Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Pertemuan Luna Dan Aiden


__ADS_3

>Satu Tahun Sebelumnya<


Sepasang pria dan wanita tua meninggalkan toko bunganya saat mendengar suara benturan keras dari arah jalan raya. Si nenek berteriak histeris ketika melihat sebuah mobil sedan hitam terguling beberapa kali setelah tertabrak sebuah truk pengangkut minyak.


Tak lama seorang wanita muda terlempar keluar dari dalam sedang yang sudah ringsek itu, dan jatuh tak jauh dari toko bunga milik pasangan tua tersebut.


Keduanya segera berlari menghampiri wanita muda itu yang pastinya adalah Cinta. "Kek, dia masih hidup. Jika kita menunggu ambulan, perempuan ini bisa meninggal karena kehabisan darah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Ucap si nenek.


"Tapi bagaimana jika keluarganya mencarinya?"


"Itu urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah dia selamat dulu."


"Nenek benar, cepat bantu Kakek mengangkatnya. Kita menggunakan mobil sendiri saja." Si Nenek mengangguk.


Setelah pasangan tua itu menyelesaikan admistrasi nya. Cinta pun bisa langsung ditangani. Wanita itu mengalami pendarahan hebat pada kepalanya dan harus segera di operasi.


Nenek dan Kakek baik hati itu memutuskan untuk menunggu sampai operasi selesai. Mereka menolak untuk pulang apalagi meninggalkan perempuan muda itu.


Dan setelah hampir 6 jam. Operasi pun berhasil. Dan nyawa Cinta juga berhasil diselamatkan, namun dokter memprediksikan jika wanita itu akan mengalami amnesia sementara karena benturan keras pada kepalanya.


"Kami boleh melihatnya?"


"Tentu, Nyonya. Tapi setelah pasien di pindahkan ke ruang inap." Jawab Dokter yang bertanggung jawab.


"Terimakasih Dokter."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


-


Kelopak mata itu terbuka perlahan. Memperlihatkan sepasang Hazel yang sangat indah. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan. Wanita itu menggulirkan pandangannya ke segala penjuru arah, dia masih tampak linglung.


"Nak, kau sudah sadar?" Tegur seorang wanita tua yang berdiri di samping Cinta berbaring.


"Ini dimana? Nenek dan Kakek siapa? Dan aku, juga siapa?!"


Nenek dan kakek itu saling bertukar pandang. Benar apa yang Dokter katakan tadi, jika perempuan muda ini kemungkinan mengalami amnesia. "Kau berada di rumah sakit, Nak. Dan kami yang menolong mu." Jawab si Nenek.


"Rumah sakit? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak ingat apa-apa? Aku siapa, dan aku berasal dari mana? Lalu kemana aku harus pulang setelah keluar dari tempat ini?" Cinta mulai panik.

__ADS_1


"Tenanglah, Nak. Ada kami berdua. Kami tidak memiliki siapa-siapa, kami hanya tinggal bersama cucu laki-laki satu-satunya. Jika kau mau, kau bisa tinggal bersama kami." Ucap si nenek yang kemudian di balas anggukan oleh si kakek.


"Apa tidak merepotkan kalian berdua?"


"Tentu saja tidak, dan bagaimana kalau mulai sekarang kami memanggilmu, Luna?"


"Luna, kedengarannya tidak buruk juga. Aku menyukai nama itu, Nek. Terimakasih."


"Sama-sama, Sayang."


-


"Cinta?!"


Tubuh Aiden membatu saat melihat sosok jelita yang berjalan menghampirinya. Pria itu kemudian menatap perempuan di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Halo, Tuan. Saya adalah Luna, orang yang menemukan dompet Anda." Wanita itu membungkuk pada pria yang berdiri di depannya.


"Luna?" Aiden menyebut nama itu lirih. Luna mengangguk.


Ternyata bukan hanya suaranya yang mirip dengan Cinta, tapi juga parasnya. Wajah mereka berdua bak pinang di belah dua. Sosok Luna benar-benar mengingatkan Aiden pada Cinta. Dan bisakah hal tersebut di namakan sebuah kebetulan?


