NONA

NONA
Belum selesai


__ADS_3

Illona muak bila yang ia lihat di pagi hari adalah wajah Ibra yang tersenyum amat lebar, seolah Illona adalah penomena alam paling indah dan di nanti.


Ditambah si Ibra ini malah beli lontong kari dengan tambahan ayam bakar, sarapannya mereka dulu saat masih bersama.


Antara mau dan gengsi, yaiyalah, siapa yang enggak malu makan makanan dari mantan. Mana mantannya bejat banget lagi.


Ibra cuman senyum tulus, enggak marah karena lontong karinya Illona buang tanpa perasaan. Yah, salah Ibra juga sih yang masih keukeuh di sini padahal enggak di anggap.


"Bisa pergi enggak sih?! ngintilin oranglain kan bisa, jangan di sini, bikin sepet." harus yah, ini cowok Illona bawa ke tempat penjual kaca biar bisa ngaca gitu, gimana kelakuannya dulu. Lebih-lebih Ibra adalah alasan paling kuat yang memaksa dirinya berubah sejauh ini. Ini malah datang enggak di undang tanpa permisi seolah mereka adalah pasangan yang terpisah jauh dan mau kembali bersama.


Meski semalam Illona sempat mau luluh, toh enggak jadi. Untungnya ia malah mimpi ketemu Fransiska si iblis betina yang kelakuannya di atas Illona.


Dan ternyata rasanya tak berubah, sakitnya masih sama, mungkin semalam hanya euforia karena bisa ketemu sama mantan.


Karena Illona sadar ia tak bisa sungguh-sungguh sembuh pun menerima si Ibra ini, yang ada hanyalah hati dan pikirannya yang mulai dewasa untuk menerima. Menyampingkan perasaan marah, kecewa dan sedih dengan baik juga malah berlaku bagai remaja yang bisa ketemu lagi sama cinta pertama.


Ahh, sinting memang, bisa-bisanya semalam ia hampir luluh.


"Kita udah selesai dari lama, kalau kamu pikir aku baik-baik aja, Iya. Aku baik, lebih baik dari sebelumnya. Malah kalau boleh jujur aku merasa bahagia dan nyaman sama diriku yang sekarang." Illona mulai membayangkan, apa yang ia ucapkan adalah kebalikan dari apa yang ia rasakan.


Tangannya terkepal di samping, pandangannya makin tajam. Juga bisa Illona lihat wajah pria itu pucat.


"Kamu udah menghilang terlalu lama, itu buat aku terbiasa. Jadi, kalau boleh jangan kembali, seharusnya kamu sudah bahagia dengan pilihan kamu sendiri."


Ibra mencelos, ia tahu ini tak mudah. Tapi melihat bagaimana Illona bisa seyakin itu membuatnya di tampar. Ia tahu tapi seolah tak mau sadar diri. Illona sudah banyak menderita dan berdarah karenanya, tapi, ia masih saja lancang berharap untuk diizinkan kembali bersama.


"Itu bukan pilihan aku kalau kamu mau tahu." Ibra sudah lelah di salahkan dan di pojokkan tanpa di beri kesempatan untuk membela pun menjelaskan.


"Kalau-kalau kamu lupa, kamu memilih Siska dan anaknya dan malah menyetujui mengugurkan bayi itu." Illona menipiskan bibir, tersenyum kecut.


"Aku enggak punya pilihan, Pilihan itu sama-sama buat kita terluka." Yang Ibra mau Illona mendengar dan memahaminya juga. Ia juga terluka kala bayi mereka malah di keluarkan dengan paksa, bukannya di sambut dengan suka cita. Ia menyesal amat sangat, saat tak punya kekuasaan memilih sebuah pilihan dan ia hancur kala semua mimpi yang sudah ia susun susah payah hilang tak bersisa.

__ADS_1


"Orang dungu selalu mencari alasan untuk menyelamatkan dirinya, termasuk menipu." Illona menolak, itu sudah pasti dan Ibra harusnya mengerti. Tapi, sungguh hatinya tak mau. Ia masih mau berusaha, karena 12 tahun adalah waktu yang cukup untuk menyiksa dan membuatnya lelah menjadi seorang pengecut.


"Kenapa baru sekarang?" tanya Illona pelan, ia ingin menghancurkan apapun atau melempar kaca miliknya.


"Karena, aku baru boleh kembali saat sudah memantaskan diri."


"Kamu tau kamu enggak pantas di maafkan?" tanya Illona sengit.


"Ta, tolong." katanya memohon, kalau bisa ia mau kembali lagi ke masa lalu, ia akan bayar dengan apapun. Ia akan bertahan memilih Illona dan bayi mereka. Mungkin saat ini sudah besar dan masuk sekolah, mereka mungkin akan hidup susah tapi Ibra janji akan melakukan pekerjaan apapun demi menutupi kebutuhan mereka. Ia mau sungguh, kalau bisa.


