Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Nasib Si Kakek


__ADS_3

Aiden menyeringai tajam melihat ekspresi Kakek Qin saat melihat keberadaannya. Pria tua itu rasanya tidak percaya jika semua ini Aiden yang merencanakannya. Dan Kakek Qin tidak tau hal buruk apa yang akan menimpanya setelah ini.


Pria itu memberikan kode pada anak buahnya supaya meninggalkan mereka berdua. Dan selepas kepergian anak buahnya, di dalam ruangan itu hanya menyisakan Kakek Qin dan Aiden.


Aiden menghampiri Kakek Qin kemudian duduk di sebuah kursi kayu yang berhadapan dengannya. "Aiden Qin, apa maksudnya ini? Kenapa kau melakukan hal ini padaku?!" Tanya si pria tua meminta penjelasan.


Aiden menggeleng. "Tidak ada, aku hanya ingin mengajak Kakek sedikit bersenang-senang saja. Memangnya salah? Bukankah Kakek sendiri juga sangat hobi bersenang-senang?!" Ucapnya dengan seringai yang sama.


"Apa maksud dari perkataan mu itu?!" Tanya Kakek Qin meminta penjelasan.


"Kakek pikir saja sendiri. Tanpa aku menjelaskan pun, pasti Kakek sudah sudah paham dengan yang aku katakan. Mulai hari ini dan seterusnya, tempat ini akan menjadi tempat tinggal Kakek. Jangan harap kau bisa keluar dari sini, aku tidak ingin kau menyulitkan keluargaku lagi!!"


"Kau gila?! BuKau pikir aku tawanan mu?! Lepaskan aku Aiden Qin, atau kau akan menyesal?!"


Lagi-lagi Aiden menatap Kakek Qin dengan seringai yang sama. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan?! Kau... Tidak lebih dari bonekaku sekarang!!"


"Aiden Qin!!" Tubuh pria tua itu tersungkur di lantai bersama kursi yang dia duduk. Tubuhnya terikat dan itulah yang membuatnya tidak bisa berkutik.


Aiden menghampiri Kakek Qin lalu membantunya untuk berdiri. Dia tertawa, Aiden merasa puas melihat Kakek Qin menderita. Karena menurutnya dia memang pantas mendapatkannya.


Bagi orang lain, apa yang Aiden lakukan mungkin sangat keterlaluan. Tapi tidak bagi Aiden, karena apa yang dia lakukan adalah bentuk dari pembalasan apa yang dulu pernah Kakek Qin lakukan pada keluarganya.


"Anggap saja tempat ini sebagai hotel berbintang lima. Dan selamat bersenang-senang Kakekku tersayang!!"


"Aiden Qin, kau memang Iblis!!!" Teriak Kakek Qin namun tak dihiraukan oleh Aiden. Aiden melambaikan tangannya sambil berjalan meninggalkan ruangan pengap dan sempit tersebut.


Aiden memang tidak berencana untuk membunuh Kakek Qin. Mengurungnya di tempat ini sudah lebih dari cukup untuk memberinya pelajaran. Lagipula apa yang bisa dia lakukan saat terkurung di tempat seperti ini?!


"Pastikan dia tidak kelaparan. Kalian tidak perlu masuk. Makanan dan minuman hanya perlu kalian masukkan melalui lubang kecil di pintu."


"Jangan lupa untuk memberinya pakaian setiap hari, buat dia tak sadarkan diri dengan cara apapun. Kemudian siapkan tempat tidur dan renovasi kamar mandi. Aku tidak ingin dia mati gila ataupun Depresi di tempat ini!!"

__ADS_1


"Baik, Tuan. Kami mengerti."


Meskipun sering kali di sebut Iblis, setidaknya Aiden masih memiliki hati. Dia tetap tidak tega membiarkan Kakek Qin hidup dalam penderitaan yang berlebihan. Hanya memberinya sedikit kenyamanan, tanpa memberinya kebebasan.


-


Deru suara mobil yang memasuki halaman membuat perhatian Gita teralihkan. Wanita itu berjalan ke arah jendela yang ada di sisi kanan tempat tidurnya untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata adalah menantunya.


