NONA

NONA
Masih kencan sih


__ADS_3

Illona sudah mengumpat sepanjang perjalanan menuju rumah bordil milik Ares.


"Santai dong beb, kamu tetep yang paling cantik," katanya lalu mengerling menggoda.


Mendengus, "Buat apa sih ke sana?" Illona jadi menyesal sudah bertanya pada si kampret di sampingnya.


"Kan kamu yang nanya, sebagai pacar idaman wanita masa kini aku wajib kudu ngasih tahu langsung dong." Tak ada jawaban dari Illona. Ia memilih memalingkan muka ke samping, lalu diam hingga mobil mereka sampai pada rumah mewah bergaya Eropa kuno.


Ragu untuk turun, Illona memilih menekan egonya kuat-kuat lalu keluar.


Memilih berjalan lebih dulu Illona mendadak tak yakin, untuk apa ia kesini dan apa ada manfaatnya? kenapa pula ia mau-mau saja ikut si sialan?!


"Bos, kok baru kesini?" tanya wanita yang Illona yakini seusia dengannya lalu adegan salanjutnya berhasil membuatnya mual.


Ares menoleh hanya untuk melihat ekspresi kekasihnya, datar, tanpa emosi dan Ares tak menemukan raut tak suka pada wajah Illona.


Padahal pacarnya baru di sosor loh, masa Illona tak cemburu atau mungkin mau menampar.


"Saya sibuk dan bisa menyingkir?!" Ares tak suka, lebih tepatnya tak nyaman bila si wanita yang Ares tak tahu siapa namanya masih saja bergelayut manja pada lengannya.


"Kan biasanya suka," katanya dengan suara desahan yang sengaja.


Enggak ada bagus-bagusnya. Sengit Illona dalam hati.


"Ada istri saya tolong," Ares harus mengatur emosinya. Salah-salah ia bisa menyingkirkan wanita ini dari sini tanpa belas kasih.


Serta merta pengakuan Ares membuat Illona melotot dan memalingkan wajah tak suka.


Istri dari Hongkong! Makin sinting aja nih orang. Makinya dalam hati.


Lalu, dengan wajah dongkol dan sinis wanita itu menghentak kasar sebelum berlalu pergi.


"Seharusnya ada pelatihan etika disini," Seru Illona tak suka.


"Well, sejujurnya dengan mereka mau bekerja di sini mereka sudah tak mempunyai etika." Ares ingin mengecup... tapi dengan cepat Illona menghindar lalu melayangkan tatapan jijik.


"Bibirnya bisa di bersihkan dulu?! jangan coba-coba buat nyosor!"


"Jangan cemburu dong mami, papi enggak bales loh barusan. Suer, masih enakan mami," balas Ares dengan nada merajuk. Di pikir Illona akan percaya, jelas-jelas pria itu menikmatinya tadi.


"Enggak usah macam-macam!" lalu tanpa persetujuan, Illona mulai masuk. Matanya memindai, dari luar saja sudah mewah dan harus Illona akui ini memang tempat prostitusi kelas A dengan fasilitas penunjang yang memadai. Tempat zina kok bisa sebagus ini?


"Woow, ada ibu Illona di sini?" Illona menoleh demi melihat suara siapa yang menyapanya. Suara yang ia kenali dengan baik.

__ADS_1


Dan tatapan mata Illona makin menajam kala si pria tadi mendekat dan menyeringai layaknya singa yang mendapatakan mangsa.


"Kebetulan yang menarik," balas Illona dengan wajah tak suka.


"Ibu harus tahu kalau di sini benar-benar surga dunia," lalu dengan kurang ajarnya ia menarik Illona, tapi baru saja akan memegang... satu bogem mentah Ares layangkan. Berani-beraninya pria ini, apa ia tak melihat ada Ares di belakang Illona. Apa ia kurang besar sampai si kutu kupret di depannya enggak lihat.


"Jangan macam-macam kamu! Illona istri saya!" serunya tanpa mau mendengar apa yang Illona katanya. Ia masih terus meninju pria itu dengan kasar.


"Udah deh Res! biarin aja." Illona tak suka menjadi pusat perhatian secara langsung. Yang ia sukai adalah membuat masalah dan dia ada di belakang layar. Bukan seperti ini, di pandangi seperti anak SMA.


"Bisa pergi kamu Reno!" Yah., pria tadi adalah Reno, bawahannya yang sering kali menyerahkan diri demi sebuah jabatan. Kekasih si bodoh Lola yang masih di pertahankan.


Illona ngeri sendiri, apa azab yang tepat untuk pria sejenis Reno ini yang berengseknya memang enggak tanggung-tanggung. Meski ia berengsek tapi ia tak sebejat Reno.


"Kamu kenal, sayang?" Tanya Ares masih dengan wajah merah padam, ia bahkan melayangkan tinjuan dari jauh. Padahal Reno sudah kehilangan kesadaran.


"Dia bawahanku, udah ah biarin aja."


"Bawahan? kok kurang ajar? dan lagi dia punya uang buat sewa wanita di sini?" Itu yang tadi Illona pikirkan, bukan maksud merendahkan hanya saja ia yakin menyewa wanita di tempat dengan kelas A seperti ini jelas butuh uang lebih. Gaji sebagai manager tak bisa membayar satu orang wanita di sini. Dan bukannya si Reno itu punya Lola yang pasti mau di apain aja.


"Kita pulang! aku enggak suka istriku di ganggu kayak tadi." Lalu manarik tangan Illona keluar dari tempat terkutuk yang sayangnya adalah miliknya sendiri.


