Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Jadilah Gadisku


__ADS_3

Cinta memagut dirinya di depan cermin. Sebuah dress hitam berkombinasi putih terlihat memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna. Sebuah dress yang mengembang di bagian bawah dan setengah lengan.


Rambut panjangnya di biarkan tergerai dan jatuh di atas punggungnya. Wajahnya di polesi make up tipis yang membuat kecantikannya terlihat lebih natural.


Rencananya Cinta akan pergi bersama Aiden, pria itu ingin mengajaknya makan siang di luar. Kebetulan sekali ini adalah akhir pekan jadi mereka sama-sama free.


"Tumben sekali sudah rapi, Sayang? Memangnya kau mau pergi ke mana?" Tegur Gita melihat putrinya yang sudah rapi dan terlihat begitu cantik.


Cinta tersenyum lebar. "Makan siang di luar, Ma. Seorang teman mengajakku untuk makan siang bersama." Jawabnya dengan senyum yang sama.


"Siapa dia? Apa dia adalah kakak seniormu itu?" Cinta menggeleng. "Bukan, lalu siapa?" Tanya Gita sekali lagi.


"CEO Qin Empire." Jawabnya sambil tersenyum malu yang sontak membuat kedua mata Gita membelalak saking kagetnya.


"Aiden Qin?!" Cinta mengangguk.


"Sudah ya, Ma. Aku pergi dulu, da Mama." Cinta mencium pipi Ibunya dan pergi begitu saja. Sementara Gita hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah gadisnya.


Gita tidak tau harus merasa bagaimana Cinta dekat dan Aiden. Haruskah dia merasa senang tau malah sebaliknya? Gita menggeleng. Tidak seharusnya dia berpikiran yang tidak-tidak mengenai putra bungsu dalam keluarga bangsawan itu.


-


-


-


Perjalanan menuju restoran di isi obrolan-obrolan ringan antara Cinta dan Aiden. Sepanjang perjalanan, suasana mobil tidak sepi dan hening sama sekali.


Cinta terus saja berceloteh panjang lebar menceritakan berbagai hal pada Aiden. Meskipun sesekali saja menanggapinya, tapi dia adalah seorang pendengar yang sangat baik.


Aiden akui, jika Cinta adalah seorang mood booster disaat dia sedang dalam keadaan buruk. Senyum dan celotehannya membuat Aiden merasa lebih baik.


"Oya, Kak Ai. Bagaimana dengan tunangan Kakak? Dia bisa salah paham jika sampai melihat kita bersama terus seperti ini." Ucap Cinta sedikit cemas.


"Untuk apa memikirkan dia. Wanita itu tidak ada hubungannya dengan kebersamaan kita. Lagipula sejak awal pertunangan kami bukan di dasari oleh cinta, tapi karena hubungan bisnis antar keluarga!!"

__ADS_1


"Tapi tetap saja, apapun alasannya. Dia tetaplah tunangan mu, dan seharusnya kau bisa menjaga perasaannya."


"Kau terlalu banyak bicara, Nona Muda. Bisakah kita tidak usah bahas tentang dia lagi? Aku bosan mendengarnya!!"


"Huuu.. Baiklah. Tapi kita membahas apa ya?"


Cinta mencoba berpikir tentang apa yang perlu dia bahas bersama Aiden. Sementara pria tampan itu hanya mendengus geli melihat ekspresi menggemaskan gadis bermarga Su tersebut.


"Apa saja boleh." Jawab Aiden cepat.


"Aku kehabisan topik, sebentar..aku berpikir dulu." Melihat sikap dan tingkah Cinta membuat Aiden geli sendiri. Dengan gemas dia menepuk kepala coklat gadis berdarah campuran tersebut.


Dan selanjutnya kebersamaan mereka hanya diisi keheningan. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir Cinta maupun Aiden. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan.


Dan keheningan mereka berlanjut sampai tiba di restoran yang di tuju.


Cinta menahan lengan Aiden sebelum mereka memasuki restoran tersebut. "Kak Ai, kau yakin mau makan di sini? Tempat ini terlalu mewah dan harga makanan di sini juga bisa menguras kantong. Kita pindah ke tempat lain saja ya." Pinta Cinta memohon.


"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah terbiasa makan ditempat ini. Ayo masuk." Aiden menggenggam tangan Cinta, dan menariknya masuk ke dalam restoran.


