
"Aku enggak ngerti, Ta." Adalah suara Ibra yang pertama bertanya.
Setelah hening cukup lama, antara mereka. Ibra, Illona dan Taka juga Ysabelle.
Dan saat ini mereka sedang berada di Rumah Sakit, sesaat setelah bentakan Illona dan Taka yang kambuh. Membikin Ysabelle heboh dengan teriakan-teriakan super melengking. Kontan saja drama milik Illona dan Ibra di jeda lebih dulu.
Maka dengan tubuh yang bergetar ketakutan Illona pun Ysabelle membisu. Lalu setelahnya ada Taka yang sadar dan meminta mereka bicara.
"Itu, benar," jawah Illona pelan. Ah, hatinya kembali berdenyut.
"Gimana bisa Ta?! gimana?" tanya Ibra serak, ia memilih duduk di lantai dengan tangan yang menopang kepala. Tak sanggup bila harus terus mendengar fakta-fakta yang menyakitkan lagi.
Ia kira sudah selesai semua, tapi ternyata itu hanya awal untuk masalah sebenarnya.
"Saat itu, aku sengaja minta sama dokter buat ambil rahim aku, aku marah, aku kecewa dan hanya dengan cara itu aku bisa balas kalian waktu itu." jelasnya mencoba tegar, ia menahan nafas untuk beberapa detik sebelum membuangnya dengan amat buru-buru.
"Kalian udah hancurkan aku! jadi yang memang seharusnya aku lakuin yah, mengancurkan diri sendiri." lanjutnya dengan tubuh bergetar.
Ysabelle dan Taka yang sedari tadi menahan nafas hanya bisa diam, lalu kembali menangis. Mereka tak menyangka bila putrinya bisa begini gila, tapi, mau tidak mau ada andil mereka juga.
"Itulah kenapa aku enggak takut tidur sama sembarang cowok, toh, enggak akan pernah hamil lagi," tersenyum patah, "tapi, satu hal yang harus kalian tau, aku enggak apa-apa, meski kadang suka enggak jelas, aku terima karena itu memang salahku sendiri," ia tatap sang ayah, "aku baik-baik aja, sekarang aku jadi wanita kuat, bertanggungjawab dan bisa di andalkan orang lain, pelajaran yang ayah kasih sudah sangat baik, hingga aku sendiri yang bodoh karena selalu merasa benar."
Lalu ia beralih pada Ysabelle dengan dandanan yang sudah luntur karena airmata yang tak mau berhenti, "Ibu selalu bilang kalau aku harus bisa segala hal, aku bisa nyari uang sendiri, aku juga enggak gampang percaya sama laki-laki, ibu selalu cerita kalau kita enggak boleh keliatan sedih dan nelangsa. Maka menjadi sosok yang di benci lebih berarti di banding di kasihani. Aku pegang itu semua bu, aku enggak pernah sedih dan malah asik buat masalah dan masalah. Maka yang bisa aku lakukan adalah menangis setiap malam, lalu kembali menjadi wanita kejam saat pagi hari. Aku juga jadi jago judi," katanya lalu terkekeh.
__ADS_1
Illona Ingat, selain memaafkan kan diri sendiri pun dengan pria-pria yang sudah menyakitinya. Ia malah sengaja melupakan hal paling penting dan benar, meminta maaf pada kedua orangtuanya sendiri. Sesuatu yang dulu Illona anggap lucu karena mereka adalah sebagian besar alasan bagaimama ia berlaku saat itu.
Ia raih telapak tangan Ysabelle dan Taka dengan kedua tangannya, lalu menunduk, menghela nafas agar tak menangis lagi, ia harus kuat sama seperti yang selalu ia junjung tinggi.
"Ita lupa, Ita belum minta maaf, karena sudah lancang berbuat amat tak bermoral, Ita masih suka buat masalah juga masih sangat suka menyalahkan, Ita selalu sibuk cari salahnya orang biar ngerasa paling menderita. Padahal yang patutnya di salahkan yah, Ita sendiri. Ita yang buat dosa, kok. Maafin Ita seringnya bikin derita bukan bikin tawa." Ysabelle menggeleng kuat, pun dengan Taka yang tak terima dengan ucapan sang putri.
