NONA

NONA
Inara Khaira Athalla


__ADS_3

Inara Khaira Athalla.


Adalah hal paling berharga yang tak bisa Illona pertahanan.


Bayi yang mungkin mirip dirinya atau Ibra, yang sayangnya di lenyapkan begitu saja.


Yang bahkan belum terbentuk rupa, tapi sudah luruh begitu saja. Seharusnya ia jaga, rawat dan bahagiankan. Bukan malah berpasrah diri, karena yah, Illona tak di beri pilihan untuk mempertahankan.


Ia bahagia, sangat. Kendati hadir dengan cara yang tak bisa di benarkan.


Illona setulus hati mencintai sang putri.


Bayi yang ia kira bisa membuat dirinya dan Ibra bersama, bukan berpisah tak tentu arah dengan segunung luka hati yang sulit sembuh, hingga saat ini.


Ia berkhayal memilik bayi lucu serta Ibra sebagai suami. Mereka menikah, membangun keluarga penuh cinta dengan berbagai kompromi di dalamnya.


Bodohnya, ia malah merancang mimpi-mimpi indah yang dibangun di atas sebuah dosa dan mungkin tak akan ada restu orangtua.


Ia mabuk oleh perasaan paling di junjung tinggi, ia terlena pada apa yang telah terjadi juga lupa pada setiap hinanya perbuatan.


"Waktu itu aku bingung, tapi aku suka banget sama nama itu," itu suara milik Ibra. Setelah acara enggak jelas di cafe, mereka ada di sini. Ia juga sudah mengantarkan Olive ke rumah, meski anak itu jadi cemberut dan merasa kalau papinya mau di rebut.


Karena memilih pergi dengan Illona bukan dengan dirinya.


Mereka ada di tempat dimana separuh jiwanya tinggal. Alasan sebuah luka, serta tak bergunanya mereka sebagai manusia.


Tempat bayi tak berdosa yang dulunya Illona inginkan setengah mati.


"Dia, bahkan belum kebentuk," katanya serak, Illona tahu pria itu sedang mati-matian menahan tangis.


"Aku..." tersenyum patah, "... seringnya sengaja melupakan, demi, enggak ngerasa sakit, tapi..., semakin aku coba semakin enggak bisa." menunduk makin dalam dengan tangan yang ia kepal kuat, "Aku selalu ngarang kita bisa jadi keluarga bahagia, punya galeri lukis, ada anak-anak yang lucu yang bakal mengacau kalau aku mulai ngegambar, lalu ada kamu yang suka marah-marah tapi, tetep bikinin kami makan malam, kamu tau? itu yang aku bayangin setiap mau tidur."


"Aku ulang-ulang, sampai... aku sadar, aku udah bikin hancur. Kamu bener pas bilang kalau kita cuma pura-pura sembuh padahal masih sangat rapuh." Ia tatap Illona dengan segenap perasaan, ia mau Illona paham, kalau Ibra masih sangat ingin kembali dan mencintai.


Setitik air mata Ibra usap dengan hati-hati, seolah takut akan menyakiti, lalu setelahnya malah berlutut.


Dan Illona tak mampu menjawab, ia hanya bisa mengusap punggung pria itu yang bergetar kuat. ia remas bahu pria itu erat, ia pun sedang menyalurkan bagaimana hatinya remuk.

__ADS_1


Ia selalu menghindar bila bersangkutan dengan masa lalu, seringnya ia abai, demi tak mengingat. Padahal selalu ada air mata di sepanjang malam sepi, ia terlalu takut untuk benar-benar menerima. Sebab lukanya memang tak main-main.


Mereka tak benar-benar sembuh dan malah membuat peran baru, menjadi pengecut yang takut terluka. Tapi, diam-diam malah makin melukai diri sendiri.


Miris.


"Aku cinta banget sama kamu, Ta, sama kayak aku sayang banget sama Inara."bisiknya terluka.


Menangkup wajah Ibra, ia sejajarkan dengan wajahnya, "Kamu harus bangkit, sama seperti aku yang sedang coba untuk sembuh. Aku sayang sama kamu tapi, kita enggak bisa sama-sama lagi, aku punya satu rahasia dan aku yakin kamu enggak akan terima."


"Apapun, Ta. Apapun, aku terima. Kita bisa sama-sama."


