
"Apa?! Jadi dokter sudah menemukan donor mata yang tepat untukku?!" seru Cinta tak percaya.
Rasanya Cinta ingin menangis saat dokter mengatakan jika pihak rumah sakit telah menemukan donor mata untuknya. Tapi sayangnya mereka tidak mau memberitahunya siapa orang baik hati yang dengan suka rela mendonorkan mata untuknya.
Padahal Cinta ingin sekali bertemu dan berterimakasih padanya. Tapi si pendonor benar-benar tidak mau bertemu dengannya. Sehingga Cinta tidak bisa apa-apa.
"Lalu kapan operasinya bisa dilakukan, Dok?"
"Minggu depan. Karena lebih cepat lebih baik." Jawab dokter itu.
Air mata Cinta tak henti-hentinya mengalir dari sudut matanya. Dia terlalu bahagia sampai tidak bisa lagi berkata apa-apa lagi. Selain menangis.
Jika dia sudah mendapatkan donor mata, itu artinya dia tidak perlu lagi merasakan kesedihan yang mendalam karena harus mengalami kebutaan. Dan Cinta sangat bersyukur pada Tuhan, Karena Tuhan sangat menyayanginya.
"Terimakasih atas informasinya, Dok. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu mengangguk.
Dengan hati berbunga-bunga. Cinta meninggalkan ruang dokter. Dia harus merayakan kebahagiaannya ini dengan mengajak seluruh keluarganya makan malam di luar.
Ditengah langkahnya, tak lupa Cinta menghubungi suaminya. Dan meminta Aiden supaya membantunya menyiapkan makan malam. Cinta ingin mengajak seluruh keluarga Su untuk makan malam di hotel berbintang 5, dan semua itu adalah bentuk dari kebahagiaannya saat ini.
Wanita itu baru saja menyelesaikan riasannya saat mendengar suara decitan pintu yang di buka dari luar. Sudut bibir Cinta tertarik ke atas melihat siapa yang datang. Wanita itu menghampiri Aiden lalu memeluknya.
Tanpa mendapatkan penjelasan sekali pun, tentu saja Aiden sudah tau apa yang membuat Cinta sebahagia ini. Dia hanya berpura-pura tidak tau saja.
"Kelihatannya kau sangat bahagia. Memangnya ada apa, sampai-sampai mengajak kita semua untuk makan di hotel berbintang segala?"
"Em, untuk apa ya? Yang jelas untuk aku sangat bahagia dan ingin membagi kebahagiaan ini dengan semua orang," tuturnya.
"Baiklah kalau kau tidak kau mengatakannya, aku tidak akan memaksa." Jawab Aiden.
Aiden memperhatikan penampilan Cinta dari ujung rambut sampai ujung kaki, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat bagaimana cantiknya wanita itu saat ini. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya yang kemudian dia pakaikan pada Cinta.
"Aku membelinya saat kita masih di America, dan aku menunggu moment yang tepat untuk memberikannya padamu."
Cinta memperhatikan dari cermin. Sebuah kalung bertahtakan berlian menggantung pada lehernya. Warna berliannya sangat cantik, dan itu tampak sempurna. "Ini sangat cantik, kau memang yang terbaik, Kak Ai." Ujar Cinta tersenyum.
Aiden memutar tubuh Cinta, posisi mereka saling berhadapan. Sebelah tangan Aiden meraih dagu Cinta lalu mengecup singkat bibir ranum tipisnya, tanpa lum*tan dan pagutan.
Ciuman itu berlangsung kurang dari 30 detik. Aiden tidak ingin membuat lipstik Cinta berantakan karena ciuman panasnya. "Aku mandi dulu, siapkan pakaian untukku." Pinta Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Cinta.
Wanita itu berjalan menuju Wais In Closet tempat Aiden menyimpan seluruh barang-barang miliknya. Seperti pakaian, sepatu dan aksesoris seperti jam tangan dan cincin. Ada juga beberapa anting tindik, meskipun jarang memakainya, tapi Aiden memiliki beberapa.
