
Illona mangkir dari rapat yang sudah di sepakati dirinya sendiri.
Tidak ada marah atau kecewa di mata tua yang kini tinggal sendiri di ruangan rapat. Yang ada hanyalah senyum dengan sorot teduh menerawang jauh.
Karena bagi Taka ini lebih baik, meski Illona tetap membuat masalah, yang paling penting adalah anak itu bahagia. Tak bisa memang menyalahi aturan seperti ini, sebab masih ada investor lain yang menuntut profesionalitas Illona, tapi bagi Taka sekalipun ia harus bangkut ia tak masalah. Ada senyum dan tatapan tulus milik Illona sebagai bayarannya.
Ia bahkan tak peduli di cap nepotisme dan pilih kasih, toh saham terbesar tetaplah miliknya yang akan jatuh ke tangan Illona pula. Taka mungkin berdosa di masa lalu, ia kejam dan tak mau di ganggu saat palu keputusan sudah ia lantangkan. Tapi, kali ini ia akan menebus segalanya, membiarkan Illona sesuka hati mungkin adalah salah satunya.
Dan untuk pertama kalinya Ysabelle tak protes apalagi meneror dengan telepon tanpa henti, meski ia tahu Illona sudah mengacau.
Seharusnya dan memang wajib hukumnya Sofia mengundurkan diri, bukan malah kena cercaan lalu di maki habis-habisan karena si sinting Illona malah enggak datang dengan alasan tak masuk akal.
Tapi, Sofia tahu mencari kerja dan mendapat tunjangan serta fasilitas seperti sekarang tak mudah. Meski yang harus ia hadapi adalah keluarga dengan kelakuan yang lebih mirip setan dibanding manusia.
***
"Na, aku harus pergi dulu enggak apa-apa kan?" Tanya Ares meyakinkan.
__ADS_1
"Mau kemana?"
Dengan tatapan yang lebih lembut Ares menjawab, "Ada hal penting dan aku harus pergi, oke, Rico nanti aku suruh buat jemput kamu," lalu mengecup kening Illona sekilas.
Berlalu pergi tanpa menunggu balasan Illona. Illona ingin percaya, tapi hatinya memilih menahan gusar dan tiba-tiba tak siap dengan apa yang akan terjadi.
Baru saja Ares meninggalkannya sendiri di taman kota--tempat biasa mereka makan ice cream. Setelah entah siapa yang menelepon dan dengan wajah yang pucat memilih pergi, tanpa tahu Illona yang ingin menahan. Tanpa penjelasaan, lalu untuk sesaat Illona seperti lupa. Apa yang sedang ia lakukan disini? dengan dua cup ice cream yang bahkan belum di buka. Ia yang rela meninggalkan rapat penting dan malah heboh pergi ke salon hanya demi Ares.
Ia tak boleh berpikir buruk, barangkali tadi memang penting dan situasi memaksa untuk tak banyak bercerita, supaya Illona tak khawatir. Iya, mungkin seperti itu.
Ia tak boleh marah, toh semua belum tentu salah kan?
Dan harusnya Illona tak kecewa saat yang ia tunggu tak memberinya pesan, bahkan..., ini, sudah lewat tengah malam.
Tiga puluh menit setelah Ares pergi, Rico datang dengan wajah yang ia yakin antara menahan dongkol dan marah. Tapi, yang membuat Illona makin tak tenang adalah kata yang Rico ucapkan sesaat sebelum ia turun dari mobil.
"Jangan menjadi wanita naif lagi Illona, jadilah Illona sebelumnya, kalau bisa, pergi sejauh mungkin sampai si bodoh Ares tak menemukanmu."
__ADS_1
Illona tak mengerti, untuk semua hal yang kemarin ia syukuri malah membuatnya makin sakit hati.
Memilih menonaktifkan handphone, Illona meraih bingkai yang sengaja ia simpan di dalam tas. Ia bawa kemana-mana. Sebab, meski ini adalah rumahnya, tak menjamin apakah bingkai ini masih bisa ia lihat atau sudah di buang.
Ia sentuh lembut, takut akan merusak sesuatu dalam bingkai itu, kemudian membawanya dalam dada. Dan di malam-malam sepi seperti ini Illona baru ingat, ia sudah kembali bodoh dengan membiarkaan permainan ini menggunakan hati. Hatinya yang memang sudah rusak akan kembali berkeping, mungkin juga bisa lebih karena sungguh Illona tak sanggup bila apa yang selama ini ia jalani hanya sebuah ilusi yang makin membuatnya tak berarti.
Harusnya Illona bertahan dengan memainkan peran, bukan di mainkan seperti ini.
Seandainya Illona tak termakan semua perlakuan dan tatapan penuh pemahaman.
Atau mungkin seandainya ia tak mengusulkan ide gila ini.
Karena sesungguhnya Illona sedang tak mengerti apa yang sedang terjadi.
***
******Sorry for typo...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca💙💙💙******