NONA

NONA
Bukan masa lalu


__ADS_3

Hujan dan kopi.


Adalah perpaduan paling epik untuk menikmati atau mengulang ingatan tentang patahnya sebuah hati.


Sama seperti Illona yang baru saja sadar tepat saat hujan turun dan makin deras. Hanya saja tak ada kopi yang biasa ia pesan tapi tak pernah ia minum.


Aneh yah?


Ya..., Illona memang seaneh itu.


Menghela nafas, demi mengusir sesak yang tak mau beranjak pergi.


Ia kembali melamun, mengingat apa yang sudah terjadi serta karma yang sedang ia nikmati.


Kalau boleh Illona protes bukannya ia korban, tapi, mengapa ia merasa karmanya lebih menyakitkan yah? Ahh, Illona lupa, ia sering kali menyakiti hati sesamanya lalu memutar kesalahan pada pria-pria dungu yang memang tergoda oleh nya.


Ia belum sempat menjenguk sang ayah, benar-benar hari yang melelahkan, setelah episode patah hati lalu kantor yang makin sibuk, ditambah ayahnya sakit dan juga ia yang malah pingsan. Sangat tidak anggun sekali, apalagi sebelumnya ia sempat merasa iri pada potret keluarga baru.


Otak dan hatinya benar-benar tak mau bekerjasama, terlalu bodoh untuk selalu mengingat pedihnya ia di masa lalu.


Lalu yah, Illona malah melupakan sesosok asing yang sialnya adalah pusat dari hancurnya ia dahulu.


Ia terkejut, tentu saja. Siapa yang tak akan kaget bila saat membuka mata dihadapkan wajah yang sudah lama sekali tak ia temui. Juga yah, Illona melupakan adegan atau ekspresi apa yang harus ia tampilkan di hadapan pria itu.


"Butuh sesuatu Ta?" suara itu bergetar, merasa haru, rindu dan sakitnya perasaan bersalah. Ia tak masalah tak di anggap setelah Illona sadar, ia amat bersyukur kala tak ada pengusiran atau kata-kata penuh cacian saat mereka bertatap.


Illona memicing, menyembunyikan tangan kiri di balik selimut, "Udah lama aku enggak di tanya butuh sesuatu, kecuali konteknya pekerjaan," tangannya makin mencengram erat. sebelum menambahkan, "Well, makasih, tapi aku emang enggak butuh apa-apa dari kamu. Kecuali yang nanyanya suster."


Ibra tahu dan sadar diri, jadi di banding menjawab ia memilih diam. Menikmati siluet wajah Illona dari samping, ia tak menemukan wajah penuh kelemutan pun dengan fisik yang amat berbeda.


Jelas saja, Illona rela di operasi plastik demi membuatnya tak di kenali, juga sebagai ajang bahwa ia bukan lagi Ita, si gadis baik, pemaaf dan lugu. Ia adalah Illona wanita dengan kelakuan macam iblis yang di bebaskan untuk merusak bumi, atau mungkin saja sedang merusak dirinya sendiri.

__ADS_1


Merasa di pandangi Illona menoleh, demi melihat pria yang sudah menghancurkannya, tak ada yang berubah, nyaris sama seperti dulu. Juga Illona menahan nafas kala pandangannya bertumpu pada kemeja levis yang pernah ia beri di hari ulangtahun lelaki itu.


Tapi, mana mungkin kan pria itu masih menyimpan apalagi memakai baju yang sudah sangat lama sekali.


Atau mungkin saja pria itu sedang mencoba membuat drama baru demi menarik dirinya untuk berempati, tapi, tidak. Illona tak akan tertipu untuk kedua kali dengan orang yang sama.


"Kamu bisa pergi, barangkali keluargamu mencari," anak dan istri maksudnya.


"Aku mau di sini," jawabnya pelan, lalu menunduk. Menyembunyikan kristal bening yang siap meluncur.


Tuhan...


Rasa ini...


