
Ysabelle sudah sibuk menata ruangan, baju dan menghafal dialog untuk wawancara dengan majalah besar dan tentu saja ia bayar.
Dini hari dan Illona sudah bangun dengan wajah tak suka yang tak ia tutupi.
"Pakai baju ini! Jangan banyak membantah Ita, Ibu akan memanggil ayahmu."
Terpaksa memang, tapi mau bagaiman lagi. Menentang pun ia tak berhasrat. Sungguh Illona begitu lelah setelah perjalanan pulang pergi Surabaya-Bandung dalam waktu sehari.
Tepat pukul 9 pagi Ysabelle menyambut tim fotografer dan mengarahkan mereka ke sebuah ruangan yang sudah ia persiapakan.
Dan demi pencitraan yang sempurna, sengaja sang nyonya rumah memaksa untuk sarapan bersama.
Juga demi ketenangan jiwanya Illona sedang tak ingin mengacau. Biasanya ia akan melakukan aksi jahil menambahkan garam pada kopi misalnya atau membiarkan selusin marmut miliknya bebas. Lalu demi sebuah kehormatan ibunya akan meminta maaf dan beralasan sang ART-lah yang salah.
Dan jelas sang nyonya akan murka, lalu memulai ceramah panjang dengan wajah masam hingga siang. Tapi sorenya ia akan sibuk menyuruh Illona untuk pulang lebih awal supaya bisa makan malam bersama.
Sukses. Pikir Ysabelle jumawa, jelas saja ia tak akan kalah dengan teman-teman arisannya. Enak saja mereka pamer keluarga bahagia Ysabelle juga punya.
__ADS_1
Dengan konsep Eropa kuno mereka menyelesaikan pemotretan dan wawancara dengan cepat.
Bagaimana tak cepat sang pembuat onar sedang kelelahan. Sungguh Illona sedang jujur kali ini. Ia sedang malas membuat masalah, hanya hari ini esok hari beda lagi.
Gila saja Illona harus duduk tenang tanpa membuat kekacauan. Rugi ah, mening Illona memancing umpan keributan yang akan ibunya sambut sesuai harapan.
Memang memainkan emosi Ysabelle begitu mudah dan bikin ketagihan. Belum lagi bila tuan Taka juga ikut campur ah, rasanya Illona merasa hidupnya begitu menyenangkan.
Karena setelahnya Illona lebih memilih tidur sambil berpikir masalah apa yang akan ia buat esok hari.
***
Bila Illona memilih kembali ke kamar, maka pasangan tua itu memilih gazebo belakang untuk berdiskusi.
"Enak saja! mungkin Illona sudah mulai mau berubah." Ysabelle tak terima, enak saja ia di salahkan meski ia suka mengancam, tapi tak sesering itu. Kadang sih, tapi cukup sering juga.
"Apa anak itu bisa berdamai?" hening lagi. Tak ada suara lain selain suara burung perliharaan Taka. Pikiran mereka melayang jauh, memutar kembali memori silam.
__ADS_1
"Mungkin saja, karena saat anak itu sudah benar-benar menerima. Aku sendiri yang akan mempertemukan mereka." Ysabelle pernah berjanji dan kali ini janjinya tak main-main.
Sama seperti janjinya terdahulu ia akan menjamin, menjaga, melindungi dengan cara apapun agar Illona berada di samping nya. Meski usianya sudah akan menginjak 33 tahun.
Aneh. Baik Ysabelle atau pun Taka tak pernah memaksa putrinya untuk menikah. Kalau pun tidak juga tak apa asal ia tahu bahwa Illona bahagia.
Tak peduli pada obrolan keluarga besar atau teman-temannya tentang status sang putri.
Tak masalah. Sungguh, karena yang terpenting bagi keduanya Illona bahagia. Meski mereka tak yakin apakah sang anak bahagia atau tidak. Mengingat kelakuan macam apa yang sering Illona tunjukan.
"Semoga saja." Balas Taka dengan senyum lembut, pandangannya penuh cinta.
Cih, tidak tahu umur sekali. bisik hati Illona sesaat pandangannya melihat dua orang tua yang saling berpelukan dan berbagi ciuman.
Karena yang sesungguhnya terjadi adalah mereka sedang saling menguatkan, memahami dan merasakan kegelisahan yang tak ingin oranglain ketahui termasuk anaknya sendiri.
***
__ADS_1
***Sorry for typo...
Terima kasih sudah membaca💙💙💙***