Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Keputusan Aiden


__ADS_3

Cinta berjalan menyusuri sebuah trotoar jalan. Di tangannya tampak memegang sebuah rangakaian bunga Canola yang sangat indah.


Hari ini cuaca sangat cerah. Matahari bersinar dengan megahnya menerangi bumi. Langit tampak begitu biru tanpa ada sedikit pun awan kelabu yang menyelimuti.


Burung-burung berkicauan dengan merdunya diantara rindangnya pepohonan hijau yang tumbuh disekitar tempat itu. Angin sepoi-sepoi yang berhembus semakin melengkapi kesempurnaan hari itu.


Ya, semuanya memang sangat sempurna….terlalu sempurna sehingga menimbulkan rasa bahagia di hati dara cantik berdarah campuran ini.


Sudut bibir Cinta tertarik ke atas. Gadis itu menghampiri Aiden yang sedang duduk di kap mobilnya sambil menikmati sebatang rokok yang diapit kedua jarinya.


"Kak Ai," Cinta menghampiri Aiden yang tersenyum lembut padanya. Pria itu membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah karena kedatangan Cinta.


"Kau mendapatkan banyak bunga yang cantik." Aiden menatap bunga yang ada di tangan Cinta.


Gadis itu tersenyum lebar. "Dan itu semua berkat Kak Ai." Ucapnya.


"Kau benar-benar tidak mau pergi kuliah hari ini?" Tanya Aiden.


Cinta menggeleng. "Aku malas, dan aku ingin bolos untuk hari ini saja. Lalu bagaimana dengan kak Ai sendiri? Bukankah kamu harus pergi ke kantor?"


"Tidak ada agenda penting hari ini, ada Max yang bisa menghandle segalanya. Ingin pergi ke suatu tempat?" Tawar Aiden.


"Kemana?"


"Jawab dulu iya atau tidak?"


Cinta mengangguk. "Kedengarannya tidak buruk. Baiklah, ayo kita pergi. Lagipula setelah resmi berpacaran kita belum pernah pergi berkencan." Tutur Cinta.


Memang benar apa yang Cinta katakan. Semenjak mereka resmi menjadi sepasang kekasih, belum pernah sekalipun Aiden mengacak Cinta pergi berkencan. Dan cuaca hari ini kebetulan sangat bagus.


"Naiklah." Aiden membukakan pintu untuk Cinta dan mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


Aiden menyalahkan mesin mobilnya, dan kuda besi itu mulai melaju menuju jalanan yang lebih padat kendaraan. Cinta sangat penasaran kemana Aiden akan mengajaknya pergi.


-


"Allea,"


Kakek Qin bangkit dari kursinya karena kedatangan calon cucu menantunya tersebut. Pria tua itu menunjukkan sikap yang begitu baik pada perempuan bermarga Lim tersebut.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang? Kenapa kau terlihat sedih?"


"Aiden sangat keterlaluan, Kakek. Semalam dia menemui Papa dan memutuskan pertunangan kami begitu saja."


"Apa?! Bocah tengil itu melakukannya?!" Allea mengangguk.


"Apa salah Allea, Kakek? Kenapa Aiden melakukan hal itu padaku? Padahal aku sangat mencintainya, aku tidak masalah dia tidak mencintaiku, asalkan jangan memutuskan pertunangan kami saja."


"Ini bukan salahmu sayang, tapi salah gadis itu. Dia yang sudah menggoda Aiden dan memaksanya meninggalkanmu, kau jangan sedih, biar Kakek yang menyelesaikan masalah ini."


Kakek Qin tidak akan membiarkan Aiden menggagalkan rencananya. Dia akan melakukan apa saja supaya pertunangan itu bisa terus berlanjut.


-


Langit cerah hari itu sewarna dengan birunya laut yang berkilau karena sinar sang mentari. Ada suara deburan ombak kecil yang memanjakan telinganya, dihadapan sepasang kekasih itu ada hamparan pasir yang sama berkilauan dengan laut.


Mereka duduk di sana, pasir pantai terasa lembab, namun ombak tak sampai ke kaki mereka.


Mata kecoklatan si pria memperhatikan sosok jelita yang sedang menikmati semilir angin pantai disampingnya, yang kini sedang asyik dengan hamparan laut luas didepan matanya.


Sudut bibir Aiden tertarik ke atas, pria itu tersenyum tipis. Aiden menarik tengkuk Cinta lalu mengecup singkat bibir ranum tipisnya, membuat gadis itu terkejut dan membelalakkan matanya.