"Berhenti bilang aku ini istri kamu!" sungut Illona tak habis pikir. istri, istri dan istri! apa pria itu sedang karasukan, makin malam makin ngawur saja tingkahnya.


"Ngaco kamu!"


"Jadi kita mau kemana?" Tanya Ares setelah masuk kedalam mobil.


"Makan, aku lapar."


"Kita makan di resto mana kali ini?"


"Di warung tenda, aku mau pecel. Tapi harus yang jauh." Ares menoleh, untuk memastikan bahwa yang ada di sampingnya kini adalah Illona si penyihir jahat, bukan, bukan Cinderella dengan segala macam kebaikannnya.


"Illona sayang kamu mau makan di mana juga hayu, jangan gini ah aku jadi takut. Kamu enggak lagi marah karena aku di sosor kan?"


"Aku mau makan pecel Ares," balasnya sabar.


"Kamu enggak lagi ngidam kan sayang? aku yakin kok waktu itu aku mainnya aman, aku enggak mau di gorok sama bapakmu yang galak itu." Cerocos Ares alay. Hamil matamu! bagaimana bisa hamil, aneh memang Ares ini.


"Hamil dari mananya! udah ah, aku mau pecel! Ares please! cuma pecel," Balas Illona tak habis pikir. Si Ares ini kok yah makin enggak jelas kelakuannya.


"Oke." Mengalah, yah, sudah pasti. Karena kodratnya pria memang mengalah kan?

__ADS_1


***


Ares tahu kalau Illona itu cantik, enggak di ragukan lagi pokoknya. Cuman, yah, Ares ini masih penasaran kok Illona ujug-ujug mau makan pecel. Biasanya mereka kalau enggak makan di Resto bintang lima yah di hotel bintang lima.


"Nambah lagi boleh?" Illona bertanya dengan wajah polos lalu mengerjap beberapa kali.


"Hah?"


"Aku mau nambah lagi Ares! malah hah!! enggak guna amat jadi pacar," balas Illona sinis.


Ares ini kok yah lemot amat, Illona cuman minta nambah aja mesti kaget.


"Kamu enggak makan?" Tanya Illona sembari menikmati piring kedua pecel ayam miliknya. Ares geleng-geleng enggak paham, asli ini Illona yang kelakuannya sebelas duabelas sama iblis bukan sih? biasanya nih, Illona cuman mau order salad sama sup yang porsinya buat bayi.


"Aku kenyang, yang." kenyang lihat kamu makan Na.


"Bagus deh, eh, abis ini beli pisang coklat yang deket taman kota." Ares makin enggak ngerti ini Illona lagi ada masalah apa sih? kok yah, makannya jadi mirip tukang kuli.


"Kenapa? aneh? enggak usah sok kaget apalagi enggak nyangka, aku emang makan banyak. Cuman yah, kalau diawal-awal kita kencan itu masih jaga image lah. Yakali langsung minta di anterin beli nasi goreng kambing dua porsi."


"Kita ini pacaran kan? Kalau kamu lagi ada beban atau masalah berat kamu bisa cerita sama aku, jangan gini Na, kamu ngeri kalau tiba-tiba berubah kayak gini." Ares merapihkan rambut Illona sembari mengusap keringat dengan tisu.


"Aku tahu, aku ini orang baru. Aku ngerti ini sulit untuk kita. Tapi, jujur akhir-akhir ini aku mulai berpikir kenapa kita enggak serius aja jalanin ini semua. Aku capek hidup kayak gini, hidup seenaknya lalu sesuka hati pindah dari pelukan wanita ke wanila lain. Kamu juga pasti sama. Kenapa kita enggak kerja sama?" Ares menggengam tangan kekasihnya lembut, menyalurkan perasaan tulus dan keyakinan yang sayangnya Illona tangkap sebagai gombalan dan rayuan untuk masuk di perangkap si Ares ini.


Mengerjap tak yakin Illona menjawab, "Aku lagi enggak ada masalah, malah aku yang suka nyari masalah. Res, kamu kenapa? ini bukan taktik kamu minta jatah kan? karena sampe seminggu kedepan enggak ada jatah Bobo bersama, aku masih jijik liat kamu di cium gitu aja."Illona tak mau masuk perangkap, manusia jenis Ares ini enggak bisa di biarin gitu aja.


Illona menolak tunduk dan luluh!


Ares geleng-geleng tak percaya, ini dia lagi serius malah di sangka minta jatah. Illona yang kurang peka apa dia yang kurang meyakinkan sih. Kok, jadi merembet kemana-mana.


"Kok seminggu yang!"


"Iyalah, dasar cowok enggak tahu diri! salah kamu tadi nikmatin ciumannya!"


"Yang, jangan gitu dong yang! masa iya aku enggak bisa mantap-mantap seminggu ini! kamu jangan kejam macam kompeni dong Illona!! Na!" Dan Illona memilih pulang naik taksi, di banding harus meladeni Ares Yudoaji dalam mode marayu.


"Illona! ampun yang! kok malah naik taksi sih!" Ares jadi kesal, kenapa Illona malah jadi salah paham gini sih dan tololnya ia malah langsung protes pas enggak bakal di kasih jatah. Makin-makin deh.


Belum sempat mengejar, tangannya sudah lebih dulu ditahan,"Maaf mas, mbaknya tadi belum bayar." Sialan! berengsek! kurang ajar! kampret! Ares jadi gagal ena-ena.


***


***Sorry for typo...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca💙💙💙***


__ADS_2