Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Wahana Bermain


__ADS_3

Sita menghampiri Cinta yang sedang membaca buku di taman belakang kampus. Gadis itu terlihat serius dengan novel yang sedang dia baca. Dan apa lagi kisahnya jika bukan tentang kisah percintaan remaja.


Tapi masalahnya Cinta bukan lagi gadis remaja labil, yang akan bertumpuh pada sebuah kisah roman picisan seperti yang ada di buku novel.


"Pangeran mu sedang menunggumu di luar, sebaiknya segera temui dia." Ucap Sita yang langsung mengalihkan seluruh atensi Cinta.


"Kak Ai ada di sini?" Cinta mengulang kalimat Sita, dan perempuan itu mengangguk. "Novel ini untukmu saja. Aku mau pergi menemui Pangeran ku dulu!!" Ucapnya dan pergi begitu saja.


"Yakk!! cinta, kenapa aku malah ditinggal?!" Sita mendengus berat. Memang begitulah Cinta, selalu saja meninggalkannya. "Dasar gadis menyebalkan, mentang-mentang sudah punya suami Tampan aku malah dia abaikan!!" Keluhnya kesal.


-


"Kak Ai," seru Cinta sambil melambaikan tangannya. Dan teriakannya yang mirip lumba-lumba langsung menyita perhatian banyak pasang mata. Puluhan mata kini menatap padanya, tapi Cinta acuh dan tidak kau tau.


Dengan sengaja Cinta bersikap mesra pada Aiden dengan memeluk leher suaminya itu."Kenapa Kak Ai datang kemari? Apa kau begitu merindukanku?" Ucap Cinta sambil menatap sepasang Biner milik Aiden.


"Aku datang karena ingin mengajakmu makan siang bersama, kebetulan aku free setelah ini. Kau bilang ingin membeli beberapa pakaian di Boutique langganan mu. Jadi atau tidak?"


"Jadi, jadi, jadi." Cinta menjawab dengan semangat."Kak Ai. Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat sekarang." Cinta memeluk lengan suaminya dan menyeretnya meninggalkan kampus.


Cinta sudah tidak sabar untuk membeli pakaian yang dia inginkan. Jika dulu dia berbelanja dengan uangnya sendiri, maka lain halnya dengan sekarang, dia sudah memiliki suami, dan apa-apa Cinta akan meminta padanya.


Beruntungnya, Aiden bukanlah pria yang mudah perhitungan, jadi dia tidak pernah mempersalahkannya meskipun Cinta selalu meminta ini dan itu. Karena bagi Aiden uang bukanlah segalanya, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Cinta.


-


Setelah berkeliling selama kurang lebih satu jam, sedikitnya tiga dress, empat blus cantik, dua rok dan dua celana sudah ada di tangan Cinta.


Cinta memang memiliki hobi berbelanja, tapi dia bukanlah seorang maniak seperti Sita. Jika sudah berbelanja, Sita bisa menghabiskan seluruh tabungannya. Tapi tidak dengan Cinta. Cinta masih tau batasan.


"Itu saja?" Ucap Aiden sambil menunjuk pakaian di tangan Cinta. Gadis itu mengangguk.


"Ini sudah lebih dari cukup." Jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita bayar dulu." Cinta dan Aiden berjalan menuju kasir. Setelah membayar semua belanjaan Cinta, keduanya meninggalkan Boutique.


Aiden melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan. Dia hanya berputar-putar saja, Aiden bingung harus membawa Cinta pergi kemana, mengingat jika dia tidak tau banyak tempat menarik di kota ini. Mengingat jika selama ini dia besar di negeri tirai bambu.


"Kak Ai, sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Cinta sedikit bingung.


Aiden mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tau. Aku tidak tau banyak tempat bagus dan menarik di kota ini." Jawabnya menuturkan.


"Lotte World, bagaimana kalau kita ke sana saja? Kebetulan sekali aku ingin menaiki kincir angin raksasa." Tuturnya.


"Baiklah."


.


Cinta dan Aiden berjalan sambil bergandengan tangan ketika memasuki Lotte World, di tangan kiri gadis itu memegang sebuah permen kapas yang mereka beli di dekat gerbang masuk.


