
Cinta menghampiri Aiden sambil membawa secangkir kopi pahit yang baru saja dibuatkan oleh pelayan. Kepalanya terasa pening, bukan karena sakit, tapi karena ulah Kakek Qin, Steven dan Ibunya.
Aiden benar-benar tidak habis pikir dengan mereka bertiga. Tapi Aiden tidak merasa heran apalagi terkejut, karena memang begitulah mereka.
"Kak Ai, minum dulu kopinya." Ucap Cinta.
"Terimakasih, Sayang." Aiden menerima kopi itu dari tangan Cinta sambil tersenyum lebar.
"Aku benar-benar heran pada mereka bertiga. Bukankah kalian adalah keluarga, tapi kenapa mereka malah bersikap seperti itu. Mereka seperti para maniak yang gila harta." Tuturnya.
Aiden mengangguk. "Kedatangan mereka memang untuk itu. Steven dan pak tua itu sudah terbiasa hidup mewah, lalu tiba-tiba semua kemewahan itu hilang dalam sekejap mata. Wajar jika mereka tidak bisa menerimanya. Jika saja sikap mereka tidak seperti itu. Aku masih mau menampung di rumah ini." Tutur Aiden panjang lebar.
"Kalau menurutku sih memang lebih baik diusir keluar. Karena jika tetap di sini, pasti masih banyak hal buruk yang mungkin saja terjadi."
"Ternyata kita memiliki pemikiran yang sama, Sayang."
"Karena hati dan pikiran kita saling terkoneksi."
"Kemari lah, Sayang."
Aiden menarik lengan Cinta lalu menempatkan gadis itu di atas pangkuannya. Sebelah tangan Aiden melingkari pinggang Cinta, sementara gadis itu memeluk leher Aiden dengan kedua lengannya. Biner berbeda warna milik mereka saling menatap dan mengunci.
"Kak Ai, kenapa kau begitu tampan sih? Tidak, tidak, tidak, tapi kau juga terlihat cantik disaat yang berbeda. Sampai-sampai membuatku merasa iri dan gagal sebagai seorang perempuan."
"Apa yang kau bicarakan hm? Jelas-jelas kau ini sangat cantik,"
"Benarkah? Tapi aku tidak merasa begitu." Cinta mempoutkan bibirnya. "Lihat saja jidatku yang jenong dan tubuhku yang pendek, jadi cantik dari mana? Dibandingkan teman-temanku, aku yang paling pendek." Ujarnya.
"Justru jidatmu inilah yang menjadi daya tarik utama pada diri mu. Kau juga memiliki sepasang kaki yang sangat bagus dan jenjang. Jadi jangan merasa menyesal dengan apa yang kau miliki ini. Tuhan itu maha adil, dia menciptakan umatnya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing."
"Wow, Kak Ai, dari mana kau bisa mendapatkan kata-kata bijak seperti itu? Sangat amazing!!"
"Kenapa semakin hari kau semakin bawel saja, hm." Aiden meraih dagu Cinta lalu mengecup singkat bibir ranum tipisnya.
Tiba-tiba Cinta teringat sesuatu. Gadis itu menatap Aiden dengan serius. "Kak Ai, bukankah kita sudah menikah, lalu kapan kita bercocok tanamnya? Maksudku, malam pertama?"
__ADS_1
"Kenapa? Kau sudah ingin bercocok tanam? Tapi kau masih kuliah, bagaimana kalau kau sampai hamil?"
"Memangnya kenapa kalau aku hamil? Bukankah aku sudah memiliki suami?"
"Lalu bagaimana dengan cita-citamu? Bukankah kau ingin menjadi dokter?" Cinta mengangguk. "Sebaiknya kejar dulu cita-citamu dan wujudkan. Kau memiliki masa depan yang sangat cerah, Sayang. untuk itu aku tidak ingin merusak masa depanmu."
Cinta menggeleng. "Jika hanya melakukan saja, aku rasa sih tidak ada masalah. Kita hanya tidak perlu menjadikannya, beres kan."
"Apa kau yakin? Dan apakah kau benar-benar sudah siap?"
"Tentu saja sudah. Bahkan semua teman-temanku sudah kehilangan Virgin nya. Cuma aku saja yang belum. Mereka belum menikah tapi sudah berkali-kali melakukannya, sementara aku... Aku sudah bersuami tapi masih Virgin, bukankah itu tidak adil?"
