NONA

NONA
Mencoba menerima


__ADS_3

Suara hujan, kopi yang masih panas dan kebisuan mereka.


Illona dan Ibra.


Entah sudah berapa menit mereka hanya diam dan tak ada yang ambil suara.


"Gimana kabar anak kamu?" tanya Illona akhirnya, kesal juga ia kalau harus tak bicara.


"Anak yang mana?" tanya Ibra bingung.


"Punya anak berapa kamu? sampe enggak tau anak yang mana!" katanya, "hobi kok tanam benih, tanam saham dong!" cibirnya.


"Oh, baik, sekarang dia udah masuk SD."


Illona diam, berarti Ibra masih rutin berhubungan dengan si setan Fransiska kan? tapi kok, wanita ular itu malah jadi simpanan nya si Adrie sih? apa Ibra ini di selingkuhi?


"Bukan anak ku dengan Fransiska Ta, anak itu kan adik aku sebenarnya, cuman yah gitu," katanya tanggung.


Gitu gimana sih maksudnya si Ibra ini, makin enggak ngerti Illona. Soalnya, baik Taka atau Ysabelle enggak rinci banget ngomongnya.


"Aku enggak tau namanya siapa Ta, karena saat memutuskan untuk pindah ke US aku udah enggak mau tau apa-apa lagi. Mirisnya anak itu di simpan di panti." sedikit emosinal sebenarnya, karena mau tidak mau darah yang mengalir dari anak itu sama dengannya. Ibra punya hubungan batin yang cukup kuat, tapi jika Ibra berlaku bagai malaikat dengan cara mengurus sang adik, Ibra takut, Hati ibunyalah yang akan sakit. Maka memilih membiarkan anak itu berada di panti adalah jalan yang bisa ia ambil.


Ibra tak mau ada hati yang terluka kembali.


"Oh," jawab Illona sembari melempar pandangan. Omong-omong mereka ada di cafe milih Ibra, Illona bisa lihat ada dua pasang remaja yang malah main hujan-hujanan sambil bawa balon. Cih, kalau sakit baru tahu rasa.


"Terus anak kamu yang SD ibunya?" Illona deg-degan lho yah pas nanya, pasalnya ia tak yakin jika hatinya tak terluka bila tahu kalau Ibra ini punya istri. Kadang ia juga tak paham dengan kerja hatinya sendiri.


Cewek kan gitu, suka bingung sendiri.


Tapi kata ibunya Ibra bahkan enggak menikah kan?

__ADS_1


"Namanya Olive, dia itu aku adopsi. Bayi itu di buang, saat itu aku depresi." katanya pelan, ia tatap Illona penuh perasaan.


Illona memicing, mencari kejujuran di mata pria itu. Dan yang Illona lihat adalah sorot penuh penyesalan dan rindu.


"Aku udah denger semuanya," kata Illona.


Ia sedang mencoba menerima dan memberi maaf pada Ibra dan dirinya sendiri.


"Dan aku maafin kamu," lanjutnya.


Sudah akan memeluk, Illona menolak, ia berikan senyuman tulus untuk pria itu.


"Tapi, mungkin aku butuh waktu yang lebih lama untuk menyembuhkan diri sendiri," menghela nafas dengan tatapan masih tulus, "aku mau belajar menerima, memaafkan diri sendiri, sama seperti aku belajar memaafkan kamu. Seringnya aku gagal, aku baru sadar kalau aku enggak benar-benar sembuh. Aku cuman lari dari kenyataan dengan cara buat masalah dan masalah. Sangat enggak keren yah?"


Tanpa sadar Ibra mengangguk, ia tahu amat tahu kalau hubungan sejenis percintaan akan sulit mereka bangun kembali.


Mereka belum percaya dan menerima.


Mereka memutuskan untuk menerima, memaafkan meski tahu akan sangat panjang waktu yang di butuhkan. Tapi, tak apa, setidaknya kali ini mereka mencoba. Bukan malah berperan bagai pengecut yang terus lari dari masalah dan berdiam diri begitu saja.