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba saja aku menangis saat membalas tatapannya?" Gumam Luna membatin.


Ia pun segera tersadar. Luna menghapus jejak air mata di pipinya lalu mempersilahkan Aiden untuk duduk. "Silahkan duduk, Tuan Qin." Luna mempersilahkan.


"Waktuku tidak banyak. Bisakah kau mengembalikan dompet itu padaku sekarang juga?"


"Tentu, Tuan. Ini adalah dompet milik Anda. Silahkan di cek dulu isinya, apa masih lengkap atau tidak!!"


Aiden menggeleng. "Tidak perlu, aku yakin kau adalah orang baik. Pesan makanan dan minuman apapun yang kau mau, aku yang akan membayarnya."


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana harus mengatakannya pada Aiden. "Tapi, Tuan. Begini, bagaimana ya saya harus mengatakannya. Saya merasa tidak enak."


"Kenapa?"


"Jujur saja, saya tidak bisa jika harus makan di tempat terbuka seperti ini. Bisakah saya membungkusnya saja lalu saya makan di toko saja?!"


Aiden memicingkan matanya, dan menatap Cinta penuh selidik. "Kenapa?"

__ADS_1


"Jujur saja, saya tidak terlalu menyukai keramaian. Itulah kenapa saya tidak pernah makan di cafe seperti ini, tapi kalau nongkrong sih oke. Saya selalu merasa tidak nyaman."


Aiden diam selama beberapa saat. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya dan mengajak Luna pindah ke ruang VIP. Awalnya Luna tidak setuju, tapi akhirnya dia menurut juga setelah melihat tatapan Aiden.


Aiden mempersilahkan Luna untuk jalan lebih dulu di depannya. Dan dia mengikutinya dari belakang. Bahkan cara jalannya pun sama persis seperti Cinta.


Dan salahkan jika Aiden berpikir jika yang ada di depannya itu adalah istrinya yang sedang Hilang ingatan?! Meskipun kemungkinannya sangat kecil.


Tidak bisa membiarkan dirinya terus dihantui rasa penasaran. Akhirnya Aiden memerintahkan seseorang untuk mencari tau tentang siapa Luna yang sebenarnya.


-


Wanita itu berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka. Ingatannya kembali pada satu tahun yang lalu. Saat dimana dia terbangun tanpa tau siapa dirinya, dan dari mana asalnya.


Beruntung ada orang baik yang mau menolong dan memberinya tempat tinggal. Jika tidak, dia tidak tau dimana harus hidup dan tinggal. Karena wanita itu tidak tau siapa dirinya, dimana keluarganya, dan tempat tinggalnya.


"Sayang, kenapa belum tidur?"


Wanita itu menoleh saat mendengar suara seorang wanita tua masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat kedatangan Nenek baik hati yang sudah menjadi Dewi penyelamatnya.


"Aku masih belum mengantuk, lalu kenapa Nenek sendiri juga belum tidur?" Tanya wanita itu yang pastinya adalah Cinta, yang saat ini lebih di kenal dengan nama Luna setelah hilang ingatan.


"Nenek juga masih belum mengantuk. Apa yang sedang kau lakukan, Nak?"


"Tidak ada, Nek. Hanya melihat bintang. Mungkin mereka bisa memberiku jawaban."


"Jangan terlalu memaksakan diri, Lun. Nenek tidak mau jika kau sampai sakit lagi. Sebaiknya jangan terlalu banyak begadang. Tidurlah, besok kau masih harus pergi ke toko bunga."


"Nenek benar, ya sudah aku tidur dulu. Nenek juga harus segera tidur, oke."


"Baik, Sayang. Ya sudah, Nenek keluar dulu." Cinta mengangguk.


Wanita itu berjalan menuju tempat tidurnya, rasa kantuk tiba-tiba mendera dan membuat kedua matanya terasa memberat.


Dan Cinta berdoa, semoga mimpi-mimpi akan sosok asing itu tidak menghantuinya malam ini. Untuk sekali saja, dia juga ingin tidur dengan nyenyak.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2