Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Kekesalan Steven


__ADS_3

Cinta tersenyum saat semilir angin malam menerpa kulit wajahnya yang terbuka. Gadis itu mengangkat lengannya seakan ingin menggapai angin kosong di hadapannya.


Desiran angin malam seakan membawa jiwa nya pergi. Pergi bersama semilir angin yang melambai-lambai di udara.


Rasanya masih sulit bagi nya untuk percaya jika hati nya bisa berpaling pada orang lain. Cinta pikir Steven adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat nya merasakan asmara, namun pada kenyataannya tidak.


Aiden Qin, Tuan Muda dari keluarga Qin adalah orang yang berhasil merebut hati Cinta dan membuat gadis itu jatuh hati pada nya.


Mungkin masih ada orang di dunia ini yang tidak setuju dengan ungkapan 'Bahwa cinta tak butuh alasan' karena mereka pikir setiap tindakan harus memiliki alasan.


Tetapi, banyak pula orang yang berpikiran bahwa cinta berkaitan erat dengan perasaan yang terkadang muncul dan hilang tanpa bisa ditebak kapan dia akan datang dan pergi.


Jatuh cinta tidak pernah mengenal waktu, entah itu pada siapa kapan dan dimana, bahkan kepada mereka yang sama sekali belum kita kenal, atau yang biasa di kenal dengan istilah 'cinta pada pandangan pertama'.


Cinta tidak berbentuk, namun cinta dapat dirasakan oleh hati. Cinta tidak butuh alasan karena pada kenyataannya cinta hadir tanpa logika, tetap bertahan meski sebenarnya tahu bahwa ia yang kau cinta tidak akan mungkin bisa menjadi milikmu.


"Apa yang sedang kau lamunkan?" Tegur Aiden yang baru saja kembali dari membeli minuman.


Cinta mengangkat kepalanya lalu menggeleng."Tidak ada." Jawabnya tersenyum.


"Ini." Aiden menyerahkan minuman dingin yang baru dia beli pada Cinta.


"Terimakasih, Kak Ai." Cinta menerima minuman dingin yang Aiden sodorkan padanya sambil tersenyum lebar. Senyum yang mampu membuat jantung Aiden berdegup kencang. Seperti sebuah genderang yang di pukul dengan keras.


Langit malam begitu gelap. Bintang pun muncul menghiasi langit kelam. Hanya sesekali terlihat daun-daun berguguran karena diterpa angin nakal.


Udara malam yang sangat dingin terasa sangat menusuk, hingga seakan meremukkan tulang dan membekukan tubuh yang rapuh. Cinta sedikit menggigil karena angin menerpa bagian kulit tubuhnya yang terbuka dan tidak tertutup kain dress nya.


"Uhh, dingin." Gerutu Cinta sambil mengusap lengannya yang tertutup kain tipis dress nya. Aiden bereaksi cepat dengan memeluk tubuh gadis bermarga Su tersebut, menyalurkan rasa hangat ditengah hawa dingin yang serasa membekukan tulang.


Kedua mata Cinta membelalak dan tubuhnya seketika menegang. Ia tidak percaya dengan reaksi yang diberikan oleh Aiden setelah mendengar gerutuan pelan yang keluar dari sela-sela bibirnya.

__ADS_1


Dengan kaku Cinta memutar lehernya untuk menatap pria yang sedang memeluknya. "Kak Ai," gumam Cinta saat sepasang iris Hazel nya bersirobok dengan manik coklat milik Aiden, indah.


Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak dekat. Cinta mendongak, sedangkan Aiden menunduk.


Dua pasang mata berbeda warna mereka saling metatap dalam diam, seolah sedang menyelami keindahan mutiara mereka. Menyelami makna yang tersembunyi dalam tatapan mereka masing-masing.


Cinta bisa merasakan debaran jantungnya yang sangat kencang, dan pipinya pun mulai terasa panas.


Sama seperti Cinta, Aiden juga merasakan hal yang sama. Ia merasa sulit bernafas, dan ia juga merasa ada ratusan kupu-kupu yang menari-nari dengan riang di dadanya. Itu adalah sebuah analogi yang bodoh, Aiden tahu itu.


Tapi itu memang yang sedang dirasakan oleh dua insan yang berstatus sebagai teman itu. Dan selama beberapa menit dua orang itu saling diam dalam suasana yang penuh keheningan.