Karena sedari dulu mereka sudah memaafkan, meski kata maaf itu tak terucap dari bibir sang anak.
Mereka juga punya dosa besar yang tentu tak akan cukup mereka tebus sampai kapanpun.
"Ita bahagia kok, walaupun kadang suka ngerasa sendiri dan sakit. Tapi, itu wajar kan? karena sekarang semua mulai baik-baik aja. Jadi jangan lagi merasa bersalah, apapun yang sudah terjadi memang sudah Allah kehendaki. Kita akan baik-baik dan Ita sedang percaya kalau kita bisa bahagia." Ah, Illona mulai merasa ia jadi pandai berkata seperti ini.
Dan terakhir Illona sengaja duduk di lantai, ia remas bahu Ibra kuat, seolah menyadarkan.
"Kamu adalah segala yang pertama yang pernah aku lakuin, jadi tolong berhenti menyalahkan diri, karena seperti yang aku bilang kemarin. Mari menerima apapun, kita pernah salah dan begitu memuakkan, tapi enggak untuk hari-hari berikutnya. Kita buang semua rasa sakitnya dan aku yakin kamu pasti seneng denger ini ..., aku masih sayang banget sama kamu." lanjutnya dengan senyum lebar, Illona tak menangis dan sesak di dadanya hampir hilang.
Ia sudah belajar banyak.
Dan yah, pelukanlah yang bisa Ibra persembahkan,ia tak mampu bila harus mengeluarkan suara. Karena tahu yang keluar hanya sebuah tangisan dan itu memalukan.
Ada yang Taka dan Ysabelle syukuri, bahwa Ita-nya kembali dan kedepannya menjadi tugas mereka untuk selalu memastikan dan menjaga sang putri. Juga perasaan sakit dan tak rela saat tahu kalau sang anak tak bisa memiliki bayi lagi.
Mungkin saja, hanya Inara Cucu mereka satu-satunya dan semoga saja Inara bersedia memaafkan kebodohan kakek dan neneknya sendiri.
__ADS_1
Ibra mulai lega, tapi perasaan tak rela dan tak tega terus menusuknya.
Ibra bisa lihat kalau ada binar di mata berlensa biru milik Illona. Wanita itu, wanitanya sudah benar-benar berdamai dan menerima. Ibra tahu kalau ia tak salah karena sudah jatuh cinta setengah gila pada sang macan betina. Dan amat bersyukur kala tahu perasaan mereka masih sama.
Illona tak mau sedih lagi, sudah cukup waktu bersedih dan marah yang ia habiskan di masa lalu, ia tak mau kembali menjadi pribadi yang kacau.
Ia pun tak akan lupa, bila ia pernah hampir memiliki bayi. Karena Inara jugalah alasannya untuk tetap bertahan meski keadaan selalu menyakitkan.
Dan ia tak akan pernah lupa untuk tetap berdiri kuat walau sesakit apapun hidupnya nanti.
Karena seseorang yang sudah di serang badai tak akan goyah bila nanti di terpa gerimis.
Dan Illona mulai berpikir untuk meminta maaf pada mereka yang sudah dengan sengaja ia sakiti hatinya.
Luka, yah..., sakitnya bertahan cukup lama, perihnya selalu datang kapan saja, pandai membuat ia hilang akal juga rasa sesalnya yang tak bisa hilang begitu saja.
Hatinya, yang untung saja kuat, meski selalu tersedat, menahan diri dengan kuat dan kadang ia bisa sinting juga.
Pada akhirnya luka itu bisa jadi tawa saat kita benar-benar menerima. Meski butuh waktu yang lama, tapi setelahnya kita hanya akan terbiasa dan biasa-biasa saja dengan duka yang pernah tercipta.
Tertawa bahagia, lepas tanpa batas dan bersyukur tanpa perlu di ingatkan lagi.
Sebab..., Tuhan tahu kita bisa dan mampu untuk bertahan dengan hati yang di penuhi luka, tawa yang seringnya berbalut duka, tegar yang di kelilingi trauma, serta senyuman yang banyaknya di kunci air mata.
__ADS_1