10 menit waktu yang Cinta butuhkan berkeliling di sana. Dan pilihannya jatuh pada sebuah kemeja hitam lengan panjang dan satu setel celana dan Vest V-neck warna abu-abu gelap. Tak lupa Cinta juga membawakan satu setel sepatu serta jam tangan yang akan Aiden pakai malam ini.
Cklekk...
__ADS_1
Aroma maskulin yang begitu khas langsung berkaur di indera penciuman Cinta setelah Aiden keluar dari dalam sana. Wanita itu tersenyum lalu menyerahkan pakaian itu pada Aiden.
"Aku akan menunggu di luar. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan." Ucap Cinta yang kemudian di balas anggukan oleh Aiden.
"Baiklah, aku akan segera menyusul." Cinta mengangguk paham.
Cinta melenggang keluar meninggalkan kamar tersebut beserta sang empunya. Ada beberapa hal yang harus Cinta lakukan sebelum pergi bersama Aiden dan seluruh keluarga Su.
Cinta dan Aiden tidak hanya mengajak seluruh keluarga Su saja. Tapi pasangan tua yang menyelamatkan Cinta beserta cucunya. Kebahagiaan ini harus dirasakan oleh semua orang termasuk mereka.
Bagi Cinta dan Aiden, pasangan tua itu dan cucunya bulan hanya sekedar malaikat penolong, karena mereka sudah menganggap ketiganya sebagai keluarga sendiri.
Saat ini keluarga elit itu sedang berkumpul di sebuah restoran di hotel berbintang. Semua makanan yang tersusun di atas meja adalah makanan kelas atas yang pasti ya tidak murah harganya.
"Adik ipar, sering-sering ajak kami makan di sini. Jarang-jarang loh kami bisa makan enak seperti ini." Ucap Cris dengan mulut penuh makanan.
"Sebaiknya telan dulu makanan di dalam mulutmu itu Cris, menggelikan." Ucap Cinta setengah mencibir.
Cris memanyunkan bibirnya. Dia kesal karena Cinta terus saja mengomentari apa yang dia katakan. "Dasar adik durhaka, aku tidak bicara padamu, tapi pada suamimu!!" Kata Cris menegaskan.
"Memang aku peduli, wlekkk!!" Cris memanyunkan bibirnya.
Dia tidak tau kapan Cinta akan bersikap baik padanya. Dan hampir setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal kecil. Terkadang Gita sampai pusing menghadapi anak kembarnya tersebut.
"Kalian berdua, sudah hentikan. Kalian bukan bocah lagi. Malu di lihat orang. Dan kau Cinta, kau sudah punya suami tapi kenapa tingkah mu masih saja seperti bocah. Cris juga, kau itu kakak, seharusnya bisa memberikan contoh yang baik pada adikmu!!"
"Baik, Ma."
Suasana kembali tenang. Dan makan malam mereka lewati tanpa perbincangan yang serius. Mereka memang saling mengobrol dan berbincang, tapi hanya obrolan-obrolan ringan saja.
Usai makan malam. Mereka tidak langsung pulang. Tapi masih tetap bertahan dan melanjutkan perbincangannya. Gita mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang kemudian dia berikan pada Nenek Merry.
"Ini saya ada sedikit Hadiah untuk, Nenek."
Mata Nenek Merry membelalakkan melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut. "Ini terlalu mewah, Nyonya. Maaf, saya tidak bisa menerimanya."
"Tidak apa-apa, Nenek. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan jasa nenek pada keluarga kami."
"Terima ya, Nek." Mohon Carell ketika Nenek Merry ingin mengembalikan kalung berlian itu."
"Dan ini untukmu. Aku memberikan salah satu koleksi mobilku untukmu kawan. Kita kan sahabat." Cris tak mau kalah. Dia memberikan sebuah kunci mobil pada Hendry.
"Tidak perlu. Aku tidak bisa menerima barang semewah ini." Katanya.
Bak tertiban durian runtuh. Begitulah gambaran kehidupan keluarga Nenek Merry.