"Apa kau sudah mulai merasa hangat?" Tanya Aiden yang hanya di balas anggukan oleh Cinta. Sedangkan jantungnya masih berdetak kencang. "Tunggu di sini, jangan kemana-mana, aku akan segera kembali."


"Kak Ai mau kemana?" Tanya Cinta.


"Mengambil sesuatu di mobil." Jawabnya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Cinta sendiri di sana.


-


"Ah, akhirnya aku bebas juga."


Steven bisa menghirup udara bebas setelah pengacara Ibu nya berhasil membebaskannya dari penjara dengan memberikan jaminan. Pemuda itu mengendarai motor besarnya dengan kecepatan tinggi.


Motor besar milik Steven menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya, lalu motor itu berhenti di sebuah taman yang letaknya bersebelahan dengan Sungai Han.


Steven turun dari motor besarnya dan berjalan menuju salah satu bangku taman, keberadaannya di sana cukup menyita perhatian. Parasnya yang tampan dan penampilannya yang oke tentu menarik perhatian banyak pasang mata wanita.


Wajah tampannya tak menundukkan ekspresi apapun, datar. Steven menghentikan langkahnya saat mata hitamnya menangkap keberadaan seorang gadis yang sangat familiar sedang duduk sendiri di salah satu bangku taman.


Pemuda itu hendak menghampiri gadis itu, tapi dia urungkan saat melihat kedatangan pria lain di sana. Hatinya seperti terbakar bara api saat nelihat senyum Cinta untuk pria tersebut.

__ADS_1


"Brengsek, dia gadisku. Berani sekali bajingan itu merebutnya dariku!! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan padanya, aku pasti akan memiliki dan mendapatkan Cinta!!"


Tangan Steven terkepal kuat. Dia bertekad untuk mendapatkan Cinta bagaimana pun caranya. Hatinya tidak penting lagi bagi Steven, yang terpenting adalah tubuhnya.


Steven berbalik dan pergi meninggalkan taman tersebut. Niat awalnya ingin mencari angin segar pun dia urungkan, satu-satunya tempat yang bisa mendinginkan hatinya adalah club' malam.


-


"Pakai jas ini. Ini akan membuatmu lebih hangat." Ucap Aiden sambil menyampirkan jas itu di bahu Cinta.


Gadis itu tersenyum lebar. "Terimakasih, Kak Ai." Ia merapatkan jas Aiden yang kebesaran di tubuhnya. Dan jas itu membuat Cinta lebih hangat.


Aiden mengambil tempat di samping Cinta. Mereka berdua duduk bersebelahan sambil menatap air mancur yang dihiasi kerlap-kerlip lampu warna-warni yang terlihat seperti gugusan bintang di langit malam.


Cinta menoleh, begitu pula dengan Aiden. Keduanya saling menatap dan tersenyum manis. "Jadi sebenarnya kau itu kembar?" Aiden mencairkan suasana dengan mengajak Cinta berbicara.


Gadis itu mengangguk. "Ya, aku dan Cris menang kembar. Walaupun kami kembar, namun dia terlahir beberapa menit lebih dulu dibandingkan aku. Itulah kenapa dia selalu memaksaku supaya aku memanggilnya dengan sebutan kakak. Itulah yang membuat kami selalu berdebat, karena aku tidak mau memanggilnya kakak!" Balas Cinta menuturkan.


"Kalian kembar, tapi terlihat tak sama. Baik itu dari segi wajah maupun sifat. Untuk wajah, mungkin karena kalian berbeda gender." Ujar Aiden.


"Aku sendiri tidak mengerti, kami adalah anal kembar, tapi sifat yang kita miliki sangat berbeda. Dia menyebalkan sedangkan aku sedikit bar-bar.." Tutur Cinta.


"Walau kalian berdua pernah tumbuh bersama di satu rahim, kembar tetap saja merupakan individu yang berbeda. Justru dengan perbedaan karakter itulah, kalian bisa saling mengisi dan melengkapi." Ujar Aiden. Cinta mengangguk, menyetujui apa yang dia katakan.


"Kak Ai benar. Meskipun saat bersama kali selalu bertengkar, tapi saat berjauhan kami saling merindukan."


"Itu karena hati dan jiwa kalian berdua saling terhubung. Sudah malam, ayo sebaiknya aku antar kau pulang." Ucap Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Cinta.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2