"Kau sangat payah, Sayang." Ledek Aiden sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya.


Cinta mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan, itu karena aku tidak terlalu berpengalaman soal ciuman. Dan Kak Ai adalah pria pertama yang aku terima sebagai kekasihku." Ujar Cinta setengah menggerutu.


Aiden terkekeh geli. Sekali lagi dia menarik tengkuk Cinta dan kembali menyatukan bibir mereka, dan ciuman kali ini lebih panjang dan lebih menuntut dari ciuman mereka sebelumnya.


Beruntung pantai itu begitu sepi sehingga tidak ada orang lain yang menyaksikan apa yang mereka lakukan.


"Kak Ai, bagaimana dengan tunangan mu itu? Aku tidak mau disebut sebagai orang ketiga dalam hubungan kalian. Apalagi kalian sudah bertunangan."


"Masalah itu tidak perlu kau pikirkan, aku sudah memutuskan pertunangan ku dengan Allea. Jadi sudah tidak ada lagi yang perlu kau cemaskan."


Cinta menyandarkan kepalanya pada dada bidang Aiden yang tersembunyi dibalik kemeja dan Vest-nya. Merasakan betapa bidangnya dada pria ini. Sedangkan Aiden melingkarkan sebelah tangannya untuk memeluk Cinta.


Mereka sama-sama menunggu senja datang. Senja adalah salah satu fenomena langit yang paling indah dan selalu di nanti kehadirannya.


-

__ADS_1


Sudah setengah jam setelah makan malam usai. Meninggalkan sebuah ketegangan yang tercipta antar dua orang yang akhir-akhir ini memang selalu terlibat dalam perdebatan.


Suasana ruang makan masih belum berubah, tegang seperti saat dua orang berbeda usia itu mengeluarkan suaranya. Saling berteriak untuk menunjukkan siapa yang paling benar.


"Sudah kubilang, aku tidak akan menikah dengan wanita itu. Harus berapa kali aku mengatakannya, huh?!" Aiden tetap pada keputusannya untuk tidak menikah dengan wanita pilihan kakeknya.


Sejak awal Aiden sudah menolak tegas perjodohan tersebut. Tapi Kakek Qin tetap memaksakan kehendaknya dan melakukan pertunangan tanpa persetujuan dari Aiden. Bahkan pertunangan tersebut dilangsungkan tanpa kehadiran Aiden.


"Lalu apa mau mu? Membatalkan pertunangan dan mempermalukan keluarga kita?! Begitu kah? Apa memang ini yang kau inginkan sejak awal?!"


"Aku tidak akan melakukan apa yang bertentangan dengan hatiku, dan aku tidak peduli lagi dengan keluarga ini!! Aku sudah selesai!!"


"Apa karena Putri keluarga Su?!"


Langkah kaki Aiden terhenti. Dia mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga. Kemudian pria itu berbalik dan menatap dingin pria tua yang masih pada posisinya.


"Ini tidak ada hubungannya dengan dia, karena aku ingin membatalkan pertunangan itu jauh sebelum mengenal Cinta. Bukankah lebih baik dihentikan daripada menyakiti diri sendiri?! Ingat kata-kata yang selalu kau ucapkan itu padaku, Pak Tua!!"


Skakmat...


Kakek Qin langsung kehilangan kata-katanya setelah mendengar kalimat yang Aiden lontarkan.


Aiden menggunakan kata-katanya untuk membuatnya tersudut, apalah kakek Qin akan membiarkan Aiden berbuat sesuka hatinya? Maka jawabannya adalah tidak.


Kakek Qin akan menghalalkan segara cara supaya pertunangan tersebut tidak batal. Dia tidak akan mempermalukan dirinya juga keluarganya.


.


Aiden membuka pintu balkon kamarnya. Udara malam yang dingin langsung menyambutnya di sana. Langit malam ini terlihat lebih cerah dari malam-malam sebelumnya, bintang-bintang berkerlipan di atas sana memainkan sinarnya.


Ia memejamkan mata ketika angin malam menyapa permukaan kulit putihnya.


Kemeja yang dia pakai sedikit tersingkap di bagian bahunya, memperlihatkan singlet putih yang menjadi lapisan dalam kain berharga mahal tersebut. Yang terlihat karena tidak terkancing sepenuhnya.


Aiden mulai dihantui rasa cemas, Allea dan kakek Qin bisa menjadi penghalang terbesar hubungannya dengan Cinta. Belum lagi Steven yang sepertinya juga tidak tinggal diam, Aiden harus mengambil langkah paling tepat untuk mengatasi masalahnya ini.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2