NONA

NONA
Pelan-pelan


__ADS_3

Illona masih sinis.


Adalah kalimat yang Ibra ulang-ulang dalam hati sejak tadi.


Sejak insiden tas melayang, yang ternyata lumayan juga. Lumayan bikin pening maksudnya, ck, Illona ini memang makin bar-bar.


Apa Illona ini bawa batu bata kemana-mana, sepenglihatan Ibra tasnya lumayan berat lho yah.


"Kamu enggak mau lebih lembut gitu sama aku?" tanyanya sembari tangan kiri sibuk mengusap kening. Untung saja tak benjol, atau jadi lupa ingatan, lha, Ibra juga kok malah jadi lebay begini.


"Cowok yang kelakuannya sebelas duabelas sama setan haram di lembutin," ketusnya. Untung saja Illona tak khilaf mengeluarkan jurus karate yang selama lima tahun ia pelajari. Jaga-jaga kan Illona suka banget buat masalah.


"Yah, sesukanya kamu deh, eh, kok malah bangun? mau kemana?" tanya Ibra panik. Tolong yah, mengerti. Ibra ini masih kangen banget sama Illona, masa iya harus udahan sih ngobrolnya.


"Salon." jawabnya pendek.


"Mau di lulur?"


"Mau potong rambut."


"Oh, mau aku anter?"


"No, thank." lalu yah si Illona ini malah langsung pergi tanpa kata lagi. Antara mau ngejar macam film india terus main tarik-tarikan biar lebih menjiwai tapi, enggak deh. Ibra harus lebih dewasa kan? jangan sampai hubungannya dengan Illona kacau lagi.


Ia harus santai, tenang dan berpikir dewasa. Jangan buru-buru dan egois.


Ah, Ibra merasa keren sekarang, karena ternyata ia tak butuh psikolog untuk membantu mengatur diri.


Ck, Illona, Illona, kenapa sih Ibra harus cinta setengah gila gini sama itu cewek.


***


Illona mengumpat.


Ia sengaja jalan pelan-pelan, takut kalau-kalau si Ibra itu nyusul. Tapi, buktinya mana? boro-boro nyusul cegah juga kagak.


Please, yah, Illona itu lagi main ala-ala perempuan merajuk terus di bujuk, ini mah gagal deh kayaknya.


Dan ngapain juga sih Illona repot-repot mainin ginian.


Jadi sebal sendiri kan?


Illona pikir Ibra bakal maksa buat nganter ke salon, bukan malah bengong mirip orang ****.


Yah, walau yang lebih bodoh Illona sih, enggak ada manfaat banget kelakuannya. Toh, mereka juga bukan pasangan kan, kenapa juga hatinya malah merasa tak rela karena di abaikan.


Punya hati kok yah murahan banget, gampang gitu luluhnya apalagi sama si Ibra yang kelakuannya enggak banget.


***


Ares tahu, setelah memilih membawa Odel dan dua anaknya, hidupnya tak pernah terasa benar.


Harusnya ia tak perlu pergi sejauh ini hanya untuk menyelamatkan keponakan dan kakak iparnya. Bisa kan Ares titipkan di rumah sang ibu, tapi mana sudi Anggi menampung, ibunya masih amat marah dan dendam sepertinya.


Belum lagi ayahnya yang terus meneror, Rico yang kelabakan karena kantor yang ia tinggal serta Andrie yang sudah sangat siap menghajar dirinya.

__ADS_1


"Om, aku dulu pernah lihat ibu di pukul tahu," itu suara Adel memberitahu. Anak yang dulu sempat Ares pikir miliknya ternyata milik kakaknya sendiri.


"Dipukul?" tanya Ares tak mengerti, ia angkat Adel hinggal duduk di pangkuannya.


"Iya, gara-gara ibu salah ambil baju." Adel lalu merapihkan rambut keriting miliknya dengan amat centil, ah, Ares jadi ingat. Gaya itu, gaya milik Odel.


"Aku kaget tau, terus aku tutupin deh telinga dedek supaya enggak denger ayah marah-marah," katanya lagi.


