
Illona menggurung diri, tak mau siapa pun masuk bahkan melarang orang rumah untuk menemuinya.
Hatinya sedang patah lengkap dengan perasaan sesal yang memburunya.
Di usapnya air mata yang terus mengalir, seolah sedang berebut untuk bisa keluar.
Illona tak tahu, tak mengerti pun tak bisa berkata apapun saat ibu dan ayahnya bertanya 'ada apa'. Karena memang Illona sedang amat bingung dengan semua hal yang sedang terjadi.
Ketukan di pintu bahkan tak berhenti sesaat ia masuk, ia menunduk demi melihat dan membatin, bagaimana nasib dirinya dan bayi yang bahkan belum lahir ini.
Ia terlalu terbuai, kehilangan kontrol diri untuk menahan setiap perasaan yang baru kali ini Illona temui.
Rasanya seperti mimpi saat kau di beri kebebasan, lalu mendapat apapun yang dulu di harapkan, hingga membuat Illona lupa diri bahwa ada garis bernama takdir yang tak bisa seenaknya saja Illona abaikan.
Ia tertipu oleh senyum penuh ketulusan, ia abai pada setiap larangan ibu atau ayahnya, ia terberdaya pada mata sayu yang menatapnya seolah Illona adalah wanita satu-satunya, bahkan ia pernah dengan sadar berlaku penuh dosa demi kesenangan sesaat. Yang kini, Illona amat sesali, kalau boleh ia ingin kembali menjadi Illona dengan penjagaan dan pengawasan super ketat dari sang ayah, bukan malah seperti ini. Terluka oleh cinta yang baru ia kenali.
Di usap dengan lembut dan penuh kehati-hatian, Illona sedang berdoa, meminta dan merintih bahwa yang sedang ia alami adalah mimpi, bukan kenyataan yang harus ia telan dan tanggung sendiri.
Memilih berbaring setelah dengan kasar ia melempar ponsel miliknya dan menciptakan kepingan kecil, seperti hatinya.
***
Ysabelle ingin mendobrak bahkan kalau bisa mencecar sang putri, apa-apa tadi, bagaimana bisa Ita-nya datang dengan wajah kacau dan deraian air mata. Ia tak sudi memaafkan siapa pun yang menyakiti sang putri. Meksi ia tahu ia memang jarang ada untuk menemani tapi putrinya tak pernah sekali pun lepas dari pengawasan dirinya dan Taka.
"Dari awal aku enggak setuju anak itu di lepas begitu aja! kamu liat kan gimana hasilnya sekarang?!" Omel Ysabelle tak terima sebab sang suami hanya diam berlagak bagai patung jadi-jadian.
"Terus kita harus apa?" desah Taka frustasi juga menyesal melepaskan penjagaan pada satu-satunya anak yang mereka miliki.
"Apapun itu! kita dobrak deh! itu anak harus di tatar dulu kenapa!" perintah Ysabelle.
***
"Kalian lagi main game?" Tanya Fris kelu, tiba-tiba saja dadanya di bebani berat yang amat sangat hingga membuatnya nyaris tak bisa bernafas.
"Aku mau susul Ita dulu," kata Ibra dengan suara bergetar, ia takut, amat sangat bila wanitanya akan pergi karena kesalahannya sendiri.
"Kamu udah janji anter aku ke dokter kandungan yah!" ketus Fransiska, lalu menahan lengan Ibra dengan erat.
"Tolong, kali ini aja biarin aku ketemu sama Ita, Ka, aku enggak mau kehilangan dia," mohon Ibra.
"Enggak bisa yah! kamu udah janji!"
"Aku emang janji, tapi ada Ita yang juga berhak untuk tahu apa yang terjadi, selama beberapa bulan ini aku sering banget cuekin dia demi kamu." Ibra benar-benar frustasi dan menyesal. Apa sih yang ada di otaknya saat memutuskan pilihan ini. Pilihan yang bahkan ia lakukan dengan keadaan terpaksa.
__ADS_1
"Kalian ini apa-apa sih?!" sungguh Fris tak mengerti, apa kakaknya dan pacar sahabatnya kini sedang main sinetron azab dengan judul menggelikan yang sering ia tonton.
Ibra memilih menghempaskan tangan Fransiska kasar lalu berlari menuju taksi berharap wanitanya mau mendengar dan memahami apa yang sedang terjadi.
Tapi melihat tatapan penuh kecewa dan luka yang wanita itu berikan ia tak yakin semua akan baik-baik saja, terlebih ada Fransiska yang menjadi masalah utama mereka.
***
Ysabelle dan Taka berhasil masuk dengan merusak pintu kamar Illona. Dan yang mereka dapati adalah Illona yang sudah pingsan dengan wajah pucat pasi, lalu ada beberapa kekacauan lainnya.