__ADS_1
Kebaikan dan ketulusan hati mereka dibalas berkali-kali lipat oleh Tuhan, dan mereka tidak pernah menyangka bila hidupnya akan berubah total setelah Cinta mendapatkan kembali ingatannya dan kembali pada keluarganya.
Mungkin bagi Aiden dan Nyonya Su, apa yang dia berikan pada pasangan tua itu bukanlah hal yang berlebihan, tapi tidak bagi Nenek dan Kakek. Bagi mereka itu adalah sebuah anugerah Tuhan yang tidak pernah mereka bayangkan.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kami antar Nenek dan Kakek pulang."
Mereka berpisah, Cinta dan Aiden memutuskan untuk menginap di hotel. Cinta terlalu lelah dan malas berkendara. Begitupun dengan Aiden. Karena sama-sama lelah akhirnya mereka memilih menginap saja.
"Kak Ai, aku ngantuk. Bagaimana kalau kita tidur sekarang saja?"
"Baiklah."
.
Cinta merebahkan tubuhnya pada tempat tidur hotel yang tak kalah nyaman dari tempat tidur di rumahnya. Wanita itu merasa lelah, sekujur tubuhnya terasa sakit semua.
Selang beberapa saat sosok Aiden terlihat keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya memakai celana panjang hitam dan singlet berwarna hitam pula. Aiden menghampiri Cinta lalu menindih tubuh wanitanya.
Sebuah kecupan lembut langsung mendarat pada bibir ranum tipisnya. "Katanya mau tidur, kenapa masih terjaga?"
"Ini juga sudah mau tidur. Kak Ai, menyingkirkan dari atas tubuhku, kau itu berat." Rengek Cinta. Aiden terkekeh geli melihat wajah menggemaskan istrinya.
Alih-alih menuruti Cinta. Aiden malah menginvasi bibir Cinta dan mel*mat bibir itu dengan keras. "Cinta, bagaimana pun dan apapun kondisimu saat ini, aku pasti akan menerima dan tetap mencintaimu dengan apa adanya."
Cinta memicingkan matanya. "Maksud kak Ai apa? Kenapa tiba-tiba berkata begitu? Memangnya aku kenapa?" Tanya Cinta sedikit kebingungan.
Aiden menggeleng. "Kau tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja kau terlalu bar-bar, mungkin orang lain akan berpikir dua kali untuk bisa menikahi wanita sepertimu!!"
"Kak Ai, kenapa kau sangat menyebalkan?!" Keluh Cinta sambil memanyunkan bibirnya.
Aiden terkekeh. "Aku hanya bercanda. Kenapa kau malah menganggapnya serius. Katanya mau tidur. Kemari lah biar aku memelukmu seperti ini sampai pagi." Aiden menarik Cinta ke dalam pelukannya dan merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat.
Cinta juga tak mau kalah. Dia memeluk tubuh suaminya sambil menghimpit kan tubuhnya pada Aiden. Dan dalam hitungan detik saja. Pelukan dan usapan Aiden pada punggungnya menghantarkan Cinta ke alam mimpinya.
Dan setelah memastikan Cinta benar-benar sudah tidur. Dengan perlahan dan hati-hati dia menyingkirkan tangan Cinta yang memeluknya, kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya.
Aiden berjalan ke arah balkon untuk menikmati semilir angin malam. Mata kanannya menatap langit bertabur bintang di atas sana. Tidak ada yang indah dan spesial. Semua terlihat sama saja di matanya.
"Huftt..."
Helaan napas panjang keluar dari sela-sela bibirnya. Kemudian Aiden mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya lalu menyulutnya.
Bukan Steven yang akan mendonorkan matanya untuk Cinta. Tapi Vina. Karena Steven sudah meninggal setibanya Aiden di sana. Steven memutuskan untuk bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban hidupnya yang berat.
Dan alasan Vina mau mendonorkan matanya Karana dia ingin putranya tenang di sana. Vina menyesal karena telah memperlakukan Steven dengan buruk setelah dia mengalami musibah itu. Vina hanya tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
Bersambung.