Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Satu Tahun Kemudian


__ADS_3

"Satu Tahun Kemudian!!!"


-


Mimpi buruk....


Jika yang dia alami satu tahun yang lalu adalah sebuah mimpi buruk. Maka Aiden ingin segera bangun dari mimpi itu. Dia berharap ada orang baik yang mau membangunkannya dari mimpi buruk yang membuatnya nyaris gila.


Tapi dia tau jika yang dia alami hari itu adalah sebuah kenyataan, karena jika itu hanyalah mimpi buruk, pasti saat ini Cinta masih ada di sini, disisinya.


Satu tahun telah berlalu. Namun kejadian pagi itu masih terekam jelas di ingatannya. Dimana Aiden harus kehilangan belahan jiwanya untuk selama-lamanya.


Dia tidak hanya kehilangan Cinta yang meninggal dalam tragedi itu. Tapi juga penglihatannya. Tapi beberapa bulan lalu dia mendapatkan donor mata, namun hanya sebelah.


Meskipun sekarang hanya mata kanannya yang berfungsi, tapi Aiden sangat berterimakasih pada Carell yang sudah mau merelakan sebelah matanya untuk dirinya.


Duka kehilangan Cinta tidak hanya dirasakan oleh Aiden, namun juga seluruh keluarga Su.


Dan beberapa bulan setelah kematian Cinta, seluruh keluarga Su memutuskan untuk kembali Ke America. Terlalu banyak kenangan bersama Cinta yang mereka ukir di negeri ini. Itulah kenapa mereka memutuskan untuk pergi.


-


Malam sudah semakin larut, namun Aiden masih terjaga dan sulit untuk memejamkan matanya.


Pria itu duduk di sisi tempat tidurnya. Jari-jarinya mengusap sebuah bingkai foto, dimana seorang wanita tengah tersenyum manis ke arah Kamera.


"Cinta, apa kau tau? Jika setiap malam aku selalu disadarkan bahwa ujian terbesar dalam sebuah hubungan itu bukan kehilangan, tapi kerinduan akan kenangan yang takkan pernah bisa terulang. Sayang, aku merindukanmu." Aiden.


Aiden merindukan semua hal yang ada pada wanitanya. Senyumnya, canda tawanya. Ketika dia marah, ketika dia kesal, atau ketika dia manja padanya. Aiden merindukan itu semua.


Ponsel milik Aiden yang berdering sedikit menyita perhatiannya. Sebuah nomor tanpa nama tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


Penasaran orang gila mana yang menghubunginya malam-malam begini, Aiden pun segera menerima panggilan tersebut.


"Kau sudah tidak waras ya, apa kau gila menghubungi orang di tengah~!!"


"Maaf, apa ini dengan Tuan Muda Qin?!"

__ADS_1


Degg...


Aiden tersentak dan ucapannya terhenti. Saat sebuah suara menyapu indera pendengarannya. Suara yang begitu khas itu, bagaimana mungkin dia tidak mengenalinya.


"Halo, Tuan. Apakah Anda masih di sana? Saya hanya ingin ingin bertanya pada Anda, apakah Anda kehilangan dompet? Soalnya beberapa saat lalu saya menemukan dompet atas nama Aiden Qin, tergeletak di dekat pintu toko bunga milik keluarga saya."


Aiden pun segera tersadar. Dia menggeleng, mungkin hanya suaranya saja yang mirip. Karena tidak mungkin orang yang sudah tiada bisa hidup kembali.


"Bagaimana kalau besok siang kita bertemu, atur saja tempatnya, setelah itu hubungi Aku lagi."


"Baiklah, besok saya akan menghubungi Anda lagi. Selamat malam, maaf telah mengganggu waktu istirahat Anda."


Aiden menatap layar ponselnya dengan tatapan gamang. Suara itu, mirip dengan suara wanitanya. Meskipun satu tahun telah berlalu, namun Aiden masih mengingat jelas seperti apa suara Cinta.


Dan dia tidak sabar untuk menunggu sampai besok. Suara wanita yang menghubunginya membuat Aiden sangat penasaran setengah mati dengan parasnya.


-


Wanita itu menatap ponselnya dan mendengus. Bagaimana bisa ada orang sedingin itu. Baru saja mendengar suaranya, tapi bulu-bulu halus di tubuhnya langsung berdiri.