Luka itu akan selalu ada, sakit itu pasti. Tapi yang penting bagaimana cara menyembuhkan dan tetap berdiri tegar akan menjadi tugas paling sulit untuk di kerjakan.


"Well, aku mau ketemu sama anak kamu? gimana tampangnya?" cara pertama menerima adalah dengan mau bersikap seperti biasa. Illona tak akan lupa dengan luka yang ia punya, ia hanya perlu menerima dan menjadikan itu pelajaran berharga.


"Olive pasti seneng deh ketemu kamu, dia selalu nanya kenapa matanya biru sedangkan aku enggak. aku suka jawab karena dia punya ibu yang kayak barbie makannya matanya biru. Dia montok banget tau, suka banget cookies coklat, suka ganggu kalau aku lagi bikin laporan seringnya malah suka ganggu acara kencan aku masa." katanya dengan semangat, Ibra sedang mencoba sama seperti apa yang sedang Illona lakukan.


"Cih, kayak yang iya aja laku! katanya sibuk ngegalau." cibir Illona, padahal di hatinya berharap kalau Ibra memang enggak pernah dekat sama perempuan lain.


"Kan sekali-kali suka khilaf," kekeh nya.


"Cowok mah gitu sama aja." harusnya Illona biasa, enggak apa juga kan kalau semisal Ibra tidur sama cewek lain, bukan malah jadi enggak rela.

__ADS_1


"Kamu juga suka yah, sewa-sewa cowok mana enggak ada yang bagus lagi," semprot Ibra. Mereka ini imbang, jadi enggak boleh saling menjatuhkan.


"Tapi mereka enak," mencebik kesal. Kok si Ibra bisa tahu kelakuan binalnya? apa ibunya yang ngomong.


"Enakkan aku kali, itu bibir minta di cium yah?!"


Dan mereka bahkan lupa, dulu saling menambah luka sekarang malah asik bercanda seolah tak ada apa-apa.


Mereka bersyukur, dari banyaknya sakit hati, masalah yang tak henti memang jalan paling benar adalah menerima apa yang sudah terjadi.


Illona makin kagum pada dirinya sendiri, tumben nih yah, ia enggak ngedrama atau buat masalah baru. Malah bersikap bak wanita dewasa sesuai umurnya.


Ya..., kali Illona mau terus begitu, setelah ia pikir pun sebenarnya semua terluka. Hanya saja yang membedakan siapa yang mampu menerima dan memaafkan lebih dulu. Telat sih, tapi daripada enggak sama sekali kan?


Ia lega, masalahnya satu selesai, meski belum sepenuhnya. Karena masih ada dua hal yang Illona simpan.


Anak mereka dan hal paling rahasia yang Illona pegang sendiri.


Tapi, kayaknya Illona tahan dulu. Biarkan mereka menerima dulu baru Illona kasih tahu, karena jujur saja Illona selalu terluka bila itu yang di bahas.


Lebih baik memang ia simpan dulu, setelah waktunya ia akan menjelaskan segalanya.


Ah, Illona hampir lupa masalahnya dengan Ares. Mereka putus dengan cara enggak banget kan? kira-kira itu orang udah nikah atau malah pilih kumpul kebo? Ih, Illona ngeri sendiri, ia kira ialah wanita paling bermasalah. Tahunya masih banyak, banyak banget wanita-wanita dengan kelakuan macam iblis yang kabur dari neraka.


Illona jadi kepo, gimana sih otaknya tuh lakik, kok bisa kelakuannya begitu. Tapi, yah. Tapi, enggak penting juga sih.


Bodo amat ah, pusing.


"Tapi, kapan-kapan kita bisa check in kan?" tanya Ibra jahil dan jawabannya adalah lemparan tas juga delikan tajam.


Ini orang di kasih hati minta jantung yah! bener-bener enggak ada akhlak!

__ADS_1


__ADS_2