"Ta, tolong dengerin aku, aku enggak bisa terus jadi pengecut lalu lari dari masalah. Kita berdua belum berdamai dengan baik." Ibra berlutut, lalu pandangannya mendongak, ia tatap Illona dengan segenap perasaan yang memang ia miliki. Ia mau Illona tahu kalau ia pun sama terlukanya, ia juga sakit.


"Jangan gini Ta, kamu boleh minta apapun dari aku, apapun, tapi..., jangan minta aku pergi." Karena Ibra tak akan sanggup kehilangan Illona atau melihat wanita yang paling ia cintai bersama pria lain. Kemarin saja rasa tak rela kala Illona punya hubungan. Yah, walaupun ia enggak bisa berbuat apa-apa.


"Aku punya janji Ta, makanya kenapa aku baru muncul." nafasnya memburu, mata yang kembali berlinang. Ibra tak peduli bila ia dilabeli pria tak tahu diri, cengeng dan bodoh. Ibra terima karena memang itu benar.


"Kamu bisa nepatin janji kamu sama oranglain, tapi, sama aku enggak!" balas Illona ketus.


"Kamu *****! kamu tau itu! kamu sia-siain aku! kamu pergi setelah menghancurkan! pergi seolah tak melakukan dosa besar! kamu enggak tau aku depresi! aku di operasi plastik! kamu enggak tau hancurnya aku saat tau ada bayi yang di korbankan, kamu emang bedebah dungu enggak tau diri! Lalu datang lagi seolah semua baik-baik aja, bilang masalah perasaanlah! Kamu enggak tau apa-apa." Illona mencengkram telapak tangannya kuat, membuat kuku-kukunya menancap di telapak tangan.


Ibra tahu, amat tahu, tapi percuma Illona tak akan percaya lagi.


Ia tersenyum miris, "Aku tau Ta," makin menunduk, lalu menambahkan. "Tapi, kamu enggak akan percayakan?! Sama seperti aku yang mau menjelaskan kamu pasti enggak mau percaya." Kesempatan mereka sudah habis, kala Ibra memilih pergi dan tak kembali.


"Aku enggak akan percaya lagi." lalu Illona memilih pergi dengan telapak tangan yang berdarah. Ia tak peduli, sungguh, karena perihnya kalah dengan perih yang ada di hati.


Ia memilih untuk tak kembali pada pria itu, pun sebenarnya ingin tahu penjelasan apa yang di maksud. Tapi, otaknya terus mengingat untuk tetap ingat bagaimana dulu ia terluka dan sendiri.


Ibra ingin meraung, memukul diri sendiri, seharusnya ia dengarkan Ysabelle atau dengarkan teman-temannya untuk tak kembali, mungkin saja ia memang tak berjodoh dengan Illona. Tapi, ia tak kuasa kala hatinya yang bekerja. Terus memupuk harapan, khayalan juga terus menyiramnya dengan mimpi-mimpi yang ia buat sendiri.


Illona menyandarkan tubuhnya tepat di depan ruangan sang ayah. Matanya memburam, kala netra miliknya dan sang ayah bersitatap.

__ADS_1


Ada luka yang coba di redam, ada derita yang ditelan sendiri, ada harapan yang membuatnya makin sesak. Nyeri di dadanya tak mau hilang.


Air mata sialannya pun tak mau berhenti, kala ia mengingat kembali apa yang sudah terjadi.


Lalu semua berubah kala ayahnya memilih setuju untuk mengugurkan bayi miliknya. Calon cucunya sendiri.


Illona bisa makin gila kala bayangan itu terus datang dan menyerangnya dalam perasaan bersalah.


Lalu ada Ysabelle yang menatapnya sengit, seolah tak peduli ada Illona yang sedang berurai air mata dengan hati yang hancur.


Ini menggelikan sungguh. Illona mengumpat, lalu di usapnya kasar air mata yang tersisa.


Lalu berbalik pergi dengan sumpah serapah yang ia miliki. Menghentakkan kaki kasar, sembari bibir yang ia tarik maju.


Apa-apaan tadi, apa ia sedang casting film azab terbaru atau ikut realiti show bikin mewek. Karena setelahnya Illona malah tertawa.


Terbahak dengan air mata.


Merenung.


Dan kembali percaya bahwa ia adalah Illona bukan Ita yang lemah.


Maka Illona memilih membeli cimol karena ternyata ia lapar. Dan epiknya tukang cimol itu mangkal dekat dengan mobilnya.


Ya..., kali, ia terus mewek dengan perut bunyi. Enggak elit banget.


Jadi, yah, mening makanlah. Urusan tadi ia pikirkan lagi nanti.


Dan kok bisa yah, ia yang lagi melow-melownya malah tergoda cimol bumbu barbecue pedas.


Kan kurang ajarnya, ia jadi enggak maksimal sedihnya.

__ADS_1


__ADS_2