Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Perdebatan


__ADS_3

Aiden menghentikan mobilnya di halaman luas sebuah rumah mewah berlantai dua. Pria itu menatap gadis yang duduk disampingnya, Aiden mendengus berat melihat Cinta yang sedang terlelap. Pantas saja dia tidak mendengar ocehannya.


Tidak tega membangunkannya, Aiden memutuskan untuk membopongnya masuk. Beruntung nyonya rumah belum tidur, Gita masih menunggu kepulangan putrinya.


Gita mengarahkan Aiden menuju kamar Cinta yang berada di lantai dua. Setelah membaringkan gadis itu ditempat tidur, Aiden dan Gita meninggalkan kamar gadis itu.


"Aiden, Bibi minta maaf karena sudah merepotkan mu." Ucap Gita penuh sesal.


Aiden menggeleng. "Tidak sama sekali, Bibi. Kalau begitu aku pulang dulu." Gita mengangguk. Ibu tiga anak itu mengantarkan Aiden sampai depan pintu. Dan dia baru masuk setelah mobil itu melaju pergi.


Gita menutup kembali pintu rumahnya lalu melenggang masuk. Dia sangat lelah dan mengantuk, Gita begadang demi menunggu kepulangan putrinya. Dan sekarang dia bisa bernapas lega setelah putrinya pulang.


-


"Dari mana saja kau?!"


Langkah kaki Steven terhenti di ujung tangga setelah sebuah suara dingin dan terlewat datar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Steven lantas menoleh dan menatap datar pria yang sedang menatapnya nyalang.


"Bukan urusan, Paman!!" Jawabnya sinis.


"Apa kau tidak lihat ini sudah jam berapa, Steven Qin?!" pria itu yang pastinya adalah Aiden.


"Memangnya siapa Paman, dan kenapa Paman harus mencampuri urusanku?!"


"Ini adalah rumahku, dan aku yang memiliki aturan di sini!! Siapa pun yang tinggal di sini harus ikut aturan ku, termasuk Kakek. Jika kau tidak suka, kau boleh angkat kaki dari rumah ini!!"


Gyuttt...


Steven mengepalkan tangannya dan menatap Aiden dengan marah. Dengan emosi yang telah sampai ubun-ubun nya. Pemuda itu menghampiri Aiden lalu menarik pakaiannya.


"Kau bukan ayahku, untuk apa ikut campur dan mengurusi hidupku?! Sebaiknya kau diam dan jangan banyak bertingkah, atau kau siap merasakan akibatnya?!"


Aiden menyentak tangan Steven dan menghempaskan nya. Dia menatap Steven tak kalah tajam. "Siapa kau berani mengancam ku? Sebaiknya benahi dulu hidupmu yang berantakan itu baru memberikan peringatan padaku!!"


"Satu lagi, katakan pada Ibumu sebaiknya jangan main-main denganku!!" Aiden beranjak dari hadapan Steven dan pergi begitu saja.


"Apa hubunganmu dengan Cinta?!"


Aiden menghentikan sejenak langkahnya, dan melirik Steven dari ekor matanya. "Itu bukan urusanmu!!" Lalu ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Steven mengepalkan tangannya. Aiden benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Dia tidak tau apa yang membuatnya selalu kalah dari pamannya tersebut.


"Lihat saja, aku pasti bisa memiliki Cinta!!"


-


Ratu tidur...


Sepertinya julukan itu sangat pas untuk putri bungsu keluarga Su yang satu ini. Ya, Cinta memang sangat sulit dibangunkan dan terkadang membuat Gita kesal setengah mati karena kelakuan putrinya tersebut.


Mentari telah merangkak naik menuju singgasananya. Sinarnya yang agung telah sampai di titik cakrawala. Membagi kehangatan pada sebagain bumi yang dinaungi.


Disaat semua penghuni rumah sudah bangun dan sibuk dengan kegiatan masing-masing, hal sebaliknya justru di lakukan oleh Cinta. Cinta justru masih terlelap dalam tidurnya.


"Ma, dimana Cinta? Kenapa belum bangun?" Tegur Carell saat tak mendapati keberadaan adik bungsunya tersebut.


"Memangnya dimana lagi kalau bukan di kamarnya." Jawab sang ibu.


"Jadi Cinta belum bangun?" Sahut Cris yang baru saja bergabung bersama mereka. "Akan ku bangunkan kalau begitu." Cris meninggalkan meja makan dan pergi ke kamar Cinta.


Entah rencana konyol apa lagi yang dia miliki kali ini, yang pasti itu sangat efektif untuk membangunkan saudari kembarnya yang super kebo tersebut.


