NONA

NONA
Sedikit penjelasan


__ADS_3

Illona menguap, ia harus bertahan dengan posisi duduk dan rasa kantuk yang hebat.


Ysabelle ini apa iya enggak punya perasaan, ia malah di hukum duduk di lantai sembari melihat kedua orangtuanya yang malah asik makan buah.


Illona juga lapar.


Hari ini ia hanya makan cimol depan rumah sakit.


"Masih ada setengah jam lagi Ita," kata Ysabelle tenang.


"Kasihan bu, kalau Ita di hukum." jawab Taka, antara ingin tertawa dan iba sebenarnya. Melihat putrinya duduk dengan posisi sinden lengkap dengan sepatu dan bibir yang manyun.


"Aku ini tadi mau minta maaf lho, kayak di drama gitu, kok malah jatuhnya enggak asik gini." gerutu Illona, padahal yah, ia sudah mau menampilkan wajah polos agar di maafkan.


Dalam hati ia memohon ampun, kok bisa-bisanya ia malah bertingkah macam tadi.


"Ibu juga, ayah kan enggak apa-apa! kenapa pake drama ngelabrak segala sih di kantor. Malu-maluin." tambah Illona tak habis pikir. Karena yang Illona dengar acara marah-marah ibunya demi alasan konyol yang enggan Illona sebutkan.


"Ayahmu kan emang sakit, gara-gara kamu yah, gila aja malah pasang banner foto amoral begitu. Malu dong Ta! ibu juga labrak kamu biar sadar," balas Ysabelle.


"Yah, tapi kan enggak perlu heboh juga. Itu tuh kerjaan nya peliharaan bu Retni, dendam kali tuh orang." setelah Illona cari tahu ada nama Adrian di balik ini semua. Adrian adalah simpanan Retni yang dulu Illona mainkan.


Awas saja pria itu, ia bahkan di tampar untuk pertama kali.


"Ibu salah karena nampar aku," katanya ketus.


"Replek Ta, enggak sengaja." jawabnya enteng.


Enggak sengaja kok pake tenaga kuda, kata hatinya sebal.


"Kamu udah ketemu Ibra Ta?" tanya ayahnya serius, yang di jawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Dia banyak berubah yah?" Taka menghela nafas gusar, hatinya seolah ditikam kala mengingat kembali ucapan pria itu. "Dia baik Ta, terlalu baik untuk jadi anaknya Ganesh." Ganesh yang di maksud yah bapaknya Ibra.


Illona tak mau menjawab, lebih tepat nya menahan diri untuk tak terpancing bertanya lebih tentang sang mantan.


"Saking baiknya dia setuju buat ngelenyapin anaknya sendiri," Illona merapikan bajunya lalu berdiri tertatih. Gila yah, ia di hukum duduk di lantai selama 2 jam. Enggak ada obat emang kalau Ysabelle yang kasih hukuman.


Dengan kaki kram Illona memaksa dirinya untuk berbalik, menolak menatap Taka yang kini sudah berkaca.


Kok, akhir-akhir ini banyak pria cengeng sih.


Ysabelle diam, ia menunggu Taka yang selesai bicara baru setelah itu yang akan membenarkan semuanya.


"Fransiska hamil anaknya Ganesh Ta, makanya kenapa Ibra memilih menanggung sendiri. Ia tak mau ibunya tau pun terluka, karena seperti yang kita tau Ganesh memang pria tua yang suka wanita-wanita muda."


Illona berbalik, ia tatap sang ayah dengan pandangan menilai. Ada kejujuran dan sakit di mata tua itu. Sesuatu yang tak Illona duga, ia tahu amat tahu kalau Ibra adalah anak yang begitu menyayangi sang ibu dan begitu patuh pada wanita yang berjasa menghadirkan nya ke dunia.


"Waktu itu dia sama bingungnya, satu sisi dia takut nyakitin kamu satu sisi Ibra enggak bisa nyakitin ibunya. Pemikirannya memang salah waktu itu, tapi ada andil ayah juga di sana."


"Tapi, ayah tau kamu enggak akan bahagia, karena memang Ibra masih mau bertanggung jawab atas Fransiska," ia usap kasar air mata yang terus mengalir.


"Seharusnya dia jujur," cicit Illona sembari menunduk.


"Ibu yang larang Ta," kali ini suara Ysabelle yang menjawab.


"Ibu bilang, Ibra harus pergi dan boleh kembali setelah memantaskan diri," Ysabelle tertawa hambar.


"Dan kamu harus tau Ta, Ibunya Ibra bahkan sudah tau sejak awal. Jadi, saat dia datang ibu hanya kasih pilihan itu."


"Sampai kamu tau, Ibra di asingkan, dia memilih bekerja di kapal pesiar. Melepas mimpi menjadi pelukis dengan cita-cita punya galeri yang di penuhi gambar putri ibu satu-satunya."


"Tapi saat itu ibu marah, ibu enggan menerima kembali pria itu. Maka setelah 12 tahun ibu mulai luluh dan harus berdamai dengan masa lalu."

__ADS_1


Hati Illona makin sakit kala tatapan pria itu menghantuinya.


"Ibra selalu ada, hanya saja ibu melarang ia menampakan diri."


"Ibu salah Ta, bahkan saat beberapa bulan lalu ibu meminta Ibra datang ke hotel dan menahan pria yang sudah kamu bayar." lalu setelahnya suara tangis Ysabelle dan Taka yang bisa Illona dengar. Illona ingat kejadian itu, kejadian yang membuatnya berurusan dengan Ares. Dan omong-omong kemana pria itu. Ah, sebodo amatlah, Illona tak peduli.


Informasi tadi, apa iya benar? tapi, melihat bagaimana kedua orangtuanya bercerita ia yakin semua benar.


Illona lupa, ia abai pada perasaan pria itu. Bisa jadi selama 12 tahun ini hidupnya di penuhi derita. Beda dengan Illona yang malah terus berbuat masalah demi pembalasan apa yang sudah terjadi.


Illona kecewa.


Merasa di khianati.


Bagai orang bodoh, yang tak tahu apa-apa.


Bagaimana bisa kedua orangtuanya merancang ini semua.


Apa saat itu pikiran mereka hanya di penuhi pandangan orang lain.


Illona tak mampu menjawab, penjelasan ini membuatnya tak bisa berpikir dengan benar.


Sialan! apa harus hidupnya sedrama ini?!


Bisa tidak ia bertukar peran dengan orang lain, karena rasanya Illona bisa gila bila terus menerus seperti ini.


Dan kalau boleh ingin rasanya Illona kembali menjadi bayi, iya, bayi yang enggak tahu apa-apa.


Karena jadi orang dewasa itu berat, mana banyak masalah lagi.


Repot pokoknya.

__ADS_1


__ADS_2