
Seorang perempuan muda terlihat berjalan menaiki sebuah bukit yang terletak dibelakang Villa milik suaminya dengan begitu bersemangat. Sepasang biner Hazel nya yang jernih menatap langit dan jalan perbukitan secara bergantian.
Mimik wajahnya menunjukkan betapa dia sangat mengagumi keajaiban Tuhan yang satu itu.
Terkadang dia bertanya-tanya, bagaimana Tuhan yang hanya sendiri dapat menciptakan bumi dan isinya dengan segala keindahan yang ada.
"Cinta pelan-pelan, kau bisa terjatuh!!" Seru seorang pria melihat tingkah wanitanya yang seperti bocah.
"Kak Ai, kau itu pria tapi kenapa sangat lambat? Ayo, cepat sedikit. Aku sudah hampir sampai dipuncak nya!!" Seru Cinta dengan begitu bersemangat.
Aiden mendengus berat. "Tidak salah jika banyak orang yang mengatakan jika Cinta sangatlah bar-bar, karena memang begitulah kenyataannya.
Mengabaikan Aiden yang ia tinggalkan dibelakang. Cinta semakin mempercepat langkahnya supaya dia bisa segera mencapai bukit, meskipun nafasnya mulai naik-turun tak beraturan, tapi Cinta tidak peduli. Yang terpenting ia bisa segera sampai dipuncak nya.
Dan setelah perjuangan panjang. Akhirnya rasa lelah Cinta terbayar Lunas. Dari atas bukit Cinta bisa melihat langit malam yang terhampar luas dengan hiasan jutaan manik-manik nya yang berkerlipan, serta sinar Sang Dewi Malam yang menyinari bumi.
Aiden tiba beberapa saat kemudian. Dia menghampiri Cinta kemudian berdiri disampingnya. "Bagaimana? Kau menikmatinya?" Ucap Aiden pada perempuan disampingnya.
Cinta mengangguk. "Sangat, ini sungguh sangat luar biasa, Kak Ai. Dan aku menyesal karena baru datang kemari sekarang. Seandainya saja kita bertemu lebih awal, pasti aku bisa melihat keindahan disini dari dulu." Tuturnya.
"Semua adalah rencana Tuhan, dan dia baru saja mengijinkan kita untuk bertemu. Dan aku percaya, semua yang terjadi diantara kita bukan sekedar kebetulan saja, melainkan takdir yang memang telah digariskan untuk kita." Tutur Aiden.
Cinta mengangguk. Dia setuju dengan apa yang Aiden katakan.
Aiden memutar lehernya dan menatap sisi wajah Cinta. Tatapannya berubah sendu. Entah, menikahi Cinta sebuah hal yang benar atau tidak, jika Aiden boleh jujur. Cinta selalu mengingatkan dia pada mendiang istrinya yang telah meninggal beberapa tahun lalu.
Bukan hanya wajah mereka yang sama, namun juga sikap dan perilaku mereka juga sama. Awalnya Aiden mengira jika Cinta adalah Natasya.
Tapi setelah dipikir-pikir itu tidak mungkin. Mengingat jika usia mereka terpaut 3 tahun. Cinta lebih muda dari Natasya.
"Kak Ai, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Ucap Cinta melihat tatapan Aiden padanya. Pria itu terus saja menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Cinta jabarkan.
Aiden menggeleng. "Tidak apa-apa." Pria itu tersenyum tipis.
Aiden meninggalkan Cinta. Kemudian dia berbaring di atas rumput, Cinta yang tidak mau ketinggalan kemudian ikut berbaring disamping Aiden.
__ADS_1
"Kak Ai, berapa lama lagi kita harus menunggu? Aku sudah tidak sabar menunggu kapan bintang jatuhnya muncul."
"Sabar, Sayang. Ini masih sore. Mungkin menjelang tengah malam."
"APA?!" Cinta memekik. "Menjelang tengah malam?!" Aiden mengangguk.
"Makanya aku memintamu untuk tidur lebih dulu supaya kau tidak mengantuk karena harus menunggu sampai tengah malam." Jawab Aiden.
"Tidak masalah. Aku akan tetap terjaga sampai tengah malam. Demi melihat bintang jatuh, aku akan bertahan." Ucap Cinta menyemangati dirinya sendiri. "Tapi masih lama." Dia berubah lemas.
"Tunggu saja, nanti juga ada."
.
Sudah hampir 5 jam mereka berada di bukit. Tapi apa yang Cinta tunggu-tunggu dari tadi belum muncul juga. Belum ada satu bintang pun yang jatuh seperti yang Aiden katakan, padahal sudah hampir tengah malam.