Permen kapas merupakan salah satu makanan kesukaan Cinta. Karena itu bisa mengingatkannya pada masa-masa kecilnya dulu ketika orang tuanya mengajaknya ke taman bermain.


"Kak Ai, aku ingin naik kincir angin. Ayo, sebelum kincir anginnya kembali berputar." Dengan semangat Cinta menarik Aiden menuju kincir angin raksasa tersebut. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera naik wahana itu.


Raut wajahnya terlihat tegang. Jika boleh jujur, sebenarnya Aiden sangat takut pada ketinggian. Tapi sebisa mungkin dia melawan rasa takutnya itu hanya untuk menuruti kemauan Cinta.


Setelah satu kali putaran. Gondola yang Cinta dan Aiden naiki berada dipuncak nya. Dan dari ketinggian, mereka semakin di manjakan dengan keindahan kota.


"Kak Ai, bukankah ini sangat luar biasa?" Ucap Cinta tanpa menatap lawan bicaranya.


"Hn,"


"Dan apakah kau pernah mendengar sebuah mitos, jika berciuman dengan pasangan tepat saat kincir angin berada dipuncak nya, maka hubungan mereka akan abadi?" Ucap Cinta sambil mengunci langsung sepasang Biner milik Aiden.


"Dan apa kau mempercayainya?"


Cinta mengangkat bahunya. "Entah, percaya tidak percaya, karena aku belum pernah melakukannya." Jawabnya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita coba."


Aiden menarik tengkuk Cinta dan mencium bibirnya, mel*mat dan memagut bibir tipis itu atas bawah bergantian. Tak ingin kalah dari suaminya, Cinta mengalungkan kedua tangannya pada leher Aiden dan membalas ciuman itu.


Keduanya berciuman tepat saat gondola yang mereka naiki berada pada puncaknya. Dan baru berakhir ketika kincir angin kembali berputar seperti semula.


Puas bermain di Lotte World dan mencoba berbagai macam wahana, Cinta dan Aiden memutuskan untuk segera pulang. Cinta sudah sangat lelah setelah bermain hampir seharian.


.


"Kak Ai, wanita itu?" Setibanya di rumah. Mereka langsung disambut oleh seorang wanita yang Cinta ketahui sebagai Alea, mantan tunangan Aiden.


"Tidak apa-apa, biar aku yang bicara padanya. Sebaiknya kau langsung masuk ke dalam saja." Ucap Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Cinta.


Tanpa mengatakan apapun, Cinta melewati wanita yang sejak ia turun dari mobil terus menatapnya tajam. Cinta tidak merasa gentar apalagi takut dengan tatapan wanita itu padanya. Dia tetap bersikap acuh dan tidak peduli.


"Aiden, ada hal penting yang harus aku katakan padamu."


"Katakan saja." Pinta Aiden tanpa basa-basi.


"Aku hamil, dan anak dalam kandungan ini adalah anakmu!!"


Aiden memicingkan matanya dan menatap Alea penuh tanya. "Kau hamil? Dan itu anakku? Kau pikir aku akan mempercayainya, sedangkan aku tidak pernah tidur denganmu sama sekali. Sebaiknya berhenti mengada-ada dan mengatakan hal yang tidak masuk akal!!"


"Tapi aku memang mengatakan yang sebenarnya!! Apa kau tidak ingin jika pernah mabuk berat saat di club' malam setelah kematian wanita itu, kau terus memanggilku dan menganggap jika aku adalah dia. Kemudian kau~"


"Omong kosong!! Tipu dayamu tidak mempan untukku!! Aku memang mabuk malam itu, tapi jika kau memang hamil karena apa yang kita lakukan malam itu. Bukankah seharusnya anak itu sudah lahir dan berusia hampir 5 tahun?! Karena kejadian itu terjadi 5 tahun yang lalu!!" Jelas Aiden panjang lebar.


Alea langsung gelagapan. "Ma..maksudku anakmu, aku pernah mengandung anakmu dan sekarang dia~"


"Pergilah, sebelum aku menyeret mu keluar dan melempar mu ke jalanan!!"


Alea mengepalkan tangannya. Dengan marah dan malu, dia meninggalkan Aiden begitu saja. Pria itu mendengus berat, Aiden beranjak dari teras dan segera masuk ke dalam.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2