
Cinta memicingkan matanya mendengar riuh seperti orang yang sedang mengobrol. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding, waktu baru saja menunjuk angka 07.00 pagi.
Setelah berpakaian lengkap dan bermake up. Cinta memutuskan untuk keluar kamar, dan memastikan siapa gerangan yang bertamu pagi-pagi begini.
Dari tangga, Cinta melihat sang ibu dan kakak tertuanya yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki. Dari postur tubuh dan bentuk punggungnya, sepertinya Cinta mengenali sosok itu.
Tapi dia ragu dan tak yakin, lagipula untuk apa Aiden sampai datang sepagi ini ke rumahnya?!
"Semua keputusan kami serahkan pada Cinta, Nak Ai. Jika dia setuju, Bibi juga tidak akan melarangnya." Suara sang ibu mulai tertangkap oleh telinga Cinta. Dan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh wanita itu membuat Cinta penasaran setengah mati.
"Tapi Ai, apa yang membuatmu ingin menikahi Cinta dengan tiba-tiba begini? Sepertinya kau dan dia belum lama saling mengenal."
Kedua mata Cinta membelalak, buru-buru dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Gadis itu menggeleng tak percaya, antara nyata dan ilusi. Aiden...ingin menikahnya? Apakah ini masuk akal?
Guna memastikannya, Cinta mencoba mencubit lengannya sendiri, dan itu terasa amat sangat sakit. Yang artinya, dia tidak sedang bermimpi, karena Aiden mengatakan yang sebenarnya.
Aiden mengangguk. "Ya, aku mengakuinya, jika aku dan Cinta belum lama saling mengenal, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Dan aku ingin menikahinya, karena ingin hidup bersamanya." Tutur Aiden.
Cinta begitu terharu mendengar apa yang baru saja Aiden katakan. Gadis itu menuruni tangga dan langsung menghambur ke pelukannya. Cinta duduk dipangkuan Aiden sambil memeluk lehernya.
Dan apa yang Cinta lakukan tentu saja mengejutkan semua orang termasuk Aiden sendiri."Kak Ai, aku setuju untuk menikah denganmu. Kalau Mama tidak setuju, kita kawin lari saja.", Ucapnya.
Gita memijit pelipisnya, sikap dan tingkah Cinta membuat kepalanya terasa pening. Bagaimana bisa dia bersikap sebar-bar itu, padahal Cinta adalah seorang perempuan.
Cinta mengalihkan pandangannya pada sang ibu dan kakak tertuanya. "Ma, boleh ya. Mama mengijinkan aku dan Kak Ai menikah bukan?" Gadis itu menatap sang ibu dengan pandangan memohon, lalu berganti pada Carell.
Gita dan Carell saling bertukar pandang. Pria itu terlihat menganggukkan kepala, memberi isyarat supaya Gita mau memberikan restu pada mereka berdua.
Carell merasa jika mereka sangat cocok, dan Aiden sudah pasti bisa menjaga adiknya yang super bar-bar ini.
Gita mengangguk. "Baiklah, Mama akan memberi restu pada kalian berdua. Cinta tidak boleh hamil dulu sebelum dia menyelesaikan kuliahnya. Meskipun nantinya dia hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga, tapi Mama ingin supaya Cinta menjadi ibu rumah tangga yang cerdas dan berpendidikan."
"SETUJU!!" jawab Cinta dengan semangat.
Dan nyaris saja Gita terkena serangan jantung dadakan karena ulah Cinta. Sedangkan Carell memasang penutup telinga. Sungguh, benar-benar gadis yang bar-bar.
"Baiklah, karena semua sudah setuju. Aku akan menikahi dia hari ini juga. Aku sudah menyewa gereja untuk melangsungkan pernikahan itu. Karena Cinta masih kuliah, sebaiknya kita laksanakan secara tertutup." Tutur Aiden, Carell mengangguk setuju.
__ADS_1
Sedangkan Cinta sendiri, rasanya dia masih tidak percaya jika dirinya dan Aiden akan segera menikah dan menjadi pasangan suami istri.
-
"Steven."
Pemuda itu menghentikan langkahnya mendengar seseorang memanggil namanya. Kakek Qin dengan tongkatnya, berjalan menghampiri sang cicit.
"Ada apa?"
"Kakek buyut butuh bantuan mu."
"Bantuan apa?"
"Hamili Cinta, dan buat dia menjadi milikmu!!"
Steven memicingkan matanya. Dia bingung kenapa kakek buyutnya itu tiba-tiba melayangkan sebuah permintaan yang sangat tidak masuk akal padanya.
