
Ares tak tidur.
Sepanjang malam yang ia lakukan hanya mengumpat, buka handphone, lalu rebahan lagi. Dan terus berulang sampai pagi.
Ia yang alay apa memang pesona si Illona ini yang enggak main-main sebenarnya.
Kalau masalah mantap-mantap kan Ares bisa nyewa sebenarnya. Cuman yah gimana, abis ngerasain Illona ia jadi enggak minat nyoba ke yang lain. Yah, walaupun suka kegoda juga sih. Tapi, jujur deh. Cuman sebatas suka lalu lewat, enggak ada niatan buat di bawa ke kamar apalagi sampai main tembak-tembakan.
Ini juga di kirimin pesan kok yah enggak di balas, minimal baca kek, ini enggak sama sekali.
Ck, Illona ini memang benar-benar enggak ada akhlak.
Mau berangkat ke kantor juga malah inget Illona, mau makan inget itu wanita licik sampai Ares enggak jadi mandi karena cuman wajah Illona yang ia lihat dimana-mana.
Itu cewek pake dukun dari mana sih? kok bisa bikin Ares jadi enggak fokus.
Setelah satu jam dan ia cuman bengong doang, Ares memilih turun, ia mau jemput Illona macam pacar perhatian yang antar-jemput ke tempat kerja.
Well, karena Illona adalah jelmaan setan yang di utus ke bumi untuk menguji manusia macam Ares yang imannya setipis baju tidur tante-tante, Ares merasa semakin bangga kala tak ada amarah dalam hatinya saat tahu Illona sudah berangkat kerja. Harusnya ia marah lalu menelepon dan memaki Illona kan? Bukannya terkekeh, lalu tersenyum lima jari masuk mobil.
Ares rasa ia mulai gila, terakhir kali ia berlaku macam pria ***** itu 18 tahun lalu saat masih SMA. Ck, enggak cocok dan malu sama umur harusnya. Tapi, yah, mau bagaimana lagi kalau yang Ares rasakan adalah perasaan berbunga, sesuatu yang meletup-letup dalam dada lalu membuatnya terus tersenyum mirip orang gila. Bahkan teman seperbejataannya saja sampai mau bikin tumpeng gara-gara Ares berubah jadi bos penuh bijaksana, tak marah-marah seperti biasa dan malah mau bagi-bagi bonus.
Dan Ares tak mau peduli bagaimana pandangan temannya tentang dirinya. Ares harus buru-buru menyelesaikan laporan, pergi ke pabrik sebentar sebelum menjemput Illona dan mereka akan makan malam bersama, lalu ia mulai aksi penuh cinta, kemudian Illona akan luluh dan mereka berakhir di ranjang hotel sampai pagi. Ahh, membayangkan saja Ares tak sabar. Illona..., Ahh menyebut saja hati Ares sudah jumpalitan.
Dan makin sini Ares makin mengakui kalau dirinya memang tambah sinting.
__ADS_1
***
Illona enggak bisa berhenti menebar senyuman. Sofia saja sampai enggak habis pikir, itu bosnya salah makan atau terbentur sesuatu.
"Bu---"
"Tolong telepon bu Isti ada desain baru apa enggak? saya mau pergi. Pastikan bajunya bener-bener baru." Sofia buru-buru menutup mulut.
"Terus pesenin tiramisu sama eclair juga," sembari menyebut pesanan matanya tak lepas dari ponsel yang terus menampilkan pesan baru tapi tak ia balas. Illona malah terus tersenyum, lalu menajamkan matanya kedepan, seakan sadar sesuatu. Ini di luar kendali, seharusnya ia tak perlu merona meski ada 1000 pesan penuh gombalan yang ia terima. Tapi, bagaimana, hatinya malah berbunga lalu seburat merah tak bisa ia cegah.
Sofia masih mematung, bingung dan kaget. Ini Illona mau ngerencanain masalah apa lagi sih.
"Bu---"
Lagi-lagi Illona menyela, "Menurut kamu saya bagus rambut pendek apa panjang?"
"Bu---"
"Bu, maaf pak Taka---"
"Kayaknya saya berangkat sekarang aja deh," lalu tanpa menunggu jawaban Illona berlalu pergi.
Sofia sudah memerah, enggak anak enggak bapak kenapa hidupnya nyusahin dia sih. Ya, ya, ya, konsekuensi jadi kacung memang begini. Tapi, yah enggak gini juga, harusnya Illona dengar dulu malah menyela dengan perintah-perintah abnormal. Lalu setelah ini Sofia yakin ia akan berakhir dengan ceramah panjang kali lebar ala Taka yang terhormat.
***
__ADS_1
Illona memang bukan anak gadis, ia bahkan kehilangan kegadisannya saat masuk kuliah. ini juga bukan kisah cinta pertamanya. Tapi, Illona merasa ia termakan umpannya sendiri. Membiarkan dirinya bodoh dan melakukan sesuatu secara impulsif.
Ini salah, tapi Illona tak mau berhenti.
Ini bahaya, tapi Illona tak mau mundur.
Ini membuatnya akan kembali *****, tapi Illona menikmati.
Ia tahu ini tak baik, tapi Illona ketagihan untuk terus berada dalam pelukan Ares.
Pria itu menjaminnya, melindungi, memberinya percaya serta perlakuan tulus yang tak Illona dapat dari orang terdekat. Meski pria itu tahu seberapa binalnya ia hidup. Dan mungkin saja pria itu juga yang akan mengancurkan hatinya. Tapi Illona tak peduli, Ares membawanya pada sesuatu yang Illona cari. Sesuatu yang tak datang dua kali dalam hidupnya.
Illona takut, niatnya bermain malah mempermainkannya. Tapi, hatinya tak mau berhenti berharap dan terus memuja kala sepasang mata hitam itu menatapnya penuh kelembutan dan pemahaman.
Lalu, demi kegilaan yang Illona yakini akan terus berlanjut ia memilih memesan satu box coklat dengan bentuk dan isian berbeda, lalu memesan tiramisu yang katanya kue kesukaan Ares, ia akan membeli dress baru dan melakukan perawatan sebelum akhirnya menghabiskan waktu berdua semalam penuh.
Illona mulai mengerti mengapa ia memilih Ares, padahal ada begitu banyak teman pria yang bersedia bila ia menginginkan sebuah hubungan. Ares tahu dan paham dengan dirinya tanpa repot-repot bertanya, sedang yang lain belum tentu bisa memahami semua kegilaan yang Illona yakini sebagai obat untuk terus bertahan.
Dan Illona makin memerah kala tiga langkah di depannya ada Ares dengan setelan kerja yang membuatnya lebih seksi.
Serta satu senyuman mampu membuatnya makin berdebar dengan degub yang menyenangkan.
Ahh, romansa, lagi-lagi ia bahagia karena kisah cinta. Dan Illona makin yakin kalau tampangnya sudah berubah bak anak remaja yang baru saja di mabuk cinta.
***
__ADS_1
***Sorry for typo...
Terima kasih sudah membaca💙💙💙***