lain kali aja ya, aku ngantuk." Jia berjalan masuk ke kamar meninggalkan Gao di ruang tamu dengan perasaan gelisah.

__ADS_1


__ADS_2