"Maksudmu apa, Kakek buyut?" Tnya Steven meminta penjelasan.
"Kakek buyut tau jika kau menyukai Cinta, dan ingin gadis itu menjadi milikmu. Untuk itulah Kakek buyut ingin kau menghamili Cinta, sebelum Aiden mengambil tindakan."
"Bagus, lakukan secepatnya, Kakek buyut tidak mau jika Aiden dan gadis kecil itu sampai merusak semua rencana yang sudah ku susun sejak lama."
Steven memicingkan matanya. "Memangnya rencana apa?" Tanyanya penasaran.
"Kau tidak perlu tau, karena hal itu tidak ada hubungannya denganmu!!" Kakek Qin beranjak dari hadapan Steven dan pergi begitu saja. Dia harus bertemu dengan seseorang.
Steven berbalik dan menatap kepergian pria tua itu dengan tatapan penuh arti. Sudut bibirnya tertarik ke atas.
Sepertinya keinginannya untuk memiliki Cinta hanya tinggal satu langkah lagi, dan tentu saja Steven tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas yang dia miliki.
-
"Kakek buyut butuh bantuan mu."
"Bantuan apa?"
__ADS_1
"Hamili Cinta, dan buat dia menjadi milikmu!!"
Aiden melepaskan earphone yang menempel pada telinganya, lalu meletakkan benda itu di ruang kosong samping dia duduk. Helaan napas panjang keluar dari sela-sela bibirnya.
Persis seperti yang Aiden duga, kakeknya pasti tidak akan tinggal diam dan dia memang sedang merencanakan sesuatu. Bagus dia memasang alat penyadap di rumah ini, di setiap sudut dan ruangan pasti terpasang alat canggih tersebut.
"Ada apa, Bos? Kenapa kau terus-terusan menghela napas?" Tanya Max penasaran.
"Bajingan tuan itu rupanya bekerja sama dengan Steven, mereka merencanakan hal buruk pada Cinta. Ini tidak bisa dibiarkan, segera putar balik mobilnya, kita kembali kekediaman keluarga Su."
"Siap, Bos."
Max membanting stir ke arah kiri lalu putar arah seperti yang Aiden perintahkan. Mobil mewah itu melaju kencang pada jalanan yang padat kendaraan.
Di jok belakang, Aiden terlihat sibuk dengan ponselnya. Dia berusaha untuk menghubungi Cinta dan memintanya supaya tidak pergi kemana pun. Dan Cinta mengiyakannya.
Aiden tidak bisa membiarkan gadis itu berada dalam bahaya, dia akan melindunginya bagaimana pun caranya.
Dan dia tidak akan tinggal diam, dia akan memberikan sebuah pelajaran pada siapa pun yang berani menyentuh apalagi menyakiti gadisnya. Meskipun orang itu adalah kakeknya sendiri.
-
Dengan hanya dihadiri kakak, Ibu serta asisten pribadinya. Aiden dan Cinta melangsungkan pernikahan mereka. Saat ini mereka sedang melakukan pemberkatan di gereja yang tak jauh dari kediaman keluarga Su.
Tidak ada yang spesial pada pernikahan mereka. Tidak ada ratusan bahkan ribuan tamu undangan, pesta yang meriah dan gaun pengantin super mewah. Hanya ada sepasang cincin, pendeta dan para saksi saja.
Meskipun demikian, namun acara prosesi pemberkatan berlangsung dengan sangat lancar, tanpa hambatan. Percaya atau tidak, saat ini Aiden dan Cinta telah resmi menjadi sepasang suami-istri.
"Tuan Muda Qin, silahkan cium pengantin Anda." Pinta pendeta yang menikahkan mereka.
Bukan Aiden, tapi Cinta lah yang memulainya terlebih dulu. Cinta mengalungkan kedua lengannya pada leher Aiden dan mencium bibirnya. Memagutnya dan sedikit mel*matnya.
Dan apa yang Cinta lakukan tentu saja membuat Cris sangat heboh. Bagaimana tidak, Cinta lebih agresif dari pada Aiden. Sedangkan Gita menyusut air matanya, dia masih tidak percaya jika putri kecilnya telah tumbuh dewasa.
Rasanya masih kemarin Gita menyusui dan menimang Cinta. Tapi hari ini dia menikah dan bersanding di altar bersama pria yang kini menjadi menantunya.
"Sayang, kau melihatnya dari surga? Putri kita, akhirnya dia menikah."
__ADS_1
-
Bersambung.