NONA

NONA
Membuka masa lalu


__ADS_3

Illona itu polos, naif dan mudah di bodohi juga di buat percaya. Hingga masuk kuliah pun ia tak mengenal kata cinta dan pacaran.


Sebab hidup di lingkungan dengan penjagaan super ketat membuat Illona tak bisa leluasa berbuat sesuka hati.


Hingga Illona mulai di lepaskan dan di bebaskan memilih apapun termasuk masuk fakultas Seni rupa. Ia jatuh cinta pada setiap lukisan yang ia lihat lebih-lebih pada kakak tingkat yang Illona lihat lukisannya.


Namanya Ibra dan Illona tak tahu nama panjangnya.


Lelaki pertama selain ayahnya yang diam-diam ia kagumi. Ia cari aktivitas lelaki itu di beberapa sosial media, juga segaja ikut organisasi yang Ibra ikuti, lalu seolah semesta memang merestui, mereka dekat dan makin dekat dengan status pacaran. Saking dekatnya tak ada lagi sekat milik mereka. Illona menyerahkan segalanya di dua bulan mereka jadian.


Bodoh dan Illona mengakui itu, tapi tak membuatnya jeda untuk melakukan lagi dan lagi.


Illona jelas jadi ketergantungan dan ketakutan saat satu hari saja Ibra tak menghubunginya. Ia takut kalau-kalau di tinggalkan setelah menyerahkan segalanya. Tapi, ternyata Ibra selalu kembali padanya apapun yang terjadi. Illona meyakini itu di tahun pertama mereka bersama.


Illona makin gembira kala kedua orangtuanya memberi izin dan membiarkan mereka berhubungan.


Semuanya terasa amat sempurna dan Illona terus-terusan mensyukuri itu semua.


Hingga di tahun kedua mereka bersama semua tak lagi sama.


"Mau kemana?" tanya Illona sembari merapihkan rambutnya yang acak-acakan. Menyandarkan tubuh yang di balut selimut setelah sesi inti mereka selesai.


"Aku di telepon papa di suruh pulang dulu enggak apa-apa kan?" jawab Ibra lembut, dengan tangan yang mengelus pipi Illona sama lembutnya. Sedang meyakini sang wanita bahwa memang ayahlah yang menghubungi.


Dengan polos Illona mengangguk, sebelum berujar, "hati-hati yah, kalau udah sampai rumah telepon aku." yang di balas Ibra dengan memberikan kecupan di kening wanitanya.


Illona terlalu polos dan percaya, hingga Ibra memang sering pergi setelah itu.


***


"Sekarang jadi kan pergi ke pameran? kamu udah janji sama aku," rajuk Illona dengan bibir yang sengaja ia manyunkan.


"Aku kan sekarang udah mulai kerja sama papa Ta," jawab Ibra. Jelas saja jawaban itu membuat Illona makin kesel, mendelik mata lalu membuang wajah tak suka.

__ADS_1


Selalu saja, ini sudah tiga kali mereka gagal ke pameran.


"Kamu udah janji," kata Illona pelan. Menahan sekuat tenaga untuk tak menangis, selain kesal ia juga sedikit takut dengan beberapa gosip tentang sang pacar.


"Aku kerja kan buat kamu juga, aku jadi bisa bayarin barang yang kamu mau, terus aku juga bisa bayarain uang kuliahku sendiri." Jelas Ibra sabar, ia pun ingin tapi ada kewajiban lain yang tak bisa ia abaikan.


"Terserah kamu aja." lalu tak ada lagi jawaban atau bantahan dari Ibra pun Illona yang sudah malas merayu. Bukannya ia sudah jadi pacar baik selama beberapa bulan ini. Tak menyusahkan bahkan tak meneror jika Ibra tak ada kabar. Tapi, Ibra malah semakin acuh padanya.


"Tolong mengerti Ta, aku juga punya kewajiban lain."


Illona sudah bosan dengan kalimat yang selalu saja di ulang pria itu, bukannya Ibra juga harusnya mengerti bahwa hubungan mereka kini terasa renggang dan hambar. Ia akan datang saat butuh pelepasan kemudian pergi tanpa penjelasan.


Illona ingin marah, ia juga ingin di utamakan seperti awal hubungan, tapi Illona selalu gagal untuk mengungkapkan juga berlaku tak peduli pada Ibra.