"Bawa sekarang! malah bengong!" perintah Ysabelle keras. Tubuhnya bergetar dan lemas, ia bertumpu pada sang suami yang tak jauh beda.
Mereka amat terkejut dengan semua ini, ini terlalu berlebihan, Ysabelle menggeleng demi mengembalikan kewarasaan miliknya.
Tenang, bukan apa-apa.
Kembali menjadi Ysabelle yang anggun.
Jangan berlebihan, semua baik-baik saja.
Matra itu sedang ia ucapkan berkali-kali saat Illona sudah berhasil masuk ruang perawatan. Ia bahkan tak ingat apapun sampai mereka berdua menunggu dengan perasaan campur aduk.
Marah.
Kecewa.
Gagal sebagai orangtua.
Juga..., perasaan bersalah yang terus mengulung dan membuatnya tak bisa tenang.
Mantra yang ia ucapkan pun tak mempan, hatinya masih gundah, gelisah juga ketakutan.
Mereka tak tahu bila sang putri bisa berani berbuat sejauh itu.
Dan makin bernafsu untuk menghabisi sesosok pemuda yang kini tengah berlari dengan wajah merah dan ada titik-titik bekas air mata.
Yang ingin Ysabelle tanyakan seberapa lama mereka menunggu hingga si pengacau itu bisa kemari.
***
"Kenapa kak? kenapa harus Ibra! Illona udah baik banget sama kita! bahkan ayahnya kasih aku beasiswa! kenapa bukan cowok lain aja." Fris tergugu dengan posisi berlutut pada sang kakak setelah Fransiska bercerita bahwa ia akan menjadi seorang ibu dari anak milik Ibra.
Ya..., Ibra teman sang kakak pun pacar Sahabatnya yang Fris yakini amat cinta mati pada Illona.
__ADS_1
Bagaimana pria itu selalu mengalah untuk tak makan sehari 3 kali demi bisa membelikan skinscare untuk Illona, bagaimana gigihnya Ibra meyakinkan kedua orangtua Illona yang super galak tapi pemurah dalam bagi-bagi uang, juga bagaimana Ibra yang akhirnya menurunkan ego untuk bekerja di perusahaan sang ayah demi bisa menabung untuk mimpi yang mereka bangun dengan penuh binar dan senyuman memabukan, adalah pernikahan yang mereka idam-idamkan yang katanya akan mereka wujudkan selepas Illona lulus kuliah.
Jadi, rasanya tak mungkin bila pria itu berkhianat bukan? Karena yang Fris tahu Illona sudah menyerahkan pun sekarang mereka bisa memiliki bayi.
Ahh, Fris merasa berdosa pada bayi yang ada di kandungan temannya.
Dan Fransiska hanya bungkam tanpa menjawab apapun lagi.
Karena sebelum memutuskan untuk mengganggu hubungan orang, ia sudah meletakan rasa iba dan peduli nya kan? jadi tak perlu peduli bila Illona akan terluka.
***
Bagai anak kecil yang kehilangan orangtuanya Ibra terus berderai air mata, membuat supir taksi berpikir bahwa penumpangnya memiliki kelainan mental.
Setelah bersabar dengan kemacetan ibu kota, Ibra sampai juga.
Tapi lagi-lagi tubuhnya di buat lemas, sebab Ita atau Illona-nya di larikan ke rumah sakit. Dengan gemetar yang lebih hebat ia paksakan masuk ke dalam taksi, lalu menyebutkan alamat dimana Illona di rawat.
Ibra tak tenang, hatinya makin bimbang kala ia ingat untuk apa wanitanya ke klinik kandungan.
Atau mungkin saja...
Tapi tidak kan? bukan sesuatu yang dari tadi Ibra sangkal.
Bukan hal yang berkaitan dengan bayikan?
Karena kalau memang benar Ibra makin tak tahu harus berbuat apa.
Lalu saat ia sudah hampir mendekati kedua orangtua Illona, berbarengan dengan keluarnya dokter dari ruangan Illona.
Dan Ibra makin ingin menenggelamkan dirinya sendiri saat kalimat sang dokter terucap dan beruntungnya ia bisa mendengar.
"Bayi dan ibunya baik-baik saja."
Tikaman lebih kuat dari sebelumnya tepat menancap di ulu hati Ibra, membikin dirinya terduduk dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengan yang ia jadikan tumpuan.
"Tolong gugurkan bayi itu," suara Taka seolah alarm yang serta merta menamparnya, pria paruh baya yang bahkan tak banyak bicara, pria yang sudah Ibra kecewakan karena berani menyakiti hati putrinya.
Semua tidak benar kan?
Ibra hanya salah mendengar bukan?
***
__ADS_1
Sorry for typo...
Terima kasih sudah membaca💙💙💙