NONA

NONA
Jangan kau beri nama


__ADS_3

Aku sudah pernah merasa beberapa kali dalam titik ini.


Titik dimana hatimu menjadi lemah dan otakmu menjadi bodoh karena sebuah pemakluman.


Aku tergugu pada sebuah rasa yang tak pernah sudi ku beri nama.


Karena yang kutahu sakitnya masih bisa membuatku tertawa. Yah, tertawa bagai orang gila.


Aku terhempas oleh semua luka yang coba kau tabur diatas sebuah derita yang sudah ada.


Aku kalah pada sebuah alasan yang seharusnya menjadi kekuatan.


Dan kembali menjadi manusia hina adalah sesuatu yang berharga. Dibanding kau dianggap tak berdaya, patut di kasihani dan segunung alasan yang sejatinya hanya untuk merendahkan.


Ada banyak hal yang coba ku mengerti sendiri, ribuan tanya yang selalu ku telan sendiri. Pada akhirnya semua susunan itu menuntun dan menuntutmu untuk tetap waras. memaksamu untuk tetap bahagia. Karena harapan tak selalu sebanding dengan kenyataan.


 


***


 


"Aku selalu mengerti, jadi jangan merasa sendiri." Aku tertawa untuk sebuah alasan yang pasti.


"Tentu kau selalu bisa ku andalkan." dalam menghancurkan tentu saja.


"Senang bisa berteman denganmu lagi setelah sekian lama." aku yang tak senang.


"Aku selalu mengingatmu." iya, aku pun sama. mengingat seberapa bajingannya dirimu.


"Aku benar-benar bersyukur kita bisa kembali." aku menyesal bertemu dengan mu lagi.


"Aku mencintaimu." aku membencimu juga.

__ADS_1


Semua suara-suara itu membuatku tak bisa tidur. memaksa untuk terus mengingat segalanya.


Menggali semua ulasan penuh pesakitan. Seperti melihat kembali dirimu di masa lalu dengan semua kepolosan, kenaif-an dan banyaknya hal yang bisa membuatmu gila.


Aku tersenyum lagi, dengan air mata yang tentu tak mau berhenti sambil memegangi sebuah pigura yang sejatinya adalah sumber semua kesakitan, dasar sebuah perlakuan dan hancurnya sebuah perasaan.


Seharunya memori kelam itu tak pernah hadir lagi. Tak perlu datang, menggebrak sebuah luka batin yang tak benar-benar sembuh.


Aku terbiasa di caci dan selamanya akan seperti itu. Membentuk sebuah karakter penuh arogansi dan tentu tak mudah percaya.


 


***


 


Jangan biarkan dirimu terluka.


Jangan biarkan dirimu percaya.


Karena aku sudah biasa dibuang setelah dinikmati. Di singkirkan setelah mereka terpenuhi.


Dan yah bukan masalah. Toh, sakitnya tak sebanding dengan yang sudah-sudah.


Uang adalah cara terampuh untuk menyelesaikan masalah. Dan kecantikan adalah hal paling masuk akal untuk menciptakan masalah.


Sama seperti sebelumnya, sakit ini begitu familiar, membuatku tertawa dan membuatku hilang akal.


Sensasi ini membuatku tertawa, suntikan dan rintihan itu membuatku melayang.


Nikmat.


Bebas.

__ADS_1


Lepas.


Dan sepertinya satu suntikan lagi tak masalah, yah, betul. Tak masalah sayang, mari kita coba lagi.


Sensasi ini.


Adalah segala upaya yang bisa ku upayakan.


Perih.


Panas.


Liar.


Melayang.


Memabukan.


Dan yang terakhir ku lihat adalah darah yang tak mau berhenti di pergelangan tangan.


***


"Meeting jam 9, jangan bodoh dan lakukan apapun untuk mencetak uang." Bahkan wanita itu tak peduli meski berdarah, meski hancur.


Karena yang penting untuknya adalah uang, kekuasan, pandangan orang serta arisan penuh ibu-ibu berkelakuan bak setan yang kabur dari neraka.


"Dengarkan ibumu, ingat ada banyak orang yang ingin kau hancur. Jadi jangan main-main!" Pria tua itu juga sama berengseknya dengan si wanita.


Tentu saja. Pasangan adalah cerminan bukan?


Dan dari sekian banyaknya kesakitan yang masih tertinggal, adakalanya yang kubutuhkan adalah sebuah pelukan. Didengarkan dan tentu di kuatkan.


***

__ADS_1


***Sorry for typo...


Terima kasih sudah membaca💙💙💙***


__ADS_2