Cris sengaja membawa sebuah mentimun ke kamar Cinta. Itu adalah senjata paling ampuh untuk membangunkannya.


"CRIS!! KAU SUDAH BOSAN HIDUP YA?!" amuk Cinta setelah kedua matanya terbuka sepenuhnya.


"Nah kan, akhirnya kau bangun juga. Jangan ngomel lagi, segera bangun terus mandi, Mama sama kak Carell sudah menunggu kita di bawah."


Cinta mendengus berat. "Aku tau, tapi tidak pakai mentimun juga!!" Dengan perasaan dongkol Cinta berjalan ke arah kamar mandi. Rasanya dia ingin sekali mengutuk Cris


Cinta masih ngantuk berat, dan dengan tanpa rasa bersalah sedikit pun dia malah membangunkannya secara paksa. Lebih menyebalkan nya lagi, Cris memakai mentimun.


Setelah mandi dan ganti pakaian. Cinta menghampiri ibu serta kedua kakaknya dan ikut gabung untuk sarapan bersama mereka.


Semua makanan yang tersaji di atas meja benar-benar menggugah selera, dan semakin membuat perutnya keroncongan. Cinta sudah tidak sabar untuk menyantap semuanya.


.


"Cinta, jangan ambil makanan dari piringku!" Protes Cris saat Cinta mengambil makanan dari piringnya.

__ADS_1


"Katanya Abang, tapi kenapa pelitnya tidak ketulungan?!"


Dan Cris hanya bisa mendesah pasrah. Jika dilanjutkan mungkin akan panjang ceritanya. Cris memilih mengalah demi kebaikannya, meskipun sebenarnya harga dirinya tersakiti.


Selanjutnya tidak ada lagi perdebatan, yang terdengar hanya suara sendok dan piring yang saling bersentuhan. Gita dan mendiang suaminya selalu mengajarkan tata Krama ketika dimeja makan sejak mereka masih kecil.


Usai sarapan, semua kembali pada kesibukan masing-masing. Carell yang harus pergi ke kantor. Cinta dan Cris yang pergi kuliah, sedangkan Gita pergi untuk mengurus boutique nya.


"Cinta, ayo naik." Sebuah motor sport hitam tiba-tiba berhenti di depan Cinta. Si pengendara memintanya untuk segera naik, namun diabaikan oleh gadis itu. "Cinta, kau tidak tuli bukan?! Naik." Pinta orang itu sekali lagi.


"Aku tidak mau!!" Jawab Cinta pada akhirnya.


"Kenapa? Karena pria berjas itu?"


"Itu bukan urusanmu!!"


"Cinta, jangan memaksaku untuk bertindak kasar padamu!!" Geram orang itu yang pastinya adalah Steven.


Cinta mendengus berat. Lama-lama pria ini membuatnya naik darah. "Berhentilah memaksaku dengan seenak jidatmu, Senior!! Kemana saja kau dulu saat aku berusaha untuk mengejar dan mendapatkan mu?"


"Kau selalu bersikap acuh dan abai padaku, tapi kenapa kau malah kebakaran jenggot saat orang lain mencoba mendekatiku?!"


"CINTA!!"


"Apa?! Mau bertindak kasar, kau pikir kau siapa bisa memaksakan kehendak mu padaku?! Ingatlah, saat ada orang yang mencintaimu dengan tulus, jangan coba kau abaikan, ketika dia sudah pergi yang terasa hanya penyesalan. Karena mereka tidak akan berdiri ditempat yang sama!!"


Perhatian keduanya teralihkan oleh kedatangan sebuah sedan hitam mengkilap. Seorang pria berpakaian formal minus jasnya saja, keluar dari mobil tersebut.


"Ada apa ini?" Tegur orang itu yang pastinya adalah Aiden.


"Bukan urusanmu!!" balas Steven. Pria itu kembali menaiki motor besarnya. Dan sport itu melesat jauh meninggalkan Cinta dan Aiden.


Aiden menghampiri Cinta. "Dia tidak menyakitimu atau berbuat kasar bukan?" Tanya Aiden memastikan. Cinta menggeleng, meyakinkan pada Aiden jika dia baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, Kak Ai."


"Ya, sudah. Ayo naik." Cinta mengangguk.


Gadis itu lalu naik ke dalam mobil Aiden dan duduk disamping jok kemudi. Mesin mobil mewah itu kembali dihidupkan dan dalam hitungan detik saja, kuda besi itu melaju menuju keramaian kota.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2