NONA

NONA
Informasi baru


__ADS_3

"Jadi kamu beneran udah pacaran sama si Ares?" Ysabelle tak mau ketinggalan informasi apapun. Setelah satu minggu anaknya liburan lalu pemberitaan tentang sang putri yang berkencan dengan anak menteri ramai di akun gosip yang ia ikuti.


Illona mendengus sebelum menjawab, "Ibu kan yang suka ngehasut buat punya pacar."


Merasa tak puas Ysabelle sampai mengikuti langkah sang anak hingga masuk kamar.


"Karena memang kamu seharusnya sudah mulai serius toh, Ibu kan baik ngingetin bukan ngehasut. Jadi, gimana? Ares orangnya baik kan? sesuai sama citra yang ia tampilkan? Yang Ibu tahu sih selentingan soal dia yang suka jajan."


Illona hanya mengangguk sembari merapihkan beberapa dokumen tentang pengajuan resort baru di daerah ulu watu- Bali.


"Sampe yang ibu denger dia itu punya rumah bordil masa, biasa pejabat atau pengusaha suka booking dari dia terus main di Singapur."


"Ibu enggak bohong kan dia punya rumah bordil?" Illona baru tahu atau lebih tepatnya ia kaget kalau benar di Ares itu tenyata germo.


"Kok kamu enggak tahu Ta? udah banyak yang bilang cuman yah kamu tahulah sekarang apa-apa bisa selesai karena uang."


"Termasuk ibu juga." balas Illona sinis. Kontan saja Ysabelle langsung melotot. Ya... Walau benar sih... Tapi masa harus di bahas juga.


"Udah ah aku males, mau berangkat. Ada meeting dengan pak Benny dari Malaysia yang mau join sama kita." Karena yang sesungguhnya terjadi Illona akan mendatangi Ares dan mengkonfirmasi secara langsung apakah gosip yang ibunya bicarakan benar atau tidak.


***


Illona hanya butuh waktu satu jam lima belas menit untuk sampai di DarkSide---showroom dan kantor pusat milik Ares.


Dan tentu saja kedatangannya menjadi bagian dari kehebohan. Mereka---karyawan Ares maksudnya sudah tahu dengan berita yang di sebar di akun gosip.


Tanpa aba-aba Illona masuk dan membanting pintu. Tak peduli bila sang sekretaris Ares akan kaget dan tak suka padanya. Toh, ia tak peduli.

__ADS_1


Ares sudah akan bicara saat suara Illona mencela, "Kamu punya rumah bordil? kamu germo?" Illona tak suka basa-basi.


"Well, sejujurnya bisnis itu bukan hanya milikku saja, sayang." Balas Ares tenang.


"Dan kamu pemilik sekaligus pelanggan tetap bukan?" Cecar Illona tak sabar.


"kamu cemburu? jujur saja aku sudah jarang main ke sana lagi. Semenjak ada pengkhianat yang membuat semua orang rugi." Illona sempat menangkap ada nada marah di ujung kalimat serta kilatan amarah pada mata Ares yang tak berhasil di tutupi.


"jadi, saat itu aku memilih mengencani wanita-wanita lain untuk di nikmati dan yah ku jajani tentu saja. Dibanding harus kesana lagi." Lanjutnya.


Seharusnya Illona tak datang atau sebaiknya ia tak bertanya. Karena menurut pikirannya, ini semua tak penting, tapi hatinya yang kadang ***** ini malah merasa tak enak dan sedikit hanya setitik saja rasa cemburu.


Illona tak mungkin jatuh hati kan pada si berengsek ini?


"Sudahlah aku mau balik lagi ke hotel." Tak mau repot-repot menunggu jawaban Illona berlalu dan kembali membanting pintu. Meninggalkan Ares dengan sudut bibir yang tarangkat sedikit. Antara kaget karena Illona tiba-tiba datang, sekaligus geli. Ini amat lucu, sedikit ia melihat ada kemarahan bercampur kecewa di manik madu itu.


***


Illona mengumpat!


Memarahi siapa saja yang menurutnya tak becus menggunakan kendaran.


Membunyikan klakson panjang, demi kekesalannya pada kemacetan. Harusnya Ia tahu bahwa macet adalah permasalahan biasa yang selalu ia temui setiap hari.


Lalu saat ia berhasil sampai di hotel tak ada satu pun yang ia balas sapaannya. Well, sebenarnya setiap hari pun ia tak mau repot dengan membalas sapaan karyawan lain. Hanya saja kali ini mimik wajahnya lebih sinis dan minta di tampar sekali.


Dengan angkuh ia mulai masuk lalu membanting pintu, membikin Sofia---sekretarisnya kaget nyaris terjungkal sebab niat hati ia akan menyapa dan memberi informasi pada sang bos yang baru saja masuk setelah liburan asik selama satu minggu. Mana tak ada oleh-oleh lagi, biasanya penyihir itu selalu ingat untuk membeli oleh-oleh untuk karyawan yang Illona anggap nakal. Sinting memang pemikiran bos satu itu. Dan ia juga sama gilanya karena masih bertahan selama 5 tahun terakhir.

__ADS_1


Dengan kasar ia banting tas serta map plastik berwarna biru. Kemudian menghempaskan tubuhnya pada kursi busa asli buatan Italia. menenggelamkan wajahnya pada tumpuan tangan di atas meja.


Illona marah.


Ia juga kecewa.


Tapi dari dua hal itu ada yang membuatnya terganggu. Perasaan tak rela saat tahu kekasih---pura-puranya suka bahkan pemilik tempat prostitusi.


Seharusnya tak apa. Toh, ia sudah tahu kalau si berengsek itu memang tukang koleksi wanita tapi sialannya hatinya malah di penuhi perasaan tak rela dan sedikit rasa cemburu.


Dan yang paling menjengkelkan dari itu semua mengapa pria sialan itu tak menahannya tadi. Minimal ia di antarkan sampai kantor. Ini malah tenang seperti tak ada apa-apa. Memang tak ada apa-apa sih... Illona saja yang malah heboh sendiri. Ia benci tindakan implusifnya tadi.


Sembari membaca tumpukan laporan yang sudah ada di mejanya Illona mendumel dalam hati. Sumpah serampah ia keluarkan demi melapangkan hatinya yang saat ini tak nyaman.


Kekesalan Illona semakin memuncak saat pesan masuk dari Ares ia dapat.


Aresialan : malam ini kita akan ke rumah bordil milikku. dandan yang cantik yah, jangan sampai kamu kalah cantik dari mereka πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Double sialan!!!!!!!!!!!!


Benar-benar sinting!!!!


***


***Sorry for typo...


Terima kasih sudah membacaπŸ’™πŸ’™πŸ’™***

__ADS_1


__ADS_2