Menggeleng kuat, Illona tak sanggup, ini gila dan Illona yakin Ibra tak mungkin menerima.


"Apa Ta? apa? aku enggak masalah, sayang. Yang penting perasaan kita sama." ia peluk kuat, sembari menenangkan debar diri. Jiwanya sedang memberontak lelah dengan keadaan yang terus menyakiti mereka, padahal mereka punya kesempatan untuk bersama. Tapi, mengapa amat sulit untuk di kehendaki.


Nak, boleh yah, kali ini papa sama mama bahagia, batinnya menjerit pedih.


Tuhan...


Hatinya ngilu, kala suara tangisan Illona begitu memilukan.


Dan tanpa mereka sadari, tepat di arah 10 meter ada dua orang yang tak jauh beda dengan mereka.


Taka di kursi roda dan Ysabelle dengan kacamata hitam sedang sibuk tergugu.


Batin mereka di pelitir, di tampar dan di kuliti habis-habisan saat Illona-nya menangis dengan penuh raungan penyesalan serta sakitnya diri.


Salah mereka karena tak mampu menjaga pun mempertahankan. Bukan malah berlaku bagai iblis jahat demi kebaikan sang putri.


Ini. Ini hasilnya, bukan membantu meringankan dosa dengan mempertahankan malah di buat bertambah dengan menghilangkan.


Niat hati ingin berkunjung pada sang cucu yang sudah lama tak pernah mereka kunjungi semenjak Taka masuk rumah sakit, tapi pemandang Ibra dan Illona yang menangis dengan duduk di tanah sambil berpelukan, benar-benar membuat sesak dada.


Kalau saja, waktu bisa di ulang dan di perbaiki. Maka dengan senang hati Ysabelle dan Taka akan mempertahankan bayi itu dan mungkin sekarang sudah besar dan sekolah. Tak apa bila saat itu Ibra enggan bertanggungjawab, toh, mereka punya uang untuk menghidupi Illona dan anaknya. Mereka masih sangat kuat untuk melindungi dan memastikan semua baik-baik saja. Bahagia yang akan mereka tuai, bukan derita yang malah tak pernah pudar.


Ah, lagi-lagi angan yang hanya bisa di upayakan kala pemikiran dan perasaan sudah sangat amat lelah dengan keadaan.

__ADS_1


Dengan tertatih Ysabelle dorong kursi roda, takut bila Ibra atau Illona tahu ada mereka.


Sempat protes, Ysabelle cubit lengan sang suami agar mengerti.


Karena dari awal ia tak mau Illona tahu kalau mereka pun terluka, bagi Ysabelle itu akan menjadi beban baru untuk sang putri dan ia tak mau.


***


"Aku enggak bisa," menggeleng kuat, "aku enggak bisa." katanya lagi dengan suara lemah dan mata sembab.


"Kenapa enggak bisa? kenapa?" tanya Ibra keukeuh.


"Enggak bisa Ibra!" jawab Illona keras, ia langsung berdiri melepaskan pelukan mereka.


"ENGGAK BISA KENAPA?!"Ibra bahkan tak sadar sudah membentak. Mereka sudah sangat emosional dan lelah.


"KARENA AKU ENGGAK AKAN BISA PUNYA ANAK! RAHIMKU DIANGKAT!" dan Yah, itulah alasan di balik alasan sebenarnya.


Menolak Ares pun Ibra. Berbohong dengan alasan prinsip, tak memberi kesempatan kedua. Nyatanya itu hanya Alasan.


Karena, yah..., Illona tahu ia sudah sangat cacat.


Ibra mematung sama seperti Ysabelle dan Taka yang bahkan bisa mendengar suara bentakan lllona. Mereka baru dua langkah dan buru-buru Ysabelle menoleh.


Apa katanya?


Enggak bisa punya anak?


Rahim yang di angkat?


Lawakan apa lagi ini?!


Karena kalau iya, mereka tak tahu lagi bagaimana cara menebus dosa.


Yang kemarin saja belum bisa mereka maafkan dan tebus, ini sudah ada yang baru.


Tolong yah, tolong, tekanan darah Ysabelle bisa naik dan Taka bisa kambuh. Juga Ibra yang mungkin akan gila. Bila itu memang sebuah kebenaran.

__ADS_1


benar-benar enggak ada obat buat masalah mereka.


Wakacau balau!


__ADS_2