
Illona bisa gila, jika terus menerus membayangkan apa yang sudah terjadi.
Ia dan Ares baru saja menghabiskan malam panjang penuh suka cita, romansa khas anak muda. Ia bahkan lupa pada ancaman untuk tak memberi jatah pada Ares yang malam tadi membuat nya mabuk kepayang.
Sialan! Kenapa ia bisa jadi bodoh dan menikmati apapun yang sedang terjadi.
Sekuat apapun Illona mengingat untuk tetap waras dalam permainan ini, ia kesulitan mengatur perasaan yang sudah lama tak terpakai.
Bukannya menambah masalah seperti biasa Illona malah membuat Ysabelle makin tersenyum lebar. Ibunya tahu ia sudah lama tak main-main, Illona ingin, tapi hati kecilnya malah melarang untuk membuat masalah. Dan lagi, otaknya jadi tiba-tiba tak bisa di ajak bekerjasama untuk membuat masalah baru.
"Bu, ada perwakilan dari Amora hotel," Sofia sudah masuk dari tiga puluh menit lalu, berdiri bagai orang bodoh. Tak ada jawab dari Illona yang malah bengong.
Sofia mulai merapalkan doa dalam hati, ia memohon untuk di beri kesabaran dalam menghadapi Illona mode baru. Buat masalah enggak, tapi malah bikin ia yang akhirnya menciptakan masalah. Ia jadi ngeri sendiri kalau-kalau bosnya mulai gila beneran.
"Bu, ada perwakilan dari Amora hotel," katanya lagi dengan nada yang ia buat sesabar mungkin. Sofia enggak habis pikir ini ada apa sih sebenarnya, lama-lama ia yang bisa gila beneran. Si Illona ini kok yah enggak ngejawab, malah makin aneh dengan senyum lalu cemberut sendiri. Bener deh, dia harus mulai merekomendasikan dokter ahli buat bosnya.
"BU!" Serunya sebal, hingga mata Illona melotot, nyaris keluar kalau bisa.
"Berani kamu bentak saya?!" tanyanya keras.
Masih mencoba sabar walau sulit memang, Sofia menjawab, "Saya sudah di sini dari tiga puluh menit yang lalu ibu, saya juga udah beberapa kali bilang kalau ada perwakilan dari Amora hotel."
Illona makin melotot, "Ngomong dong!" lalu pergi, lagi, Sofia di tinggal sendiri. Kalau bukan karena gajinya yang gede ia sudah melarikan diri, menyerah menghadapi atasan sekelas Illona.
__ADS_1
Menghentakan kaki kasar, lalu ikut menyusul si betina galak. Iyalah, itu iblis pergi tanpa bawa bahan buat presentasi.
***
Sofia tahu kalau Illona itu berengsek tahu banget malah, Tapi, yah masa harus kayak gini lagi. Itu mak lampir malah pamit buat ketemu pacarnya yang katanya sakit perut. Please, ini bukan romansa anak SMA yang membuatnya mual dan murka. SAKIT PERUT!! tolong garis bawahi, kasih huruf tebal karena Sofia tak paham. Mengapa perkara sakit perut saja mesti di bawa ke rumah sakit bersama sang kekasih. Apa pacarnya Illona enggak punya teman? ya, ya, ya, untuk orang sekelas Illona dan Ares membuang lima puluh atau seratus juta memang bukan masalah. Tapi, membuatnya dalam masalah!
Dan Sofia makin gedek harus presentasi di depan aki-aki yang enggak inget umur. Karena masih saja sok mengerling menggoda macam pria muda dengan segudang kelebihan. Yang ada hanyanya kulit peot yang ingin Sofia tarik kasar supaya sadar.
Illona itu yah, mentang-mentang... bos, bisa banget bikin darah tinggi karyawan.
Tapi akhirnya Sofia enggak jadi sebal, sebab Illona baru saja mentransfer uang seharga tas baru di Gucci.
Ck, Illona memang paling bisa membuatnya luluh. Dan Sofia kembali tutup mulut kala Taka bertanya kemana putri satu-satunya pergi yang Sofia balas dengan ada meeting penting lainnya.
***
Coba tanyakan pada dirinya! Sakit perut karena apa? si Ares berengsek Yudoaji itu sakit perut karena makan telur gulung! Iya telur gulung yang di jual di SD itu. Sinting! Perkara telur gulung pun repot.
"Masih sakit perut nya? mau aku panggilin dokter?" Dan Rico makin yakin untuk menjambak rambut temannya itu.
Apa enggak bisa mereka ini waras sedikit? Rico yakin dokter yang tadi memeriksa hampir saja ingin mencekik Illona yang heboh saat Ares sakit perut. Demi Patrick yang juga bodoh apa Illona tak tahu kalau di luar sana ada yang lebih parah penyakit nya di banding si Ares kutu kupret.
Mereka ini benar-benar pacaran atau sedang mencari panggung untuk membuat masalah lebih besar sebenarnya.
__ADS_1
Rico yakin, jika ia masih di sini ia akan ikut sinting bersama dua orang yang kewarasannya tak tahu dimana.
***
Illona khawatir dan tak main-main. Segera saja ia menyuruh Ares untuk di periksa, bisa jadi kan kalau telurnya mengandung racun. Jadi, setelah yakin tak apa-apa Illona tetap mau Ares di rawat. Yang tentu saja mendapat sinyal positif dari Ares. Ia senang, meski sakit perut begini si Illona bisa khawatir juga. Toh, cuman sakit perut biasa.
Hingga dokter pamit, Illona baru sadar ia sudah benar-benar lepas kontrol. Tadi itu kenapa harus heboh sampai harus meninggalkan rapat dan memilih membawa Ares ke rumah sakit.
Lalu pandangannya beralih pada Ares yang sudah tertidur dengan tangan saling menggenggam erat.
Tersenyum patah, Illona merapikan rambut yang berantakan sebelum berujar, "Kamu tau? tadi aku takut beneran. Meski cuman karena telur gulung," lalu menghela nafas demi mengusir sesak di dada ia melanjurkan, "tapi, aku beneran takut kalau kamu kenapa-kenapa, aku yakin kamu akan ngerti kalau tau alasan sebenarnya tentang....," Illona tak mampu melanjutkan, lalu ia sandarkan kepalanya pada tangan Ares sebelum ikut terlelap.
Ares terbangun sesaat Illona merapikan rambutnya dan tatapan lembutnya makin redup kala ia menangkap ada butir air mata di ujung mata Illona.
Dengan lirih ia berkata, "Apa yang kamu sembunyikan sayang?" Dan entah datang dari mana rasa ingin melindungi wanitanya makin kuat dan yakin.
"Kamu enggak sendiri." Lalu di rengkuhnya tubuh rapuh itu dengan hati-hati.
Ares tak peduli kalau pun ini hanya permainan, toh, hatinya memilih untuk ikut gila bersama Illona.
***
***Sorry for typo...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca💙💙💙***