Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Keindahan Kota Dimalam Hari


__ADS_3

Langit malam New York begitu gemerlap. Menandakan jika malam ini langit begitu cerah. Bahkan sang penguasa malam pun telah duduk di singgasananya dengan anggunnya.


Lampu-lampu berwarna-warni menerangi setiap penjuru kota yang mendapatkan julukan Big Apple ini. Membuat Orang-orang, baik pria maupun wanita, asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Tak terkecuali pasangan muda ini.


Karena Cinta ingin menikmati keindahan kota New York saat malam hari. Akhirnya Aiden mengajaknya ke Empire State Building.


Mereka naik ke lantai 86 dan masuk ke dek observatorium, di mana mereka bisa melihat pemandangan panorama seluruh Kota New York.


Senyum tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya saat melihat pemandangan Kota New York dengan gemerlap lampu yang menghiasi.


Lampu-lampu kota yang gemerlap terlihat seperti jutaan berlian yang bersinar. Yang mengisyaratkan keromantisan.


Kesejukan udara akan melekat di tubuh setiap orang yang sedang dirundung rasa kagum akan keindahan pemandangan dari tempat ini. Cinta tak terkecuali.


"Bagaimana perasaanmu? Kau menikmatinya bukan?" Ucap Aiden sambil memeluk Cinta dari belakang. Wanita itu mengangguk tanpa menatap lawan bicaranya.


"Sudah lama aku ingin berdiri di tempat ini, dan menikmati keindahan kota New York. Dan akhirnya malam ini impianku itu bisa terwujud. Terimakasih Kak Ai, karena sudah mewujudkan impianku."


"Sama-sama, Sayang." Aiden mengecup pucuk kepala Cinta dan semakin mengeratkan pelukannya.


Cinta sangat bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama, dan dipertemukan kembali Dengan cinta sejatinya.


Kemudian wanita itu melepaskan pelukannya. Cinta berbalik, posisinya dan Aiden saling berhadapan.


Cinta mengalungkan kedua lengannya pada leher Aiden, lalu bibirnya bergerak menuju bibir pria itu. Dan selanjutnya mereka bisa saling merasakan kelembutan dan basah bibir masing-masing.


Meskipun banyak orang yang melihatnya. Tapi mereka tidak mau peduli dan ambil pusing. Tak ada yang membicarakan mereka apalagi mencemoohnya.


Karena ini adalah negara bebas, lagipula masih lebih banyak lagi yang melakukan kegiatan lebih parah dari mereka berdua. Dan orang-orang tetap bersikap acuh tak peduli.


"Kau ingin kemana lagi setalah ini?" Tanya Aiden sesaat setelah mengakhiri tautan bibirnya.


"Sungai Hudson, aku ingin melihat patung Liberty dengan dekat."


Aiden mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi ke sana." Cinta mengangguk dengan antusias. Dia begitu bersemangat, mumpung masih berada di New York, Cinta tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki.


Dan patung liberty sendiri merupakan patung raksasa dan menjadi monumen ikonik di negara Amerika Serikat.


Patung dengan ketinggian 93 meter ini berbentuk sosok wanita yang memegang obor dan buku. Patung ini diresmikan pada tanggal 28 Oktober. Dan lokasi Patung Liberty berada menjadi tujuan para turis yang berkunjung ke New York.


-


Aiden merebahkan kepala Cinta pada bahunya. Wanita itu tertidur dalam perjalanan pulang. Hampir dua jam Aiden dan Cinta menikmati keindahan Liberty, bahkan Cinta berfoto dengan latar monument ikonik itu.


Melihat Cinta yang sudah tertidur pulas. Membuat Aiden tidak tega untuk membangunkannya. Pria itu kemudian mengangkat tubuh Cinta dan membawanya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Aiden, kalian sudah pulang? Apakah dia ketiduran?" Tegur Gita melihat menantunya yang membopong Cinta yang sedang tertidur pulas.


Aiden mengangguk. "Dia kelelahan, Ma. Makanya sampai tertidur. Ya sudah, aku bawa dia ke kamar dulu." Ucap Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Gita.


.


Aiden membaringkan tubuh Cinta secara perlahan dan hati-hati. Seolah-olah apa yang dia lakukan bisa membuat Cinta kesakitan.


Kemudian Aiden menyelimuti sekujur tubuh Cinta dengan selimut sampai sebatas dada, tak ketinggalan sebuah kecupan mendarat mulus pada keningnya.


Begitu lama Aiden memandang wanitanya ini


Rasanya masih sangat sulit untuk Aiden percaya jika Cinta nya telah kembali. Sebuah mukjizat Tuhan itu memang nyata, dan Cinta adalah bukti nyatanya.


"Cinta, cukup sekali aku membiarkanmu menghilang dari sisi hidupku, dan aku tidak akan hal serupa kembali terulang untuk yang kedua kalinya."


Jari-jari besarnya mengusap helaian panjang Cinta yang terurai, kemudian satu kecupan Aiden darat kan pada keningnya. Kehilangan Cinta membuat Aiden nyaris gila, dan dia tidak akan kehilangan dia untuk kedua kalinya.


"Eunhhh..."


Terdengar lenguhan panjang keluar dari sela-sela bibir Cinta. Wanita itu tidak bangun hanya merubah posisi tidurnya saja. Tingkahnya yang terlihat menggemaskan membuat Aiden tersenyum simpul.


Kemudian ia beranjak dari hadapan Cinta dan pergi begitu saja. Aiden melihat jika Carel masih belum tidur, berbincang sebentar dengannya mungkin tidak ada salahnya.


"Dia tidur saat dalam perjalanan pulang. Mungkin karena lelah."