Aiden mendengus geli. "Baiklah, malam ini kita Bercocok tanam. Dan karena kau sendiri yang memintanya, maka jangan harap aku akan berhenti meskipun kau memohon."
"Baiklah, aku mengerti." Cinta tersenyum lebar.
Aiden mendekatkan wajahnya, bibirnya bergerak menuju bibir Cinta lalu mengecupnya singkat. Mel*matnya, memagutnya dan menghisapnya.
Tak ingin kalah dari suaminya. Cinta mencoba mengambil alih ciuman tersebut dengan menghisap bibir Aiden dalam mulutnya. Namun ciuman mereka tidak berlangsung lama, Aiden mengakhirinya.
"Kak Ai, bagaimana kalau kita makan malamnya di rumah mama saja? Hanya tinggal melangkah dan tidak perlu naik mobil juga." Aiden mengangguk. "Terimakasih, kau memang yang terbaik. Aku semakin mencintaimu." Cinta mencium pipi Aiden dan meninggalkannya begitu saja.
Aiden mendengus geli. Pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan istrinya.
-
BRAK...
"MAMA!! KAMI DATANG!!"
Tiga orang yang baru saja berkumpul di meja makan nyaris saja terkena serangan jantung dadakan karena ulah Cinta. Gadis itu membanting pintu rumah dengan keras, sehingga menimbulkan dentuman yang mampu membuat siapapun terkena serangan jantung.
"Yakk!! Gadis Bar-Bar, apa kau sengaja ingin membuat kami semua terkena serangan jantung hah!!" Omel Cris marah. Cris mengusap dadanya naik-turun. Dia benar-benar terkejut setengah mati.
"Mama dan Kak Carell saja tidak terkejut, kau nya saja yang memang dasarnya lemah!!!"
__ADS_1
"Yakk!! Menyebalkan!!"
Carell dan Gita hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua. Cinta dan Cris adalah sepasang anak kembar, tapi mereka tidak pernah bisa akur jika disatukan, ada saja hal yang mereka ributkan.
"Jangan terkejut, mereka memang seperti itu." Ucap Carell pada Aiden.
"Bukankah hal itu justru membuat mereka terlihat unik." Pria itu tersenyum, Carell mengangguk.
Dan akhirnya Gita pun turun tangan untuk memisahkan mereka berdua. Karena jika dilanjutkan, perdebatan mereka tidak akan selesai sampai besok pagi.
Dan selanjutnya hanya terdengar suara sendok dan piring yang memecah dalam keheningan. Mereka melewati makan malamnya dengan tenang.
-
Steven hanya bisa terbaring lemah dengan perban membalut di sana-sini. Banyaknya perban menandakan seberapa parah luka yang dia dapatkan.
"Sebaiknya kau makan dulu. Perutmu belum terisi apapun." Ucap seorang wanita yang saat ini duduk disamping Steven berbaring.
"Letakkan saja di meja, Ma. Aku masih belum lapar." Ucapnya.
"Berhenti bersikap keras kepala, kau harus sembuh. Karena jika kau tidak cepat sembuh, lalu siapa yang akan memberi pamanmu dan istrinya itu pelajaran?! Lihatlah apa yang perempuan itu perbuat padamu. Jarimu sampai mengalami patah tulang. Untuk itu kau harus bangkit dan balas dendam."
"Tidak perlu Mama ingatkan lagi, aku pasti akan melakukannya!!" Jawab Steven dingin.
Vina mendesah berat. Bicara dengan Steven terkadang memang membutuhkan kesabaran ekstra. Bagaimana tidak, putranya itu sering kali membuatnya darah tinggi.
"Mama keluar dulu."
Selepas kepergian Vina, di dalam ruangan itu hanya menyisakan Steven sendiri. Pemuda itu menutup matanya dan mencoba mengingat semua tentang Cinta.
Begitu banyak memori dan kenangan yang berputar di kepalanya. Dulu Cinta begitu menyukainya, bahkan dia mengejarnya sejak masih kecil. Tapi sekarang semua berubah. Cinta tidak lagi menyukainya, tapi justru membencinya.
Steven tidak menyalahkan Cinta. Karena memang dirinyalah yang bodoh. Jika saja dia tidak gengsi, mungkin sejak dulu Cinta sudah menjadi miliknya. Dan apakah semuanya masih bisa diperbaiki? Steven tidak ingin terlalu berharap.
-
__ADS_1
Bersambung.