Perasaan serta tubuhnya benar-benar bergetar.


Ia tahan sekuat tenaga agar tubuhnya tak lancang menarik Illona dalam pelukan.


Ia ingin..., sungguh, ia mau memeluk atau mungkin mengecup lembut kening Illona, bernostalgia bersama.


Cara membuat seseorang tak nyaman adalah dengan menganggapnya tak ada. Persis yang sekarang Illona lakukan.


Sebenarnya Illona penasaran untuk apa pria itu ada di sini, lebih-lebih menunggui dirinya. Dan kemana pria itu pergi setelah 12 tahun mereka tak bertemu. Kemana pria itu pergi setelah melukai hatinya dengan keji, dimana wanita serta anak yang dulu sekali pria itu pilih dibanding dirinya dan bayi mereka, juga untuk apa ia kembali setelah 12 tahun menghilang.


Bagaimana kehidupannya, apa ia berhasil menjadi seorang pelukis, bagaimana ia hidup setelah membuat Illona nyaris memilih mati dibanding bertahan. Dan masih banyak pertanyaan yang ingin sekali Illona tanyakan. Ia penasaran, serius deh, bisa banget ini orang datang pas Illona lagi banyak-banyaknya masalah.


Tapi, Illona gengsi, Gila aja dia mau tanya-tanya seolah mereka adalah teman lama yang terpisahkan. Sisi dalam hatinya ingin tahu, tapi, enggak deh nanti Ibra merasa kalau dirinya masih peduli dan mengharapkan mereka kembali.


Enggak yah, Illona anti ngasih kesempatan kedua, mana masalahnya berat lagi. Ia tak sebaik hati itu. Jadi mening ia pura-pura tidur sembari memikirkan tindakan apa yang harus ia lakukan saat bertemu Ysabelle, pasti yah Illona kena ceramah panjang dengan nada diatas rata-rata.


Apa ayahnya baik-baik saja?

__ADS_1


Tuan pemarah dan pengatur itu enggak kenapa-kenapa kan?


Pasti baik-baik saja kan? Ysabelle akan marah jika suaminya tak di tangani dengan baik. Pasti, ibunya akan melakukan apapun demi pria yang di cintainya setengah mati, tak akan membiarkan apapun keluar dari pengawasannya. Omong-omong apa ibunya tahu ia pingsan dan dirawat di sini. Atau sudah tak peduli.


"Tadi, Ibu kesini liat kamu, beliau khawatir banget," suara Ibra tiba-tiba.


Illona berbalik, memicing tak suka, apa pria itu bisa membaca hatinya. Bisa bahaya kalau iya.


Dan apa-apaan tadi? Ibu? Ibu dari Hongkong! enak saja.


Meski Ysabelle aneh ia tak sudi berbagi ibu dengan mahluk sejenis Ibra yang berengseknya enggak habis-habis.


"Ibu! ibu! ibu prett!" ketus Illona sembari manyun, sinting yah tuh lakik satu.


Tapi, tunggu ada yang lebih sinting dari Ibra, yah, Illona sendiri karena tiba-tiba hatinya menghangat kala senyum Ibra terbit.


Lho, kok, hatinya jadi pengkhianat begini, cih, enggak yah Illona enggak akan luluh dengan gampang, enak aja. Setelah merusak lalu masih di terima dengan baik itu **** namanya.


Udah yah, hatinya, tolong! jangan murahan, gegara senyum doang ia bisa luluh.


Ingat Illona apa yang udah terjadi juga hancurnya diri.


Sialan emang si Ibra ini, emang paling bisa bikin hatinya lemah.


Dan lagi kenapa harus sih senyumnya bertahan selama itu.


Ayolah hati berhenti merasa nyaman dengan si pemberi kehancuran.


Yok, benci lagi, yok!! Bisa kok! bisa banget malah.


***

__ADS_1


Sorry for Typo...


Terima kasih sudah membaca💙💙💙


__ADS_2