NONA

NONA
Kembali seperti biasa


__ADS_3

"Sofia!!" Adalah panggilan keduabelas yang bisa Sofia ingat, semenjak nenek sihir itu masuk. Kelakuan Illona yang kembali setelah libur panjang saat ia sedang jatuh hati kemarin.


Memilih menyabarkan diri, mengangguk seolah sedang memberitahu otak dan hatinya untuk mengerti, bahwa yang ia hadapi kali ini adalah Illona dengan kalakuan paling menyebalkan. Illona si iblis betina yang tak suka ketenangan, Illona yang suka sekali ribut itu kembali.


"Apa harus saya yang melobi mereka?! jangan hanya perut dan kantong kalian yang terpenuhi pikirkan apa yang harusnya kita lakukan saat seperti ini! bukan malah menari di bar seperti orang tak waras, lalu lupa pada kewajiban untuk mencari pelanggan baru. Jangan main-main kalian!" Sofia bisa mendengar dengan amat jelas bagaimana si Illona itu mendaprat anak Sales dan marketing.


"Tidak ada bonus akhir tahun untuk pegawai yang lancang dan menyalahgunakan fasilitas kantor, mengerti? pergi sekarang!" Dan bisa Sofia lihat bagaimana empat orang keluar dengan wajah masam cenderung sebal serta beberapa sumpah serapah yang di ucapkan lirih.


"Sofia!!"


"Iya bu?"


Illona hanya memandang, menilai apa yang harus ia lakukan. sebelum akhirnya berujar, "Kita ke salon sekarang, telepon mereka bahwa saya akan datang." Lalu berlalu pergi.


"Kalau kamu mau, kamu boleh ikut nyalon juga." Senyum Sofia makin lebar dan dengan semangat ia mengikuti Illona.


"Berhenti menggoda! ingat istrimu sedang hamil!" Illona sampai harus melotot pada dua mahluk tak tahu diri di depannya. Bukannya kerja mereka malah mojok enggak jelas.


Illona tahu bahwa ia pun sama berengseknya tapi, ia tak sejahat itu untuk membiarkan gadis lugu macam Sintia di goda HRD tua yang jelalatan.


"Saya minta rekap karyawan baru, jangan coba-coba menipu!" Illona memang bukan manusia baik tapi ia tahu diri untuk tak menjadi penipu di tempat dimana ia mencari uang. Karena pria tua itu berani menipunya dengan nilai luar biasa bagus padahal kerjanya nol besar.


Sembari melanjutkan langkah, ada saja yang Illona komentari. Mulai dari sekretaris ayahnya yang terlalu berani memakai rok di atas lutut 10 cm. Karena yang boleh hanya Illona, ia tak suka di tiru. Lalu, ada Fitri kasir baru yang Illona beri pelototan karena berani menggoda pelangan.

__ADS_1


"Kalau kau ingin menjadi wanita rendah bukan di sini tempatnya." katanya keras, tak peduli bila wajah Fitri yang sudah memerah karena malu dan marah karena di rendahkan.


Dan yang terakhir Illona ajak ribut adalah Friska--HRD manager di Rafflesia, teman sekaligus busuh bubuyutannya semasa SMA hingga kini mereka sama-sama berumur 33 tahun.


"Berhenti membuat pegawaimu tak nyaman Illona," Kata Fris ketus. Hanya ia yang berani memanggil Illona tanpa embel-embel ibu atau lainnya.


"Pastikan pegawaimu tak menipu! memberi nilai bagus pada orang yang salah saya tak semurah hati itu Friska!"


"Itu kesalahan yang saya pastikan tidak akan terulang, Pak Jaja bahkan tak meminta tanda tangan." Friska sebal, bagaimana si tua bangka wakilnya malah membuat kecurangan karena sudah di beri kenikmatan. Memalsukan nilai pegawai paruh waktu demi bisa menjadi staff. Ia kecolongan dan si Jaja itu tak tahu diri, sudah tua bukannya jadi lebih baik malah makin menjadi.


"Saat itu juga saya sedang cuti," lanjut Fris cepat.