"Duduklah, dan temani aku minum."


Aiden mengangguk. Kemudian Carell menuangkan minuman ke dalam dua gelas kosong di depannya. Yang pertama dia berikan pada Aiden, dan satu lagi untuknya.


"Jujur saja, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku sampai saat ini. Ini tentang Cinta, bagaimana kau bisa menemukannya? Lalu bagaimana dia bisa mendapatkan kembali semua ingatan masa lalunya?"


Aiden pun akhirnya menceritakan yang sebenarnya pada Carell. Awal pertemuannya dengan Cinta, kemudian bagaimana dia bisa mendapatkan kembali ingatannya. Dan semua terjadi secara kebetulan. Atau mungkin itu adalah takdir Tuhan?!


"Begitulah ceritanya. Dia yang pertama kali menghubungiku saat tengah malam, Cinta menemukan dompetku yang terjatuh, kemudian kami janji untuk bertemu."


"Awalnya aku tidak berpikir jika itu Cinta, dan mengira jika mereka hanya sekedar mirip saja. Tapi di pertemuan kami yang kedua, aku menemukan sebuah fakta besar jika dia adalah Cinta. Dan dia mendapatkan kembali ingatannya secara tidak sengaja."


"Cinta dikejar oleh preman dan meminta bantuan padaku. Ditengah perjalanan aku mengantarkannya menuju toko bunga milik pasangan tua itu, sebuah tragedi mengerikan terjadi di depan mata kami."


"Sebuah truk besan menabrak sedan yang melaju di depannya, dan dari situlah dia kemudian mengingat kembali masa lalunya. Bukankah Tuhan mengembalikan dia pada kita dengan cara yang luar biasa?"


Carell tersenyum dan kemudian mengangguk. Ternyata Tuhan masih lebih menyayangi Aiden dan seluruh keluarga Su. Buktinya dia mengembalikan Cinta pada mereka, setelah satu tahun diyakini jika dia telah tiada.


"Aku sudah tidak kuat untuk minum lagi. Aku menyerah." Carell mengangkat tangannya. Padahal dia baru minum 3 gelas tapi sudah hampir teler. Bukan lagi rahasia jika Carell memang lemah pada Alkohol.

__ADS_1


"Dasar payah!!" Ucap Aiden setengah mencibir. Pria itu menggelengkan kepala.


Dan selepas kepergian Carell, di sana hanya menyisakan Aiden seorang diri. Dia masih enggan untuk beranjak dari tempatnya. Aiden melanjutkan minumnya meskipun hanya sendiri.


-


Cicit burung yang bertengger di atas pohon memaksa para manusia kelelahan untuk segera bangun agar tidak melewatkan moment indah yang tercetak di pagi yang cerah ini.


Seorang wanita tua terlihat sibuk berkutat di dapur milik Gita. Siapa lagi wanita tua itu jika bukan nenek baik hati yang telah menyelamatkan hidup Cinta.


Si Nenek ingin membalas jasa mereka yang sudah begitu baik pada keluarganya. Dan salah satunya adalah dengan menyiapkan sebuah sarapan.


"Nenek, kau sedang apa? Astaga kau tidak boleh sampai kelelahan, Nenek kembali ke kamar saja ya. Ini masih terlalu awal untuk bangun. Biar aku saja yang melanjutkannya."


Wanita tua itu lantas menggeleng. "Tidak apa-apa, Nyonya lagipula memasak bukanlah hal yang sulit. Dan saya amat sangat suka melakukannya. Setidaknya saya bisa melakukan sesuatu untuk keluarga Anda."


"Tidak perlu seformal itu, Nek. Kita sekarang adalah keluarga, panggil saja aku Gita. Bukankah aku seusia putri atau putra Nenek."


Nenek menggeleng. "Jangan begitu, Nyonya. Anda membuat saya merasa tidak enak. Saya tidak bisa jika harus memanggil Anda hanya dengan nama. Biarkan saya memanggil Anda seperti ini."


Gita tersenyum tipis. "Baiklah, terserah Nenek saja. Kalau begitu aku membantu Nenek. Kita memasak sama-sama."


"Nah, begitu baru lebih baik," Gita lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban si nenek.


-


Cinta menggeliat dalam tidurnya, saat sinar mentari pagi yang hangat mulai mengusik nya. Lalu wanita itu menggulirkan pandangannya pada sosok tampan yang saat ini sedang berbaring disampingnya sambil memeluk nya.


Sudut bibir Cinta tertarik ke atas. Kemudian wanita itu mengangkat sebelah tangannya, jari-jari lentiknya membelai wajah Aiden dengan lembut.


"Kak Ai, bangun. Ini sudah siang," Ucap Cinta sambil mengguncang pelan lengan terbuka Aiden.


Dengan enggan dan malas, Aiden membuka matanya. Mata kanannya memandang wajah Cinta dengan juga menatap padanya. "Sayang, ini masih pagi. Jangan menggangguku, aku sangat lelah dan kepalaku agak pusing."


Cinta mendengus sebal. "Ayolah Kak Ai, jangan begitu. Kau harus segera bangun dan mandi. Bukankah hari ini kau mau membawaku jalan-jalan?! Jadi cepat bangun!!"


"Cinta, kita bisa berangkat agak siang sedikit, jangan seperti bocah. Kita pasti akan pergi jalan-jalan, tapi tidak sekarang, oke!!"


Wanita itu memukul perut Aiden lalu bangkit dari berbaringlah. Dia benar-benar sangat kesal pada suami tampannya ini, bagaimana bisa mengingkari janjinya sendiri, padahal dia yang merencanakan untuk pergi.


"Dasar menyebalkan!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2