
Illona memang gila... Tapi, ternyata ada yang lebih gila darinya. Dengan tampang lugu dan menggoda pria itu menawarkan kencan.
Illona tak mengingat kapan terakhir kali ia akan duduk dengan cup ice cream atau pergi ke bioskop dan menghabiskan malam minggu berdua.
Karena yang biasanya terjadi Illona yang sudah ada di hotel untuk main dan pulang pagi hari atau mabuk semalaman dengan keadaan kacau.
"Mumpung kita masih di Jepang." Ares membawa dua cup ice cream rasa vanilla dan coklat.
"Setelah ini kita akan bersenang-senang." Yakinnya pada Illona, yang hanya di balas senyum masam.
Illona tak bisa lepas. Hatinya ingin tapi jiwanya menahan.
Ada gundah yang ia tutupi dengan berhasil.
"Ayo lari Illona!" Ares lalu meraih tangan Illona untuk digenggam dan berlari.
Mau tidak mau mereka meninggalkan restoran dengan berlari dan sesekali menabrak pejalan kaki lain.
Ares tertawa lepas sedang Illona menjadi pias.
__ADS_1
"Apa yang kita lakukan barusan?" Sungguh Illona sedang melamun tadi, ia tak tahu pasti apa yang sedang terjadi.
"Bukan masalah besar, hanya saja aku sengaja tak membayar makanan kita." Illona menutup mulutnya kembali sebelum memberikan tatapan sinis.
"Tapi tenang, setelah ini kita akan bayar dua kali lipat." lanjutnya dan mendekap Illona tanpa sebab.
Jika Illona pikir Ares tak mengetahui hatinya, ia salah besar. Karena dengan pengalaman mengencani 100 wanita Ares jelas tahu ada yang berbeda.
Mereka bertahan dengan pelukan tanpa alasan dan saling maraup ketenangan.
Illona yang mencari kenyamanan dan ketenangan sedang si pria yang mencari kesempatan.
Karena baginya pantang menyia-nyiakan peluang.
***
"Aku merasa ini aneh," aku Ares lalu tertawa.
"Tapi, aku bahagia." Illona akan jujur kali ini. Meski saat tadi ada gundah yang menakutinya, kini ia merasa lepas. Gombalan dan lelucon yang Ares lemparkan benar-bebar alay menurutnya dan sangat tak cocok dengan karakter Don Juan yang selama ini Ares perlihatkan. Dan walau pun begitu ia tertawa juga.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kita masih pacaran kan pas di Jakarta nanti?"
"Ya, iyalah!" Seru Illona keras lalu tanpa aba-aba ia memberikan kecupan dalam dan di balas tak kalah menggebu oleh Ares.
***
Entah bagaimana ceritanya Illona tak benar-benar mengingat. Yang pasti ia sudah jatuh dalam pelukan si berengsek Ares.
Ares masih tertidur karena kelelahan. Dan ada yang paling Illona syukuri bahwa dirinya bisa melupakan pria yang beberapa minggu lalu tidur dengannya.
Illona merasa kali ini ia lebih lepas dan bebas, sebab merada di dalam hubungan dengan Ares memang semenyenangkan itu.
Kalau boleh Illona pikirkan seharusnya pria semodel Ares ini sudah punya istri dengan 2 anak atau 3 mingkin. Nyatanya pria ini masih setia main wanita, berpesta dan jangan lupakankan bahwa ia pandai berjudi.
Tapi, kalau Ares ini sudah menikah Illona tak yakin akan mendapatkan pria modelan seperti ini untuk ia jadikan tameng dan senjata dalam misi rahasia nya. Pria yang nyaris serupa dengan dirinya, Illona merasa Ares adalah dirinya dalam versi pria.
"Sepertinya aku mau lagi." Dan sebelum Illona menjawab tubuhnya sudah lebih dulu ditindih dan yahh... Kalian tahu sendiri.
***
__ADS_1
***Sorry for typo...
Terima kasih sudah membaca💙💙💙***