Gita meninggalkan kamarnya kemudian berjalan ke arah pintu untuk menyambut kedatangan sang menantu. Dan tentu saja Gita paham apa tujuan Aiden datang malam-malam.


"Cinta sudah tidur, sebaiknya Nak Aiden langsung ke kamarnya saja." Perintah Gita yang kemudian di balas anggukan oleh Aiden."Oya, Nak. Sebaiknya menginap di sini saja. Kasian Cinta jika harus dibangunkan."


"Itu juga yang aku pikirkan, Ma."


"Baiklah, kalau begitu pergilah istirahat. Kau pasti lelah, Mama juga mau lanjut tidur."


"Maaf, sudah membangunkan Mama." Ucap Aiden penuh sesal.


Aiden yang merasa terharu langsung memeluk ibu mertuanya itu. Dan dari Gita dia bisa menemukan kehangatan yang telah lama hilang. Kehangatan pelukan seorang Ibu, dan berapa beruntungnya dia karena memiliki Ibu mertua sebaik Gita Su.


Gita tersenyum lebar. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aiden. Sebagai seorang Ibu, tentu saja Gita merasa beruntung karena putrinya di dipersunting oleh Tuan Muda sebaik Aiden.


Aiden melepaskan pelukannya. "Mama sebaiknya segera istirahat juga. Ini sudah larut malam Aku ke kamar dulu, Ma."


Gita tersenyum kemudian mengangguk."Baiklah, Nak. Selamat malam."


"Selamat malam, Ma."


.


Aiden tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat Cinta yang sedang tertidur pulas sambil memeluk guling nya. Aiden menghampiri Cinta kemudian ikut berbaring di sampingnya.

__ADS_1


"Nyam, nyam, nyam.. Ayam goreng lezat." Aiden terkikik geli melihat Cinta yang ngelindur. Wanita itu menyebut ayam goreng lezat, sepertinya wanitanya ini sedang bermimpi memakan ayam goreng.


"Ada-ada saja." Ucapnya sambil mencubit gemas pipi Cinta. Tapi pelan, dia tidak ingin membangunkan istri kecilnya ini.


Lelah membuat kedua mata Aiden semakin memberat dan sulit untuk di ajak kompromi lagi. Dan tidak sampai 10 menit, pria itu sudah pergi kealam mimpi menyusul Cinta.


Pria itu memeluk tubuh mungil Cinta dengan erat. Memberikan kehangatan dimusim dingin seperti ini. Udara malam ini memang lumayan dingin.


-


Cinta membuka matanya saat sinar mentari pagi yang hangat mulai menelusup masuk ke dalam kamarnya, melalui sela-sela kecil pada jendela.


Lalu pandangannya bergulir pada sosok tampan yang berbaring di sampingnya. Sudut bibir Cinta tertarik ke atas melihat wajah tampan yang terpampang jelas di depan matanya.


Jari-jari lentiknya menyusuri setiap inci wajah tampan itu mulai dari mata, hidung, kemudian berhenti di bibirnya. Tiba-tiba dia terkekeh geli saat Aiden yang sepertinya terganggu oleh ulahnya.


"Kak Ai, bangun. Ini sudah siang."


"Sayang, jangan menggangguku, biarkan aku tidur sebentar lagi."


"Tidak mau, ini sudah siang. Lihatlah mataharinya sudah tinggi bukan?!" Cinta menunjuk keluar, tapi Aiden tidak mau peduli dan lanjut tidur lagi.


Cinta mendesah berat. Memangnya sejak kapan suaminya ini menjadi sangat sulit untuk dibangunkan? Apakah semalam Aiden pulang sampai larut malam? Cinta sendiri tidak tau.


Wanita itu beranjak dari tempat tidurnya dan pergi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah berganti Pakaian, Cinta pergi ke dapur untuk membantu sang Ibu menyiapkan sarapan.


Selama ini Cinta di kenal sebagai perempuan yang sangat payah dalam urusan memasak, jangankan memasak, masuk dapur saja dia hampir tidak pernah. Dan sekalinya masuk ke dapur, dia malah hampir membakarnya.


Tapi Cinta tau jika tidak ada kata terlambat. Dia juga ingin seperti istri yang lain. Yang selalu menyiapkan sarapan untuk sang suami ketika pagi.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2