Illona hanya terkekeh sinis, melipat bibirnya kedalam, menahan kekesalan pada wanita di depannya. Entah mengapa Illona selalu kesal bila menyangkut Fris dan apapun yang berhubungan dengan wanita itu.


"Menjadi wanita jahat memang menyenangkan, sama seperti saat sedang balas dendam." Illona menoleh untuk memberi tatapan lebih tajam dari sebelumnya, Sofia makin mengutuk Fris dalam hati karena masih saja memancing keributan. Ini mereka mau nyalon lho, yah. Jangan sampai gagal gara-gara Illona kehilangan mood untuk pergi. Kenapa mereka ini tak pernah mau akur sih? padahal kan yah, mereka ini teman lho katanya.


"Tapi yang harusnya kau pastikan adalah apakah hatimu sama senangnya? melihat bagaimana kau menghancurkan Illona. Membuat masalah baru lalu membuat keributan dengan dasar tak suka. Mengorbankan banyak hati demi egomu sendiri. Bagaimana pun kau masih manusia." Lanjut Fris dengan mata seolah peduli, Illona adalah temannya, dulu... Sebelum seseorang menghancurkan mereka hingga saat ini. Membuat mereka bagai orang asing yang sibuk saling menyalahkan.


"Berhenti membuat omong kosong Fris! kau butuh kaca untuk melihat dirimu sendiri," Illona berbalik untuk melangkah sebelum menambahkan, "Jangan membuat ku tertawa dengan apapun yang kau katakan." lanjut Illona tanpa berbalik.


"Kau yang menghancurkannya Illona, egomu terlalu tinggi untuk memaafkan, ambisimu keterlaluan karena memilih menyiksa orang lain!" Fris tak mau kalah. Sebab mahluk seperti Illona harus di beritahu keras, bukan malah membiarkannya melakukan apapun sesuka hati. Membuat banyak kesalahan demi misi yang selama ini Illona yakini.


"Tapi ada dia yang memulainya Fris, meninggalkan seseorang dengan alasan seseorang adalah hal paling egois."

__ADS_1


Illona melanjutkan langkah, dengan wajah sinis dan datar. Ia menolak mengingat apapun yang Fris katakan.


Wanita itu tak akan mengerti bagaimana Illona bertahan, tak akan mau tahu bagaimana susahnya ia melewati banyak beban yang di tanggung sendiri, juga tak akan merasakan apa yang selama ini ia rasakan.


Sofia tahu kalau Illona membenci Fris tapi amat menyukai bagaimana Fris bekerja. Jadi meski Fris sering melawan dan bertentangan dengannya Illona tak berniat memecat atau bahkan membuat malu di luar kontek pribadi. Illona memang bisa seprofesional itu, ia tahu mana aset yang baik untuk perusahaan.


Kadang ada saatnya Illona tak mengerti, bagaiman bisa orang luar bersikap seolah tahu apa yang benar-benar terjadi. Menjadi hakim yang paling benar padahal tak merasakan.


Illona memilih bungkam di sepanjang perjalanan, ia sedang menahan emosi diam-diam karena berita yang ia baca membuatnya nyaris melemparkan ponsel ke jalan.


ARES DAN ODELIA MEMILIH KEMBALI BERSAMA SETELAH 10 TAHUN BERPISAH


Adalah judul yang membuatnya kembali mengumpat dan tentu menjaga ekspresi wajahnya agar tak terlihat sedang marah. Tapi, yang tak Illona sadari adalah matanya yang memancar luka. Kecewa juga sesuatu dalam hatinya yang kembali layu, padahal baru saja tumbuh dan ia pupuk dengan harapan.


Maka dengan segera ia menelepon seseorang, lalu berujar keras, "Keluarkan berita itu!" perintahnya, lalu memutus sambungan sepihak tanpa peduli apakah orang di seberang sana masih berbicara.


Illona tak mau ini mudah bagi Ares atau pun Odel saat memutuskan kembali bersama. Mereka sudah berani dan makin tak tahu diri ternyata.


***


***Sorry for typo...


Terima kasih sudah membaca💙💙💙***

__ADS_1


__ADS_2