Seorang pelayan restoran langsung mengantarkan mereka menuju ruangan VIP, alasannya satu, yakni privasi. Aiden memang tidak bisa makan dengan banyak orang di sekelilingnya. Dia lebih nyaman dengan suasana hening dan tenang.


Degg..


Gadis itu tersentak saat merasakan punggungnya bersentuhan dengan dada seseorang yang begitu bidang. Dengan kaku Cinta menoleh dan mendapati Aiden berdiri di belakangnya.


Jantung Cinta berdegup kencang, gadis itu terlihat gugup setengah mati. "Inilah salah satu alasan kenapa aku menyukai makan di tempat privasi seperti ini. Karena dari ketinggian aku bisa menikmati pemandangan kota, bukankah sangat indah dan luar biasa?"


Cinta dapat merasakan hembusan napas Aiden yang lembut menerpa kulit lehernya. Membuat bulu-bulu halus tengkuknya langsung berdiri.


"Ya." Jawabnya singkat.


Tubuh Cinta semakin menegang saat sebelah tangan Aiden tiba-tiba melingkari perutnya. Jantungnya semakin maraton ketika Aiden mengecup leher jenjangnya dengan bibir Kissable nya yang basah.


"Kau tau. Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan senyaman ini ketika dekat dengan lawan jenis ku. Aku tidak tau mantra apa yang kau gunakan untuk menjeratku, Cinta. Tapi kau benar-benar membuatku jatuh ke dalam pesona mu!!" Tutur Aiden.

__ADS_1


Cinta melepaskan pelukan Aiden. Kemudian dia berbalik. Posisinya dan pria itu saling berhadapan, dengan mata mereka yang saling mengunci.


Aiden mendekatkan wajahnya. Sebelah tangannya mengangkat dagu Cinta, hingga akhirnya gadis itu merasakan lembut dan manisnya bibir Aiden yang basah menyapu lembut bibir atasnya. Yang kemudian di susul lum*tan - lum*tan lembut yang menghanyutkan.


Meskipun awalnya terkejut. Namun akhirnya Cinta bisa menerima ciuman itu dengan baik. Bahkan dia tidak ragu untuk membalasnya. Ini adalah pengalaman pertama baginya, dan Cinta hanya mengikuti instingnya saja. Dia sungguh tidak berpengalaman dalam hal berciuman.


Sebelah tangan Aiden menuntun lengan Cinta untuk memeluk lehernya. Ciuman mereka semakin dalam dan lebih menuntut dari sebelumnya ketika Aiden menekan tengkuk gadis itu dengan lebih dalam.


Dan ciuman mereka baru berakhir ketika Aiden merasakan pukulan pada dadanya. Cinta sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya.


"Jadilah gadisku, Cinta Su. Aku memang tidak bisa menjanjikan dunia ini padamu. Tapi aku bisa memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus padamu. Untuk itu bersediakah kau menjadi kekasihku?" Ucap Aiden sambil mengunci langsung sepasang manik Hazel milik Cinta.


Dengan cepat Cinta menganggukan kepala. Dia menerima pernyataan cinta Aiden padanya. "Ya, aku mau Kak Ai." Jawabnya. Aiden tersenyum lebar. Aiden menarik Cinta ke dalam pelukannya, mendekap tubuh gadis itu dengan erat sambil sesekali mengecup kepalanya.


"Terimakasih Cinta, aku berjanji untuk selalu menyayangi dan melindungi mu."


"Ya, aku mempercayaimu Kak Ai."


-


-


-


Steven memandang puas sebuah botol kecil ditangannya. Itu adalah obat bius yang baru saja dia dapatkan dari salah seorang rekannya. Dia berencana untuk memiliki Cinta dengan caranya. Steven tidak rela jika Cinta sampai menjadi milik orang lain.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan obat itu, Stev?" Tanya salah satu teman Steven.


"Tentu saja untuk menangkap kupu-kupu liar. Minta bantuan pada temanmu supaya dia membawa Cinta ke Golden Bar. Bilang saja jika kita akan melakukan reuni, dan dengan khusus mengundangnya."


"Lalu bagaimana jika dia sampai menolaknya?"


Steven menggeleng. "Aku yakin dia tidak akan menolaknya. Percaya saja padaku. Dan aku ingin rencana ini sampai berhasil, aku tidak ingin ada kegagalan. Mengerti!!"


"Kau tenang saja, serahkan urusan ini padaku. Kau bisa mengandalkan diri ku!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2