"Aiden Qin? Kenapa nama itu terdengar tidak asing ya? Sepertinya aku pernah mendengarnya, tapi kapan dan dimana?" Ucap wanita itu mencoba mengingat-ingat. "Tidak mungkin. Pasti itu hanya perasaanku saja?!"


Wanita itu beranjak dari beranda rumahnya kemudian melenggang masuk. Udara di luar sangat dingin, dia tidak mau jika sampai sakit atau masuk angin.


"Luna, kau kau sudah pulang Sayang. Maafkan Nenek karena hari ini tidak bisa membantumu di sana,"


Wanita bernama Luna itu lantas menggeleng. Bibirnya mengurai senyum manis. "Tidak apa-apa, Nenek. Lagipula ada Sara yang membantuku. Yang terpenting pinggang Nenek sembuh dulu. Biar bisa bercocok tanam lagi dengan Kakek!!"


"Apa?! Dasar kau ini!!"


Luna terkekeh. Wanita itu memeluk wanita tua di depannya dengan hangat. "Luna, sayang Nenek. Terimakasih karena sudah merawat ku dan memberi tempat tinggal. Tanpa bantuan Kakek Nenek, mungkin aku sudah tinggal di jalanan."


"Sama-sama, Sayang. Nenek dan Kakek sangat senang, karena sejak kehadiranmu, rumah ini tidak sepi lagi. Ini sudah malam, pergi istirahat gih."


"Nenek juga." Luna mencium pipi si Nenek dan pergi begitu saja.


Sesekali wanita muda itu menguap karena rasa kantuk yang tak tertahankan. Hari ini dia benar-benar sangat lelah. Bagaimana tidak, banyak pesanan bunga dari para pelanggan setia toko milik wanita tua yang dengan sangat baik hati memberinya tempat tinggal.

__ADS_1


-


Luna memagut dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan dress kuning kombinasi putih tanpa lengan, yang kemudian di balut blazer hitam berbahan brokat.


Rambut panjangnya di ikat ekor kuda, tak lupa sapuan make up tipis yang semakin menonjolkan kecantikannya. Dan setelah siap, wanita itu berjalan meninggalkan kamarnya.


"Luna, kau mau kemana? Kenapa sudah rapi?" Tegur seorang pria muda saat melihat kedatangan wanita itu.


"Aku ada janji dengan seseorang, Kak. Semalam aku menemukan dompet pelanggan dan hari ini kami berjanji untuk bertemu."


"Kalau begitu aku akan mengantarmu."


"Baiklah."


"Pakai helmnya.


Motor besar itu melesat meninggalkan rumah sederhana namun terlihat asri milik si pasangan tua pemilik toko bunga. Hari ini Lina sengaja tidak pergi ke toko karena sudah ada janji dengan Aiden.


Dan setelah 15 menit perjalanan. Luna tiba di tempat mereka akan bertemu. Dan sebelum pergi, dia sudah mengirim pesan singkat pada pria itu. Luna hanya masuk sendiri, karena pemuda yang mengantarnya langsung pergi.


"Aiden Qin, mungkin saja namanya ada di Internet." Luna iseng-iseng mencari nama Aiden di Google search. Dia penasaran akan paras pria bernama Aiden itu.


Dan karena terlalu sibuk dengan ponselnya. Sampai-sampai dia tidak sadar jika orang yang dia tunggu sudah datang, dan sepertinya Aiden sedang bingung mencari dirinya. Pasalnya wanita berambut panjang, berbaju kuning hitam yang sendirian di cafe ini bukan hanya Luna sendiri.


Tak kehabisan akal. Aiden mencoba menghubunginya. Dan saat itulah ponsel milik Luna berdering. Nyaris saja ponsel itu terlepas dari genggamannya karena terlalu terkejut.


"Halo, Tuan Qin, kenapa menghubungiku tiba-tiba?! Aku nyaris saja terkena serangan jantung karena dirimu!!"


Aiden menutup matanya. Bukan hanya suaranya yang mirip. Namun juga cara mengomelnya pun sama. Dan ponsel dalam genggaman Aiden terlepas begitu saja saat Luna berdiri dan berbalik badan.


Waktu seolah berhenti berputar detik itu juga. Udara di sekitarnya terasa kosong dan hampa. Dan hanya kehadirannya yang terasa. Dengan lirih dia bergumam.


"Cinta?!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2