Sebenarnya Cinta sudah sangat mengantuk, tapi dia mencoba untuk menahan rasa kantuknya. Agar bisa menemukan bintang jatuh.
"Kak Ai, kenapa belum muncul juga bintang jatuhnya?" Keluh Cinta frustasi.
Di atas sana, terlihat cahaya putih yang meluncur turun, tidak hanya satu atau dua, dan itu adalah sebuah fenomena dan keajaiban Tuhan yang sangat luar biasa.
"KKYYYAAA!!! Bintang jatuh!!" Teriak Cinta histeris. Wanita itu langsung berdiri dan melompat kegirangan melihat cahaya putih di atas sana yang meluncur turun.
"Bagaimana, kau percaya bukan? Aku tidak berbohong apalagi mengada-ada." Ucap Aiden yang segera dibalas anggukan oleh Cinta.
"Kak Ai, bagaimana kalau kita membuat permohonan. Kata orang, membuat permohonan saat ada bintang jatuh, maka keinginan kita akan dikabulkan."
"Ingin mencoba?" Cinta mengangguk.
"Aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya ingin kebahagiaan dalam pernikahanku."
Cinta mulai mengutarakan permohonannya. Dia tidak mengucapkan dalam hati. Tapi dengan cukup lantang sehingga terdengar oleh Aiden. Berbeda dengan Aiden yang mengatakan dalam hati.
"Eh, Kak Ai apa kau tidak mengucapkan permohonan mu? Kenapa aku tidak bisa mendengar apa yang kau minta dan harapanmu?" Ucap Cinta kebingungan.
__ADS_1
"Karena aku memohon nya dalam hati, Sayang."
"Tidak adil!! Masa aku mengatakan dengan keras, sedangkan kau dalam hati. Aku kan jadi tidak mendengar apa yang Kak Ai minta. Bagaimana kalau permohonan Kak Ai malah minta istri baru? Aku kan jadi merana!!"
Aiden mendengus geli. Bagaimana bisa Cinta memiliki pemikiran yang begitu konyol. Lagipula mana mungkin juga Aiden mengucapkan permohonan menggelikan seperti itu.
"Kau terlalu banyak menonton drama, Nona Muda." Ucap Aiden sambil mengacak rambut Cinta.
"Bahkan aku tidak pernah melihat drama, tapi aku sering menemukannya dalam cerita Novel!!" Ujarnya.
"Sama saja, itu artinya kau korban novel!!"
"Dasar menyebalkan!!"
Aiden menarik tengkuk Cinta dan meraup bibir itu dengan bibirnya. Dia tidak tahan melihat Cinta yang memanyunkan bibirnya, menurutnya itu sangat lucu dan menggemaskan.
Sebelah tangan Aiden menekan tengkuk Cinta, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang ramping wanita itu dan membunuh jarak diantara mereka. Tak ada penolak kan. Cinta malah menikmati Ciuman Aiden dengan sangat baik.
Tak mau kalah dari suaminya. Cinta mengalungkan kedua lengannya pada leher Aiden dan mulai membalas ciuman suaminya tanpa ragu.
Tak suka didominasi, Aiden mengambil alih ciuman tersebut. Dan ciuman sepenuhnya dikuasi oleh Aiden. Bibir Aiden terus saja memagut dan mel*mat bibir Cinta tanpa ampun.
Dan Aiden baru saja melepaskan ciumannya setelah merasakan pukulan pada dadanya. Cinta sudah tidak kuat jika harus bertahan lebih lama lagi.
"Sudah puas kan, sebaiknya sekarang kita pulang. Naiklah dipunggung ku. Aku akan menggendong mu sampai Villa." Ucapnya
Aiden berlutut di depan Cinta dan meminta wanita itu untuk naik ke atas punggungnya. Cinta mengangguk dan kemudian naik ke atas punggung suaminya. Cinta memeluk leher Aiden dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada punggung lebar suaminya.
Lama kelamaan Cinta merasakan jika kelopak matanya semakin memberat, dan hanya dalam hitungan detik saja.
Wanita itu sudah terlelap ke dalam mimpinya. Cinta sangat mengantuk, dan dia benar-benar tidak bisa menahan rasa kantuknya.
Sedangkan Aiden menuruni bukit dengan Cinta dipunggung nya tanpa beban. Seolah-olah, Cinta adalah hanyalah kumpulan kerupuk yang tidak memiliki beban sama sekali.
-
__ADS_1
Bersambung.