"Terserah." Yang Illona mau Ibra peka dan mengerti bahwa ia sedang marah, kemudian membujuk lalu mereka akan berbaikan. Bukan, bukan malah pergi setelah ia sampai di rumah tanpa kata.


***


Pagi yang cerah dengan senyuman lebih cerah milik Illona. Seolah melupakan kesedihan hari kemarin Illona kembali jadi wanita ceria lagi.


Seharusnya Illona marah, frustasi atau bahkan bingung. Bukan malah berbahagia, seperti saat ini. Pun dengan Ysabelle yang tak bisa berbuat apa-apa mendapati anak gadisnya hamil yang bahkan belum lulus kuliah. Juga Taka yang tak berkomentar banyak meski dalam hati marah dan kecewa atas apa yang terjadi. Lebih-lebih mereka berani melanggar dan berbuat sejauh ini sampai bisa menghasilkan bayi.


Ingin rasanya ia hajar wajah pemuda itu dan ia jebloskan ke penjara, tapi pasti putrinya itu akan menangis dan memohon. Tak mungkin tinggal diam saat sang pacar di habisi oleh ayahnya sendiri.


Illona herharap dengan berita ini Ibranya akan kembali, lalu tak masalah bila mereka harus menikah muda. Malah itu yang Illona harapkan, keluar dari rumahnya sendiri dan bisa lepas dari pantauan ibu dan ayahnya.


***


Illona cemberut dan jadi kesal, pasalnya si Ibra ini kok enggak bisa di hubungi. Apa sih maksudnya. Illona bahkan tak mendapatkan kabar pria itu dari semalam.


"Lha, malah bengong, buru kita ke dokter keburu panas aelah Ita!" Adalah suara Fris--teman beda jurusannya yang amat dekat dengan Illona.


"Tapi, Ibra enggak jawab telepon aku." jawab Illona manja.

__ADS_1


"Kagak usahlah jubaedah, kita berangkat sekarang terus hasilnya lo sodorin di mukanya si Ibra," ketus Fris. Kesal enggak cuman gemas aja kemana perginya Illona si juara kelas dan murid kesayangan guru masa SMA. Bukan malah berubah bagai wanita bodoh dan mengemis cinta begini.


Demi tak mendengar segala macam omelan Fris, Illona menurut juga, memilih pergi ke klinik khusus ibu hamil di banding datang ke rumah sakit. Mereka takut akan ada orang yang mengenali, bisa bahaya satu kampus kalau gosip Illona yang hamil tersebar.


Dengan senyum lima jari, Illona bersenandung riang bagai anak kecil yang baru saja di belikan mainan baru.


Mereka terus berjalan sambil sesekali saling tertawa, lalu dari sepuluh langkah menuju ruang dokter Illona bisa melihat pun mengenali.


Ada pria yang amat sangat Illona kenali dengan baik tengah merangkul seorang wanita hamil yang Illona prediksi baru 4 bulan atau 5 bulan karena masih terlihat kecil.


Juga saat di lihat dari samping, Illona pun amat mengenali siapa wanita itu, yang langsung membuat Fris menegang. Takut-takut ia menoleh demi melihat ekspresi Illona.


Datar dengan tubuh bergetar.


Meneguk ludah kelu pun debar menyakitkan. Illona sedang meyakini banyak hal.


Bahwa pria yang ia lihat bukanlah Ibra-nya.


Ada banyak wajah di dunia ini yang memiliki kemiripan kan?


Juga bukan wanita itu, bukan wanita yang Illona kagumi serta ia anggap sebagai kakak dan ia percayai sebagai wanita baik-baik yang kini ada di rangkulan pacarnya.


Bukan mereka kan? Bukan Ibra pun bukan Kakaknya Fris?


Karena bila itu memang benar, Illona tak tahu bagaimana cara memaafkan dan melupakan ini semua.


Seolah di komando mereka berdua lantas berbalik, bisa Illona lihat wajah Ibra yang pias dan wajah Fransiska yang menyeringai.


Yang di balas dengan satu senyuman sebelum berbalik dan pergi dengan menghempaskan tangan Fris kasar.


***


Sorry for typo...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca💙💙💙


__ADS_2