"Kok bisa?" Ares menghela nafas gusar, ia tak tahu, jika sang mantan istri akan mendapatkan perlakuan amat buruk dari kakaknya belum lagi masalah menyimpan wanita di apartemen miliknya.


Apa Adrie lagi borong kelakuan super bejat supaya cuman dia yang punya? Ares geleng-geleng enggak paham.


Ares makin miris kala Adel terus bercerita tentang ayahnya yang jarang pulang. Juga hobi marah-marah bila Odel membuat kesalahan.


Dan fakta yang membuatnya amat terluka, Adel dan Adreas tak pernah di terima di rumah kakek neneknya sendiri.


"Kalau aku suka main sama dedek, terus enggak boleh ambil nugget lebih dari 2 sama nenek." Ares tahu, amat tahu. Bila karma memang seringnya datang dengan lebih kejam. Tapi, apa harus kedua anak kecil ini merasakannya juga?


Ares memilh memeluk, ia menangis dalam diam. Lalu matanya makin sendu kala ada Adreas yang kini menatapnya penuh binar, karena baru saja ia hadiahi mobil-mobilan yang bisa di naiki.


Ada Odel di dekat guci, ia cubit tangannya kuat-kuat, sebab bila tidak ia yakin ia akan meraung, menangis di depan kedua anaknya.


Tuhan, Odel menyesal.


Sejak memutuskan mengiyakan keinginan Adrie, ia sudah menyesal.


Menjebak Ares yang bahkan pria baik-baik, merubah diri pria itu menjadi pria kurang ajar yang gemar main wanita, melanggar sumpah yang ia amini dalam pernikahan mereka. Juga banyaknya dosa yang ia tabur dalam keadaan sadar.


Ah, Odel rasa ini balasan paling benar dari semua kelakuannya. Dan jangan lupakan bahwa ia dan kedua anaknya tak pernah di terima di rumah orangtuanya sendiri pun mertuanya.


Mana mungkin!


Ia terlalu tak tahu diri bila begitu.


Ada Illona wanita amat sempurna yang Ares beri hatinya kini.


Illona yah, wanita luar biasa yang Odel kagumi. Terlepas dari skandalnya bersama sang suami, ia yakin Illona tak suka pada Adrie. Wanita itu hanya sedang membalas apa yang Ares lakukan.


Seharusnya mereka bersama dan bahagia, bukan malah masuk dalam masalah yang Odel dan Adrie miliki.


Bodoh! harusnya Odel kabur saja, tak usah membuat drama hingga mereka bisa sejauh ini.


Lagi-lagi Odel yang salah kan? pantas saja Adrie punya yang baru.


Ibu dua anak itu makin menggigit bibirnya, ia harus berpikir lagi. Berhenti membuat orang lain terkena masalah.


Nak, kita bisa kan kalau hanya bertiga? katanya dalam hati.


***


"Papi, aku cantik enggak?"


"Cantik banget, mirip putri kerajaan," jawab Ibra lebay.


Ada Olive yang baru saja mandi dan heboh masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Kata orang-orang aku ini bule papi?" tanyanya dengan mata yang ia buat melotot.


"Mereka sirik sayang, soalnya kamu cantik banget..." Ibra jongkok, "Kamu itu istimewa, special," lalu Ibra tarik dalam pelukan. Anaknya memang lebih sensitif, mungkin saja Olive selalu merasa beda dengan Ibra atau dengan sang nenek.


"Lho, kok lagi pelukan, yuk makan! tadi ada yang minta di bikinin spaghetti bolognese lho," itu suara Raini, wanita paruh baya yang amat cantik dan baik. Bodoh memang Ganesh melepas berlian demi batu kali.


"Oh, iya lupa." Olive malah berlari keluar dengan heboh. Terlalu bersemangat, sebab selama di Indonesia anak itu hanya makan makanan khas Indonesia.


"Kamu kelihatan bahagia? gimana Ita?" Raini memilih bertanya, ia penasaran. Ibranya sudah kembali seperti semula dan Raini bersyukur. Ia tak henti bersyukur pada Tuhan di setiap sujud.


"Kami baik, sedang belajar memaafkan dan menerima, aku ngerasa lebih baik bun." Jawaa Ibra dengan senyuman yang amat jarang pria itu tampilkan.


"Doa-in aku supaya Illona mau sama aku lagi, terus mau jadi mamihnya Olive."


"Aamiin," Raini tahu setiap cobaan dan masalah pasti akan selesai hanya saja semua butuh waktu. Sama seperti dirinya yang menerima apapun tentang sakitnya kehidupan pernikahan serta Ibra yang butuh waktu panjang untuk bisa ada di titik ini. Bisa tertawa lepas dan punya binar bahagia.


"Selalu deh lama, Olive lapar," Teriak anak itu sembari bersidekap sebal. Papi sama neneknya hobi pelukan sambil mata yang mau nangis, mirip anak kecil. Padahal yang anak kecil kan Olive.


Yang malah di jawab tawa oleh Ibra dan Raini.


***


"Wow, ada putri di sini?" jika dulu Illona tak berani demi alasan menghormati maka kali ini lain ceritanya.


Hebat juga, selama 12 tahun ia berhasil bersembunyi dari Illona atau ia saja yang tak fokus mencari.


Fransiska menoleh, memastikan suara siapa. Ada wanita dengan wajah Barbie lengkap dengan setelan kantor. Jujur saja ia tak mengenalinya, ditambah lensa warna biru dan make-up yang amat berani.


"Illona Arzeitta Regastaka, ingat?" Illona menyeringai puas, wajah Fransiska kentara sekali terkejut.


Mari bermain-main!


"Enggak ada yang berubah yah? malah kok kelihatan kayak gembel?!" Illona memang berniat merendahkan. Tapi, benar kok, tampilannya enggak banget, masih bagusan tampilan Sofia--sekretarisnya, Illona yakin si Fransiska ini enggak skincare-an, soalnya buluk gitu. Enggak ada barang branded yang di pakai Fransiska juga, kok. Bisa yah, simpanan lebih burik dari istri sahnya? heran, Adrie lihat apanya sih? kalau mau nyari wanita lain tuh harusnya yang lebih dari istri sah lho, bukan malah kebalik begini.


"Jadi simpanan kok enggak punya apa-apa? makanya kerja! bukan malah asik jadi pelakor!" well, Illona sengaja menaikan Nada suaranya.


Ada beberapa orang yang melirik penuh minat bahkan ada yang mengeluarkan ponsel demi merekam dan di upload di media sosial, kali aja viral kan rame.


"Kam-"


"Bener dong?! apa si Adrie itu kikir sampe simpanannya aja enggak di dandanin? atau yah cuman buat mainan di ranjang? ihh ngeri!


ck, bodoh kok dipelihara sampai bertahun-tahun sih?" Illona puas, ia tahu kata-kata kemarin untuk berlaku dewasa sedang ia langgar, tapi siapa peduli di depannya ada wanita jadi-jadian yang hobi banget ngerusak kebahagian orang lain.


"Gila sih! dulu rebut calon suami orang, jadi simpanan bapak temennya, sekarang malah jadi piaraan suami orang juga," tersenyum sinis, "jangan sampai satu Indonesia mengujat yah!" bisiknya lalu mengerling jumawa. Fransiska cuma bengong, kaget dan bingung. ia tak menyangka akan bertemu Illona saat kondisi seperti ini, mirip gembel kalau kata Illona. Yaiyah, ia di buang kok.


Kali ini wanita itu harus tahu, rasanya di sakiti dengan kata-kata, berdoa saja semoga mereka tak viral dan boom! Fransiska resmi jadi bahan hujatan seluruh rakyat karena kelakuan mirip setannya.


Bagus Illona!


Ia jadi merasa bangga dan keren.


Ia benar-benar mempesona barusan.


Salah sih dulu pakai nyari gara-gara sama Illona, lihat kan gini akhirnya.

__ADS_1


Ck, punya otak tuh harusnya di pakai, bukan malah sengaja di simpan sampe karatan. Gitu, tuh, hasilnya, atau emang di Fransiska enggak kebagian otak kali yah, jadi kayak gitu kelakuannya.


__ADS_2